JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia menyampaikan pandangannya mengenai kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menghadapi potensi kenaikan harga minyak dunia imbas perang Iran dan Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, APBN Indonesia akan kuat sampai akhir tahun 2026 nanti jika fleksibel dan adaptif.
Telisa mengatakan, upaya efisiensi berupa transformasi budaya kerja dan penerimaan pajak dari masyarakat diharapkan bisa menutup defisit keuangan negara.
"Harapannya penerimaan pajak di April yang dari masyarakat dan dari perusahaan itu juga bisa menutupi defisit kita agar tidak melebihi dari 3 persen," katanya dalam program Kompas Malam KompasTV, Selasa (14/4/2026).
Telisa mengatakan, laporan dari pendapatan pajak pada April nanti bisa menunjukkan kekuatan APBN Indonesia seperti apa.
Jika pendapatan dari pajak baik, ditambah efisiensi dan fleksibilitas pos-pos anggaran, kata dia, seharusnya bisa menutupi defisit APBN.
Baca Juga: Harga Avtur Naik, APBN Tanggung Selisih Biaya Haji Senilai Rp 1,77 Triliun
Telisa menilai, opsi kenaikan harga BBM nonsubsidi harus dibuka, terutama jika perang AS dan Iran berkepanjangan.
"Kenaikan harga, menurut saya, untuk BBM nonsubsidi, memang jangan di-close ya (ditutup). Justru harus di-open (dibuka). Kemungkinan itu tetap ada, tapi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Jadi kita cari win-win-nya seperti itu untuk yang nonsubsidi," jelasnya.
Selain penyesuaian harga, menurutnya pemerintah juga harus mencari sumber minyak alternatif, tidak hanya dari negara lain atau impor, tetapi juga diversifikasi dari sumber daya domestik, terutama energi terbarukan.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- ekonom
- harga minyak
- minyak
- bbm
- perang iran
- apbn





