JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kerasnya kehidupan di Jakarta, bantuan sosial seharusnya menjadi penopang.
Namun di lapangan, muncul kebiasaan baru di kalangan warga yakni menggunakan jasa joki bansos.
Praktik ini tumbuh perlahan, berangkat dari kebutuhan, lalu menjadi rutinitas.
Berawal dari tolong-menolong
Refa (bukan nama sebenarnya, 35), warga Jakarta Selatan, mengaku awalnya hanya membantu tetangga untuk mengambilkan bansos.
Baca juga: Joki Bansos dan Celah yang Terbuka, Bantuan Sosial Tak Lagi Utuh
“Sering bantuin orang mengambil bansos seperti lansia, disabilitas, Kartu Anak Jakarta, Kartu Jakarta Pintar (KJP),” ujar Refa ketika diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).
Bagi penerima bansos, proses pengambilan tidak selalu mudah.
Untuk menebus pangan bersubsidi, warga harus mendaftar online, mendapatkan barcode, lalu mengantre berjam-jam.
Kondisi ini membuat sebagian warga memilih menggunakan jasa joki, bahkan menjadi kebiasaan.
Dalam sehari, Refa bisa membantu sekitar lima orang. Dalam sebulan, jumlahnya bisa mencapai puluhan penerima.
Dengan tarif Rp 40.000 per kartu, penghasilannya bisa mencapai jutaan rupiah.
Baca juga: Joki Bansos Tumbuh di Celah Sistem Distribusi
“Enggak menentu (total yang diminta mengambilkan bansos), kadang 60 KJP, kadang bisa lebih tergantung dari barcode,” katanya.
Bantuan atau jasa
Di sisi lain, Yuni (49) juga membantu mengambil bansos, namun tanpa tarif pasti.
Penghasilannya sekitar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per bulan.
“Saya enggak menentukan tarifnya, seikhlasnya aja, yang penting dia ridho ngasih rezeki saya buat anak saya,” ujarnya.