Grid.ID - Sutradara sekaligus komika Bayu Skak kembali menghadirkan sekuel film komedi horor lewat Sekawan Limo 2: Gunung Klawih dengan skala produksi yang lebih besar.
Kesuksesan film pertama membuat Bayu berani meningkatkan kualitas dari berbagai sisi. Ia mengungkapkan biaya produksi film kedua ini memang lebih tinggi dibanding pendahulunya.
“Kalau itu (biaya) pasti lebih gede yang ini,” ujar Bayu saat ditemui di Metropole XXI, Senin (20/4/2026).
Peningkatan tersebut terlihat dari segi visual, jumlah pemain, hingga lokasi syuting yang lebih beragam. Proses pengambilan gambar pun dilakukan di beberapa tempat, termasuk Malang, Jawa Timur.
Namun, ada satu detail menarik yang mencuri perhatian, yakni penggunaan nama Gunung Klawih. Nama ini ternyata bukan lokasi asli, melainkan plesetan dari Gunung Kawi.
“Gunung Klawih itu sebenarnya diplesetin. Nama aslinya kan Gunung Kawi,” ungkap Bayu.
Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Bayu menjelaskan bahwa penggunaan nama fiktif bertujuan menjaga etika dalam penyajian cerita.
Menurutnya, unsur komedi dalam film ini kerap menghadirkan candaan yang selengean. Jika menggunakan nama asli, dikhawatirkan bisa menimbulkan salah tafsir di masyarakat.
“Supaya lebih etis, kita tidak menggunakan nama asli dari tempat tersebut,” jelasnya.
Ia menilai, beberapa humor dalam film mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan norma jika dikaitkan langsung dengan lokasi nyata. Karena itu, nama plesetan dianggap solusi yang lebih aman.
Pendekatan ini juga bukan hal baru bagi Bayu Skak. Pada film pertama, ia sudah menggunakan nama lokasi fiktif seperti Gunung Madyopuro.
Dari sisi cerita, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih melanjutkan kisah lima sahabat setelah tiga tahun berlalu. Mereka kembali bertemu dalam suasana yang awalnya hangat.
Namun, situasi berubah mencekam ketika keluarga salah satu tokoh terancam menjadi tumbal pesugihan. Hal itu memaksa mereka kembali menghadapi dunia mistis.
Perjalanan ke Gunung Klawih pun dipenuhi teror, termasuk hilangnya salah satu karakter di dunia makhluk gaib. Konflik tersebut menjadi inti cerita yang lebih gelap dibanding film pertama.
Dengan produksi yang lebih matang dan pendekatan cerita yang lebih dalam, Bayu Skak berharap film ini bisa memberi pengalaman baru bagi penonton.(*)
Artikel Asli




