Singapura Perketat Kebijakan Moneter, Respons Lonjakan Krisis Energi Global

katadata.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

Singapura menjadi negara pertama di Asia yang memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Dilansir Dari Bloomberg, Otoritas Moneter Singapura (MAS) pada Selasa (14/4) mengumumkan penyesuaian kebijakan dengan meningkatkan kemiringan (slope) pita nilai tukar, yang merupakan instrumen utama kebijakan mereka. Namun, lebar pita dan titik tengahnya tetap dipertahankan.

Dalam pernyataannya, bank sentral menegaskan tekanan inflasi mulai terasa dari kenaikan biaya energi impor. “Biaya energi impor Singapura sudah meningkat,” tulis MAS.

Mereka juga memperingatkan harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi meskipun pasokan dari Timur Tengah kembali normal. “Seiring biaya energi yang lebih tinggi merambat melalui rantai pasok global, berbagai biaya impor Singapura juga akan meningkat.”

Langkah ini menempatkan Singapura sebagai pelopor di kawasan, sedangkan negara-negara Asia lainnya masih memilih menahan kebijakan sambil mengevaluasi dampak konflik terhadap ekonomi masing-masing.

Bank sentral di India dan Korea Selatan, misalnya, belum mengubah suku bunga mereka, sementara Indonesia, Filipina, dan Thailand juga diperkirakan akan mengambil sikap serupa dalam waktu dekat.

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan ekonomi Singapura mengalami kontraksi secara kuartalan. Produk domestik bruto (PDB) menyusut 0,3% pada kuartal pertama dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama akibat penurunan tajam di sektor manufaktur yang terkontraksi 4,9%.

Meski demikian, secara tahunan ekonomi masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 4,6%. Pemerintah tetap optimistis, meskipun mengakui adanya risiko ke depan.

MAS memperingatkan bahwa tekanan inflasi kemungkinan akan terus berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang. Selain itu, gangguan pasokan energi yang berkepanjangan dapat memperburuk kondisi global.

“Gangguan yang lebih persisten terhadap pasokan energi akan memperparah tekanan inflasi global sekaligus memperdalam perlambatan pertumbuhan,” demikian pernyataan tersebut.

Pengamat ekonomi melihat kemungkinan langkah lanjutan dari otoritas moneter. Chua Hak Bin dari Maybank menyebut peluang pengetatan tambahan masih terbuka.

“MAS tampaknya membuka peluang untuk langkah lanjutan pada pertemuan Juli, tergantung pada perkembangan inflasi dan pertumbuhan. Kami melihat perang Iran akan berdampak lebih besar pada inflasi dibandingkan pertumbuhan,” katanya.

Selain itu, MAS juga menegaskan kesiapan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. “Kami siap mengendalikan volatilitas berlebihan pada S$NEER,” kata bank sentral.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Akui Oknum Polisi Terseret Kasus Pabrik Pil Jin di Semarang
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Britney Spears Masuk Rehabilitasi Setelah Insiden Berkendara Sambil Mabuk
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
KPK Ungkap Uang dari Yaqut Sudah di Tangan Perantara Pansus Haji DPR, tetapi Belum Dibagikan
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Waspada! Potensi Hujan hingga Akhir April di Tengah Penguatan Monsun Australia
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Dukung Pertumbuhan Enterprise Brand di Tengah Lanskap E-Commerce Indonesia, Ini yang dilakukan SIRCLO
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.