Artificial intelligence atau kecerdasan buatan adalah sebuah teknologi yang memungkinkan komputer atau mesin meniru kemampuan berpikir manusia. Jadi, mesin di sini tidak Cuma hanya menjalankan perintah, tapi bisa juga belajar, memahami, dan mengambil keputusan berdasarkan data yang sudah ada.
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa AI semakin hari semakin berkembang pesat, semua orang bisa mengakses kecerdasan buatan itu untuk membantu kehidupannya sehari hari dimulai dari membantu mengambil keputusan, mengerjakan pekerjaan kita, bahkan AI juga bisa mengerti perasaan kita. AI ini sangat membantu semua orang untuk mempermudah aktivitasnya, pertanyaan apakah hal seperti ini baik untuk keberlangsungan kita ke depannya?
Di sisi yang lain, ketergantungan yang berlebihan terhadap AI juga dapat berdampak negatif, terutama mahasiswa yang mungkin sehari harinya menggantungkan diri kepada AI untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Karena kemudahan – kemudahan yang ditawarkan oleh AI berpotensi membuat nalar mahasiswa menjadi lemah sehingga mereka tidak terbiasa untuk berpikir kritis lagi karena terbiasa menerima suatu jawaban yang sangat instan tanpa melakukan proses analisis yang mendalam. Fenomena seperti ini dapat mengikis sedikit demi sedikit kemampuan nalar, kreativitas, serta kemandirian untuk bisa menyelesaikan segala permasalahan yang mereka alami.
Lebih jauh lagi, keterbiasaan untuk menggantungkan diri pada AI juga akan membentuk mentalitas yang instan, di mana mahasiswa akan lebih cenderung menghindari segala proses yang sulit dan menantang karena terbiasa dengan sesuatu yang mudah dan instan. Padahal, justru dengan proses mengerjakan sesuatu yang sulit dan rumit itulah kemampuan intelektual seorang mahasiswa akan jauh lebih berkembang. Mahasiswa yang terbiasa oleh kemudahan ini akan mengalami banyak kesulitan ketika dihadapkan pada situasi yang nyata yang di mana menuntutnya untuk berpikir mendalam tanpa menggunakan bantuan teknologi.
Ironisnya, hal seperti ini tidak hanya berdampak pada individu mahasiswa saja, tetapi fenomena seperti ini juga akan berpotensi menurunkan kualitas dunia akademik secara keseluruhan. Ketika lebih banyak mahasiswa yang mengandalkan AI daripada menggunakan nalarnya sendiri untuk berpikir, maka hasil karya ilmiah yang mereka hasilkan itu akan menjadi dangkal, kurang orisinal, hal semacam ini akan menciptakan sebuah generasi yang di mana generasi itu tampak “pintar” secara hasil, tetapi sangat lemah dalam pemahaman.
Yang lebih mengkhawatirkannya lagi, jika kebiasaan ini terus menerus dilakukan maka mahasiswa itu akan kehilangan jati dirinya sebagai insan akademik yang seharusnya kritis, kreatif, dan solutif. Alih alih akan menjadi agen perubahan, mahasiswa yang terus mengandalkan AI hanya akan menjadi generasi yang pasif, bergantung, dan kurang mampu menghadapi kompleksitas permasalahan yang nyata di masyarakat.
Hal seperti ini akan menunjukkan adanya pergeseran paradigma belajar di kalangan mahasiswa. Proses yang dahulu menekankan pada pencaharian, perenungan, dan pemahaman kini mulai bergeser dan tergantikan oleh kecepatan dan kepraktisan. Mahasiswa sekarang juga tidak akan terbiasa beradu gagasan, mempertanyakan suatu konsep, atau menyusun argumen dengan isi pemikiran mandiri. Padahal, justru dalam proses itulah nalar dibentuk dan diuji untuk bisa menyelesaikan suatu permasalahan.
Oleh karena itu mahasiswa harus mulai membangun sikap kritis dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan AI dengan hanya menjadikannya sebagai alat bantu semata, bukan menjadikannya prioritas untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah. Proses berpikir, menganalisa, dan memahami suatu masalah tetap harus menjadi prioritas utama dalam belajar. Selain itu, dosen dan institusi pendidikan juga perlu berperan aktif dengan mengarahkan penggunaan AI secara bijak, misalnya dengan merancang tugas yang mendorong originalitas dan pemikiran lebih mendalam, dan proses analisa yang lebih kritis, bukan sekadar peduli terhadap hasil akhir mahasiwa.





