Ternyata Ini Alasan Kaviar Bisa Mahal

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Kaviar mungkin terdengar familiar di telinga, tetapi tidak semua orang pernah mencicipi telur ikan berwarna hitam ini. Ya, sejak lama, kaviar memang identik dengan makanan premium yang sering dikaitkan dengan gaya hidup mewah.

Tak jarang, hidangan ini muncul dalam konten kuliner para kreator, termasuk Sisca Kohl yang kerap membagikan pengalaman menyantap makan-makanan mewah. Di e-commerce, kaviar pun dijual dengan harga beragam, bahkan bisa mencapai Rp 2 juta untuk 25 gram.

Harga tersebut tentu membuat banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang membuat kaviar begitu mahal?

Dikutip dari The Take Out, kaviar pada dasarnya adalah telur ikan sturgeon yang diawetkan dengan garam. Ikan ini tergolong spesies purba yang tumbuh sangat lambat. Untuk bisa menghasilkan telur saja, seekor sturgeon membutuhkan waktu hingga sekitar 10 tahun, dan itu pun dengan catatan kondisi lingkungan benar-benar ideal. Artinya, proses untuk mendapatkan kaviar bukan sesuatu yang cepat atau sederhana.

Tidak seperti telur ikan lainnya, kaviar asli hanya berasal dari jenis sturgeon tertentu. Hal ini otomatis membatasi pasokan di pasaran. Ditambah lagi, budidaya dan perdagangan ikan ini diatur secara ketat, sementara proses pengolahan telurnya harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga kualitas.

Mengutip dari laman The Caviar Bar UK, kelangkaan juga menjadi faktor penting. Populasi sturgeon di alam liar terus menurun akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Beberapa spesies bahkan berada di ambang kepunahan.

Salah satu yang paling terdampak adalah sturgeon Beluga (Huso huso), yang dikenal menghasilkan kaviar berkualitas tinggi. Karena statusnya yang sangat terancam, Amerika Serikat bahkan melarang impor kaviar Beluga sejak 2005. Tak heran jika jenis ini menjadi salah satu yang paling langka sekaligus paling mahal di dunia.

Di tengah kondisi tersebut, produsen kaviar kini banyak beralih ke sistem budidaya berkelanjutan atau akuakultur. Ikan sturgeon dibesarkan dalam lingkungan terkontrol untuk menjaga kelestarian populasi liar. Meski langkah ini lebih ramah lingkungan, biaya produksi yang dibutuhkan justru semakin besar.

Selain itu, lamanya siklus hidup sturgeon juga berpengaruh besar terhadap harga. Beberapa jenis seperti Baerii bisa mulai menghasilkan telur pada usia 6 hingga 8 tahun. Sementara itu, Oscietra dan Imperial biasanya dipanen saat ikan berusia 8 hingga 12 tahun. Yang paling lama adalah Beluga, yang membutuhkan waktu hingga 18-20 tahun untuk mencapai kematangan penuh. Waktu pemeliharaan yang panjang ini tentu menjadi investasi besar bagi produsen.

Proses panennya pun tidak kalah rumit. Mengambil telur sturgeon membutuhkan ketelitian tinggi agar kualitas tetap terjaga. Setelah dipanen, telur harus melalui serangkaian proses seperti penyaringan, pencucian, pemberian garam, hingga pengemasan. Setiap tahap dilakukan dengan hati-hati karena kesalahan kecil saja bisa merusak seluruh hasil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bitcoin Naik 6%, Indodax: Rally Dipicu Geopolitik dan Lonjakan Permintaan
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Trump Kembali Senggol Paus Leo, Bilang Iran Tak Boleh Punya Bom Nuklir
• 10 jam laludetik.com
thumb
Tak Lagi Milik Malaysia, 127,3 Hektare Wilayah Pulau Sebatik Kini Punya Indonesia
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Revisi HPM Berlaku Hari Ini, Harga Bijih Nikel Diproyeksi Melonjak
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Cari Kerja di Depok? Walk-In Interview Disnaker Hadirkan Banyak Posisi Menarik
• 2 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.