Warga Jakarta pasti mengenal Jalan Layang atau Simpang Susun Semanggi. Selain karena bentuknya yang unik, jalan layang ini juga menjadi penanda Jakarta. Tahun ini, Simpang Susun Semanggi telah berusia sepuluh tahun sejak diresmikan.
Tanggal 8 April 2016 menjadi babak baru bagi Jalan Layang Semanggi. Di hari itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan dimulainya pembangunan Simpang Susun Semanggi di jalan protokol Jenderal Sudirman, Jakarta. Basuki yang mengenakan batik saat peletakan batu pertama itu berpidato dengan latar belakang monitor yang menampilkan wajah baru Simpang Susun Semanggi. Simpang susun dibangun untuk melengkapi infrastruktur yang telah ada dan tetap mempertahankan filosofi awal, yaitu berbentuk daun Semanggi.
Peresmian proyek tersebut diwarnai dengan pengoperasian alat berat oleh Gubernur DKI Jakarta. ”Jembatan ini setidaknya mengurangi kepadatan 30 persen. Minimal orang dari Bandara Soekarno-Hatta tidak lagi terjebak kepadatan sampai Grogol. Dengan simpang ini, tidak ada lagi pelambatan karena kepentingan belok-belok di kawasan ini,” kata Basuki seusai acara pengeboran pertama itu.
Sumber dana pembangunan Simpang Susun Semanggi tidak menggunakan APBD DKI Jakarta, tetapi diambil dari kompensasi koefisien lantai bangunan PT Mitra Panca Persada. Dana total dari kompensasi itu sebesar Rp 579 miliar sedangkan nilai proyek Simpang Susun Semanggi berupa jembatan layang melengkung menelan biaya Rp 360 miliar.
Sisanya sebesar Rp 219 miliar dimanfaatkan Pemprov DKI Jakarta untuk membangun fasilitas bagi pejalan kaki di sejumlah rute. Perluasan jembatan Semanggi dilakukan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang selama ini masih terjadi di beberapa titik di empat lengkung Semanggi.
Dua jalur penghubung (ramp) dibangun mengelilingi empat lengkungan Semanggi yang telah ada dan melayang di atas jalan tol dalam kota dan Jalan Jenderal Sudirman. Satu ruas untuk kendaraan dari arah Cawang menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan ruas lainnya untuk kendaraan dari arah Slipi menuju kawasan Blok M.
Pembangunan Simpang Susun Semanggi tidak hanya memikirkan konstruksi jalan, tetapi juga dari segi estetika mengingat Semanggi sebagai salah satu ikon penting Kota Jakarta. Untuk itu, pembangunannya juga melibatkan tim lighting PT Mandala Putera Prima, mitra PT Wijaya Karya yang akan mempercantik Simpang Susun Semanggi dengan permainan cahaya di waktu malam hari.
Dani Widiatmoko, Manajer Proyek Pengembangan Simpang Susun Semanggi dari PT Wijaya Karya, Selasa (1/8/2017), menjelaskan, saat pembangunan sudah dipikirkan tata cahaya di Simpang Susun Semanggi. Hal tersebut perlu dipersiapkan karena simpang susun yang terdiri atas dua ruas melengkung di atas simpang lama yang berbentuk daun semanggi bakal menjadi ikon baru Jakarta selain Monas. Tata cahaya simpang susun diatur dengan kendali jarak jauh dari ruang server yang disiapkan.
Meskipun telah diberlakukan rekayasa lalu lintas dengan penutupan empat jalur cepat di Semanggi, tetap saja proyek pembangunan Simpang Susun Semanggi menimbulkan kemacetan parah. Hal ini karena proyek tersebut berbarengan dengan proyek kereta massal cepat (MRT) yang masih berlangsung di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin yang beririsan dengan Jalan Gatot Subroto di Simpang Susun Semanggi.
Basuki mengatakan, dirinya tak mempunyai pilihan lain. Dia pun meminta warga bersabar karena infrastruktur ini dibangun untuk meningkatkan kapasitas jalan serta angkutan umum massal. ”Lebih baik sakit (macet) sementara, tetapi ada harapan sembuh daripada sakit dan dibiarkan tambah parah,” ujarnya.
Terlebih lagi proyek Simpang Susun Semanggi dan MRT dipersiapkan untuk menunjang pesta olahraga Asian Games XVIII pada Agustus 2018.
Pembangunan Simpang Susun Semanggi dikerjakan dalam waktu 540 hari kalender dengan rincian 60 hari perencanaan dan 480 hari pengerjaan fisik oleh kontraktor PT Wijaya Karya (Wika) Tbk.
Presiden Joko Widodo meresmikan Simpang Susun Semanggi pada 17 Agustus 2017. Bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Ke-72 RI. Sebuah kado istimewa bagi warga Jakarta. Presiden Jokowi mengapresiasi pembangunan jalan di salah satu simpul kemacetan Ibu Kota itu.
”Simpang susun ini bukan hanya di jantung ibu kota Jakarta, melainkan juga di negara. Keramaian paling padat juga ada di Semanggi. Saya sangat menghargai kecepatan pembangunannya. Cepat sekali, satu tahun,” ujar Presiden Jokowi seusai menekan bel sirene tanda peresmian yang membuka tirai penutup nama ”Simpang Susun Semanggi”.
Kamis malam itu, turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat. Seusai peresmian, Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, mampir di lokasi sekitar lima menit. Sambil tersenyum, ia menyalami Presiden Jokowi, Djarot, dan Basuki.
Pembangunan Jembatan Semanggi diprakarsai oleh Presiden pertama RI, Sukarno, yang dibangun pada 1961-1962 oleh Menteri Pekerjaan Umum Ir Sutami. Saat itu, pembangunan Jembatan Semanggi dilakukan bersamaan dengan pembangunan sejumlah infrastruktur penunjang perhelatan Asian Games 1962, seperti Gelora Senayan dan Hotel Indonesia.
Pada tahun 1988, Jembatan Semanggi dibongkar untuk diperluas karena dibangun jalan tol dalam kota. Perluasan itu berlangsung selama satu tahun.
Metamorfosis Jembatan Semanggi menjadi Simpang Susun Semanggi menjadi bagian dari perjalanan Jakarta menjawab tantangan perkembangan lalu lintas kota sesuai zamannya.





