Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan lonjakan ekspor furnitur nasional hingga mencapai US$6 miliar dalam lima tahun ke depan.
Target tersebut hampir dua kali lipat dari posisi saat ini yang berada di kisaran US$3 miliar.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menilai optimisme tersebut berangkat dari besarnya potensi pasar global yang hingga kini belum tergarap maksimal oleh Indonesia.
Menurutnya, nilai pasar furnitur dunia mencapai sekitar US$700 miliar, sementara kontribusi Indonesia masih sangat kecil.
“Target US$6 miliar itu sebenarnya baru sekitar 1% dari pasar dunia. Artinya ruang kita untuk tumbuh masih sangat besar,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia memang mengalami fluktuasi.
Baca Juga
- Tarif Trump Dianulir, Pengusaha Mebel Tetap Ekspor dan Beli Bahan Baku dari AS
- Tarif Trump Dibatalkan MA AS, Pengusaha Mebel RI Singgung soal Ketidakpastian
- RI-AS Sepakati Kerja Sama Dagang, Pengusaha Mebel Berharap Tarif Sektoral Turun
Setelah sempat mencapai sekitar US$3,5 miliar pada 2021, nilainya kini berada di kisaran US$2,9 miliar hingga US$3,2 miliar.
Di kawasan Asia, posisi Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan Vietnam yang telah mencatatkan ekspor furnitur hingga sekitar US$17 miliar.
Meski demikian, Sobur melihat kesenjangan tersebut bukan semata kelemahan, melainkan peluang yang bisa dikejar.
Ia menilai perbedaan kinerja antarnegara lebih banyak dipengaruhi oleh efisiensi industri secara keseluruhan, bukan hanya kualitas produk.
“Vietnam kuat di industrialisasi dan efisiensi. Kita unggul di kreativitas. Tapi kreativitas saja tidak cukup kalau tidak didukung logistik yang efisien dan regulasi yang kondusif,” jelasnya.
Untuk mencapai target ekspor tersebut, industri furnitur nasional perlu tumbuh di atas 10% per tahun, bahkan idealnya sekitar 12%.
Sobur menilai angka tersebut masih realistis, mengingat industri ini pernah mencatat lonjakan pertumbuhan hingga 30% pada masa pandemi akibat tingginya permintaan global.
“Artinya kita pernah mencapai itu. Tinggal bagaimana kita membangun momentum itu secara konsisten,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya percepatan, HIMKI kini mendorong perubahan pendekatan dalam strategi pemasaran global.
Jika sebelumnya pelaku usaha cenderung menunggu pembeli datang melalui pameran, kini HIMKI mulai mengarah pada strategi jemput bola dengan membangun hub di berbagai kawasan strategis.
Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama, namun ekspansi juga diarahkan ke kawasan Timur Tengah serta Asia, dengan Singapura sebagai salah satu pintu masuk regional.
Melalui pendekatan ini, HIMKI ingin mendekatkan produk anggotanya langsung ke pasar dan konsumen global.
“Selama ini kita menunggu buyer datang. Sekarang kita yang mendekati pasar,” ujar Sobur.
Hub tersebut dirancang sebagai pusat informasi dan transaksi yang menghubungkan ribuan anggota HIMKI dengan calon pembeli, baik secara digital maupun melalui interaksi langsung.
Pendekatan ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus mempercepat transaksi ekspor.
Di tengah peluang tersebut, tantangan tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Salah satu yang paling terasa saat ini adalah meningkatnya biaya logistik akibat dinamika global, termasuk konflik geopolitik di beberapa kawasan.
Kondisi ini membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspor.
“Kalau biaya logistik tidak masuk akal, eksportir bisa menahan pengiriman. Itu yang mulai terjadi di beberapa pasar,” jelasnya.
Di dalam negeri, kompleksitas regulasi juga masih menjadi pekerjaan rumah.
HIMKI menilai sejumlah aturan yang ada belum sepenuhnya mendukung percepatan ekspor dan daya saing industri.
“Kita butuh regulasi yang mempercepat, bukan menghambat. Yang tidak perlu, sebaiknya dihilangkan,” tegas Sobur.
Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, industri furnitur dinilai memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional.
Selain menyumbang devisa, sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dalam satu dekade terakhir, ekosistem industri furnitur dan kerajinan disebut mampu menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja.
Selain itu, industri ini juga memiliki karakter berkelanjutan karena berbasis pada sumber daya terbarukan, seperti kayu dari hutan rakyat, sehingga memberikan nilai tambah dari hulu hingga hilir.
“Ini industri yang punya nilai tambah tinggi dan berkelanjutan,” ujar Sobur.
Ke depan, HIMKI mendorong transformasi industri melalui penguatan industrialisasi tanpa meninggalkan keunggulan desain dan kreativitas yang selama ini menjadi ciri khas produk Indonesia. Kombinasi antara efisiensi produksi dan kekuatan desain dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
“Kalau kita bisa menggabungkan industrialisasi dengan kekuatan desain, kita bisa bersaing jauh lebih kuat,” pungkasnya.





