Pengusaha Tekstil Waswas Banjir Produk China Kian Deras saat Harga Bahan Baku Naik

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mulai mewaspadai potensi lonjakan impor produk jadi, khususnya dari China, di tengah kenaikan tajam harga bahan baku yang menekan daya saing produksi dalam negeri.

Direktur Eksekutif API Danang Girindrawardana mengatakan lonjakan harga bahan baku tekstil sudah mencapai 30%—40% dan menjadi tantangan besar bagi industri.

Danang menuturkan, kenaikan harga bahan baku berpotensi memicu lonjakan impor produk tekstil dari China, seiring meningkatnya biaya produksi dalam negeri. Dia menilai kondisi tersebut membuat produk lokal semakin kurang kompetitif dan berbahaya bagi keberlangsungan industri tekstil nasional.

“Yang kami khawatirkan justru luberan impor semakin menjadi-jadi. Jadi bukan masalah konsumen akan lebih mahal, tapi justru konsumen akan mencari bahan yang lebih murah, tidak melihat dari mana itu berangkat,” kata Danang saat ditemui di sela-sela Pameran Indo Intertex di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026).

Bahkan, dia juga mengkhawatirkan kebijakan pengendalian impor yang berisiko tidak efektif jika barang tekstil dan garmen masuk secara ilegal.

“Kita harus mengakui bahwa kompetitif indeks produk-produk tekstil dan garmen untuk domestik, kita masih kalah dengan produk-produk China yang masuk ke Indonesia. Mereka bisa dari China ke Indonesia, sampai ke Indonesia dengan harga yang kurang lebih separuh sampai tiga per empat, lebih murah dari produksi kita. Itu berbahaya,” ujarnya.

Baca Juga

  • API Pede RI Masih Bisa Jadi Pemain Utama Industri Tekstil dan Garmen Dunia
  • Tekanan PHK Berkurang, Pengusaha Tekstil Justru Sulit Cari Pekerja
  • BPJPH Klaim Indiustri Tekstil Berpotensi Naik 8x Lipat Berkat Sertifikasi Halal

Lebih lanjut, dia menyampaikan kenaikan harga bahan baku terjadi pada berbagai komponen kimia seperti mono ethylene glycol (MEG) dan bahan turunan minyak lainnya yang digunakan dalam produksi benang. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan global, termasuk dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu sumber utama bahan baku tekstil.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat industri harus mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti India dan Vietnam. Namun, diversifikasi sumber ini belum sepenuhnya mampu menekan biaya produksi yang terus meningkat, apalagi di tengah potensi kenaikan biaya energi.

Dia menambahkan, tekanan biaya produksi diperkirakan semakin meningkat pada kuartal II/2026 seiring kebutuhan impor bahan baku baru. Bahkan, jika ketegangan di Selat Hormuz berlanjut, kenaikan harga bahan baku berpotensi melampaui 50%.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pemerintah terus memperketat pengawasan terhadap barang impor ilegal yang masuk ke Indonesia.

Meski demikian, dia menilai industri tekstil nasional masih memiliki daya saing, terutama didukung oleh ekosistem industri dari hulu hingga hilir yang cukup kuat di dalam negeri.

“Tadi saya tanya teman-teman, yang itu pameran, bisa enggak bersaing dengan produk impor? Ya, teman-teman bilang enggak ada masalah,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cedera Olahraga Meningkat, Kini Ada Solusi Praktis Tanpa Perlu 2 Obat 
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pemerintah Akan Bangun Rusun Subsidi di Bekasi, Targetkan 141.000 Unit
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Megawati Hangestri Cs Panaskan Final Four Proliga 2026 Seri Semarang, Jakarta Pertamina Enduro Percaya Diri Amankan Tiket Grand Final
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Usai Status Tersangka Batal, Sekjen DPR Lolos dari Kasus Rumah Jabatan DPR?
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Asal-usul Hajar Aswad Dikaji Secara Sains, Ilmuwan Ungkap Faktanya
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.