Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyiapkan anggaran sebesar Rp7,7 miliar atau meningkat lebih dari 200 persen dibanding sebelumnya untuk insentif penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Supangat Wakil Rektor II Untag Surabaya mengatakan, langlah itu ditempuh untuk mempercepat peningkatan kualitas akademik kampus.
“Kalau kita bicara investasi riset, nilainya sekarang Rp7,7 miliar. Ini naik lebih dari 200 persen, bahkan hampir tiga kali lipat dari sebelumnya. Ini bentuk dorongan agar dosen semakin produktif,” ucapnya, Rabu (15/4/2026).
Pihaknya ingin, dengan insentif tersebut para dosen lebih aktif menghasilkan penelitian dan pengabdian yang berdampak. Menurutnya, langkah itu juga menjadi solusi atas berbagai hambatan yang selama ini dihadapi para akademisi.
Kebijakan itu, kata dia, bukan sekadar penyampaian Surat Keputusan Rektor terbaru tahun 2026, tetapi menjadi bagian dari strategi akselerasi dan keunggulan kampus.
“Kalau ingin perguruan tinggi cepat berakselerasi, maka yang harus dibangun adalah komitmen dan kolaborasi. Sementara keunggulan berarti kampus diarahkan pada sesuatu yang bermakna,” katanya.
Supangat menambahkan, peningkatan insentif itu juga sejalan dengan target Rektor Untag Surabaya yang ingin membawa kampus menuju World Class University (WCU). Tahap awal, Untag akan memperkuat posisi di tingkat Asia sebelum melangkah lebih jauh ke level global.
“Target kita mengarah ke ranah internasional. Secara nasional kita merasa sudah siap, sekarang tahapannya menata di tingkat Asia dulu,” ucapnya.
Sementara itu, Slamet Riyadi Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya mengatakan peningkatan dana tersebut harus diiringi kenaikan capaian penelitian dan pengabdian dosen.
“Dana naik tiga kali lipat, maka konsekuensinya penelitian dan pengabdian minimal juga harus berirama tiga kali lipat dari capaian saat ini. Tantangannya berat, tapi kami optimistis bisa,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan utama saat ini adalah membangkitkan minat dosen untuk aktif meneliti dan mengabdi. Karena itu, LPPM terus memberikan stimulus melalui berbagai program pendampingan.
Salah satunya melalui klinik proposal, yakni pelatihan penyusunan proposal hingga proses pengajuan hibah penelitian. Program ini terutama menyasar program studi yang masih membutuhkan peningkatan akreditasi.
“Prodi yang belum unggul memang menjadi tantangan kami, tetapi semuanya tetap kami perlakukan sama. Yang dosennya masih baru biasanya butuh motivasi lebih tinggi, maka kami dampingi lewat klinik proposal,” pungkasnya.(ris/ipg)




