Akal Imitasi Kian Mampu Hadirkan Realisme Tingkat Tinggi, Waspadai Perang Informasi

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Kemampuan akal imitasi menghadirkan realisme tingkat tinggi perlu diwaspadai. Kini bermunculan persona atau karakter digital fiktif seperti manusia yang dikendalikan kecerdasan buatan. Jika digunakan secara tak bertanggung jawab, hal itu bisa memunculkan perang informasi berbentuk opini publik dan memengaruhi sistem demokrasi.  

Sejumlah ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi dunia lewat publikasi sebuah makalah forum kebijakan terbaru yang melibatkan 12 penulis dan diterbitkan di Science pada Januari 2026 menjelaskan bagaimana kelompok besar persona  yang dihasilkan artificial intelligence atau akal imitasi (AI) dapat meniru perilaku manusia secara daring.

Sistem ini dapat memasuki komunitas digital, berpartisipasi dalam diskusi, dan memengaruhi sudut pandang dengan kecepatan luar biasa.Tidak seperti jaringan bot sebelumnya, agen AI atau kecerdasan buatan itu bisa berkoordinasi secara instan, dan menanggapi umpan balik. Termasuk juga mempertahankan narasi yang konsisten di ribuan akun.  

Baca JugaAI Kerap Salah, Bohong,  dan Otaknya Membusuk

Kemunculan persona yang dikendalikan AI tersebut dinilai dapat menjadi ancaman politik jenis baru yang mungkin muncul. Kehadirannya bisa jadi jauh kurang terlihat daripada protes atau manipulasi pemilih tradisional.

Persona yang dikendalikan AI dengan tingkat realisme tinggi dapat segera memainkan peran utama dalam membentuk opini publik dan memengaruhi sistem demokrasi.

Konsensus itu diciptakan secara artifisial untuk memengaruhi diskusi politik.

lmuwan komputer University of British Council Kevin Leyton-Brown memaparkan kemajuan pesat model bahasa skala besar dan sistem multi-agen memungkinkan satu operator mengelola jaringan "suara" AI amat luas. Persona-persona ini tampak autentik, mengadopsi bahasa dan intonasi lokal, dan berinteraksi dengan cara alami bagi pengguna lain.

Mereka juga mampu menjalankan jutaan eksperimen skala kecil untuk menentukan pesan paling persuasif. Hal ini memungkinkan mereka menyempurnakan strategi komunikasi real-time dan menghasilkan apa yang tampak sebagai kesepakatan publik. “Konsensus itu diciptakan secara artifisial untuk memengaruhi diskusi politik,” kata Leyton-Brown.

Ke depan, kata Leyton-Brown, para ahli percaya bahwa kawanan AI dapat secara signifikan memengaruhi keseimbangan kekuasaan dalam masyarakat demokratis. Sistem ini kemungkinan akan mengubah cara orang mempercayai informasi daring.

"Kita tidak boleh membayangkan masyarakat akan tetap tak berubah seiring munculnya sistem ini. Hasil yang mungkin terjadi yakni berkurangnya kepercayaan pada suara-suara tak dikenal di media sosial, yang dapat memberdayakan selebriti dan mempersulit pesan-pesan dari akar rumput untuk menembus pasar," jelas Leyton-Brown.rR

Meski AI yang berkembang masih sebagian besar bersifat teoretis, para peneliti menunjukkan ada tanda-tanda peringatan. Hal itu termasuk deepfake yang dihasilkan AI dan outlet berita palsu yang memengaruhi percakapan pemilihan baru-baru ini di negara-negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, Indonesia, dan India.

Daniel Thilo Schroeder dari Departement of Sustainable of Communication Technologies, SINTEF Digital, Nowegia, mengatakan para peneliti berpendapat pemilihan umum mendatang jadi ujian penting bagi teknologi ini.

“ Tantangan utamanya adalah mengenali dan menanggapi kampanye pengaruh yang didorong oleh AI ini sebelum kampanye tersebut menjadi terlalu luas untuk dikendalikan,” ujarnya menegaskan.

Meyakinkan dan membahayakan

Schroeder mengatakan ada ancaman AI yang jahat untuk menghasilkan kebohongan yang lebih meyakinkan sehingga membahayakan. Ada teknik untuk menyempurnakan penalaran AI, seperti pemberian petunjuk, rantai pemikiran, yang dapat digunakan agar kebohongan lebih meyakinkan.

Namun, ilmuwan juga terus bergerak melawan penyalahgunaan teknologi AI. Pada tahun 2025, ilmuwan dari Universitas California Riverside (UCR), Amerika Serikat,  berkolaborasi dengan Google. Sistem baru yang ampuh untuk mengungkap video palsu dikembangkan.

Amit Roy-Chowdhury, profesor teknik elektro dan komputer di UCR mengatakan timnya mengembangkan model AI yang mendeteksi manipulasi video, bahkan ketika manipulasi tersebut jauh melampaui pertukaran wajah dan perubahan ucapan.

Sistem baru yang disebut Jaringan Universal untuk Mengidentifikasi Video yang Dimanipulasi dan Sintetis (UNITE) mendeteksi pemalsuan dengan memeriksa tidak hanya wajah tetapi juga seluruh bingkai video, termasuk latar belakang dan pola gerakan.

"Jika tidak ada wajah dalam bingkai, banyak detektor tidak akan berfungsi. Tetapi disinformasi dapat datang dalam berbagai bentuk. Mengubah latar belakang suatu adegan dapat dengan mudah memutarbalikkan kebenaran," kata Roy-Chowdhury.

Baca JugaHoaks Ancam Demokrasi, Filsafat Komunikasi Digital Bisa Menyelamatkan

Meskipun masih dalam pengembangan, UNITE berpotensi memainkan peran penting dalam melindungi dari disinformasi video. Pengguna potensialnya meliputi platform media sosial, pemeriksa fakta, dan ruang redaksi yang berupaya mencegah video yang dimanipulasi menjadi viral.

"Masyarakat berhak mengetahui apakah yang mereka lihat itu nyata. Seiring dengan makin mahirnya AI dalam memalsukan realitas, kita juga harus kian mahir dalam mengungkap kebenaran," kata Roy-Chowdhury.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Golkar Soroti Kasus Pelecehan Seksual: Kampus Gagal Lindungi Mahasiswa
• 22 jam laludetik.com
thumb
Dewa  United Jegal Persib Bandung 2-2: Borneo dan Persija Jakarta Tancap Gas Kebut Juara Super League
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Penyelesaian Sengketa Majikan-PRT di UU PPRT: Musyawarah dan Mediasi RT/RW
• 9 menit lalukumparan.com
thumb
Dua Bersaudara Bos Sritex Dituntut 16 Tahun Penjara di Kasus Korupsi Rp 1,3 T
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Serangan Puncak, OPM Diduga Pelaku
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.