Penulis: Fityan
TVRINews – London, Inggris
Langkah Teheran membuka blokade maritim memicu koreksi positif pada pasar komoditas dunia.
Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam setelah pemerintah Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan "terbuka sepenuhnya" bagi kapal komersial selama sisa periode gencatan senjata dalam konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Berdasarkan pantauan pasar Dunia pada Jumat 17 April 2026 petang, harga minyak mentah jenis Brent merosot ke level $88 per barel.
Angka ini menunjukkan penurunan signifikan mengingat beberapa jam sebelumnya harga masih bertahan di atas $98 per barel.
Selat Hormuz merupakan jalur logistik vital yang menjadi urat nadi energi dunia. Setidaknya seperlima dari total pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) global melintasi selat sempit di selatan Iran tersebut.
Respons Diplomatik dan Sentimen Pasar
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan komitmen negaranya untuk menjamin kelancaran arus logistik di wilayah tersebut.
"Lintasan bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan terbuka sepenuhnya selama sisa periode gencatan senjata," ujar Araghchi dalam pernyataan resminya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut positif pengumuman tersebut melalui unggahan di media sosial Truth Social.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut terhadap Iran akan tetap berlaku "dengan kekuatan penuh" hingga kesepakatan permanen tercapai.
Pengumuman ini memicu reli positif di bursa saham internasional:
• S&P 500 (AS): Ditutup menguat 1,2%.
• CAC (Paris) & DAX (Frankfurt): Keduanya melonjak sekitar 2%.
• FTSE 100 (London): Berakhir naik 0,7%.
Ketidakpastian Keamanan Maritim
Meski pasar merespons dengan antusias, komunitas maritim internasional masih bersikap hati-hati. Badan pelayaran internasional BIMCO menyarankan para operator kapal untuk tetap waspada terhadap risiko yang masih mengintai.
Jakob Larsen, Kepala Keselamatan dan Keamanan di BIMCO, menyatakan bahwa status ancaman ranjau di skema pemisahan lalu lintas (TSS) masih belum jelas. "BIMCO berkeyakinan bahwa perusahaan pelayaran harus mempertimbangkan untuk menghindari area tersebut. Skema lalu lintas belum bisa dinyatakan aman untuk transit saat ini," tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, menyatakan melalui media sosial bahwa pihaknya sedang melakukan verifikasi detail terkait kepatuhan pembukaan selat ini terhadap prinsip kebebasan navigasi.
Dampak Rantai Pasok Global…
Penutupan Selat Hormuz sejak Februari lalu telah memicu inflasi energi dan pangan global. Selain lonjakan harga BBM, terputusnya pasokan bahan kimia pupuk di mana sepertiga pasokan dunia melewati jalur ini telah mengancam ketahanan pangan dan menaikkan biaya produksi pertanian secara drastis.
Kieran Tompkins, ekonom komoditas senior di Capital Economics, menilai jendela waktu gencatan senjata yang tersisa sembilan hari ini memberikan peluang yang sempit.
"Ini memungkinkan kapal tanker yang terjebak untuk keluar, namun jumlah kapal yang masuk mungkin belum akan kembali ke level normal sebelum perang," jelasnya.
Dari sisi konsumen, Profesor ManMohan Sodhi dari Bayes Business School memperingatkan bahwa pemulihan tidak akan terjadi dalam semalam.
Menurutnya, rantai pasokan global akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar pulih, bahkan jika kesepakatan damai jangka panjang berhasil dicapai.
Editor: Redaktur TVRINews





