JAKARTA, DISWAY.ID - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak ormas Islam memperkuat ukhuwah serta kepedulian terhadap lingkungan melalui konsep ekoteologi dalam momentum Silaturahmi Nasional dan Halal Bihalal Idul Fitri Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan tradisi halal bihalal tidak sekadar menjadi kebiasaan pasca-Idul Fitri, melainkan ruang untuk memperbaiki hubungan antarsesama dan membersihkan hati dari berbagai prasangka.
“Halal bihalal adalah cara kita meluruskan kembali hubungan, menghalalkan yang sempat tersimpan di hati, serta merawat keikhlasan dan kerendahan hati,” ujar Nasaruddin Umar di Jakarta, Rabu, 15 April 2026.
BACA JUGA:Cegah Praktik Transaksional, Wamenag Romo Syafi'i Pastikan Kawal Proses Pengangkatan Pejabat Ditjen Pesantren
Ia menekankan pentingnya memperluas makna ukhuwah, tidak hanya dalam konteks ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah, tetapi juga ukhuwah makhlukiyah yang mencakup hubungan manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan, termasuk alam semesta.
Menurut dia, kesadaran tersebut menjadi dasar penting dalam membangun ekoteologi, yakni keselarasan antara manusia sebagai khalifah dengan alam sebagai sesama makhluk Allah.
“Tidak mungkin kita menjadi khalifah yang berhasil tanpa dukungan alam semesta yang kondusif,” katanya.
BACA JUGA:Menag Apresiasi Peran Mathla’ul Anwar di Muktamar XXI, Tekankan Persatuan Bangsa
Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menyampaikan apresiasi kepada MUI dan seluruh ormas Islam atas kontribusinya sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini dalam menjaga ketahanan sosial bangsa.
Ia menyebut ormas Islam dan para ulama memiliki peran strategis sebagai penyejuk masyarakat, pemberi arah, sekaligus penggerak solusi dalam berbagai situasi, termasuk di masa-masa sulit.
“Kontribusi ini mungkin tidak selalu tercatat dalam statistik, tetapi jejaknya nyata dalam ketahanan sosial bangsa,” ujarnya.
BACA JUGA:Kemenag Beri Penghargaan 5 Kanwil Berprestasi pada SPAN-PTKIN Awards 2026, Ini Kategorinya
Organisasi keagamaan, kata dia, memiliki kekuatan khas karena kedekatannya dengan masyarakat hingga ke lapisan terbawah.
Peran tersebut mencakup dakwah, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial, bahkan sampai ke tingkat global.
Dalam konteks tantangan global saat ini, seperti disrupsi informasi dan dinamika geopolitik, Nasaruddin menilai peran MUI semakin penting sebagai penuntun arah, penjaga keseimbangan, dan rujukan umat di tengah perbedaan.
- 1
- 2
- »





