Produsen Pupuk Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri Meski Australia Berminat

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) menyatakan telah menerima sinyal permintaan ekspor pupuk dari pihak Australia.

Meskipun peluang tersebut terbuka lebar akibat gangguan rantai pasok dunia, produsen pupuk menegaskan pemenuhan kebutuhan petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

Sekretaris Jenderal APPI, Achmad Tossin Sutawikara, menjelaskan bahwa hingga saat ini besaran tonase yang diminta oleh Australia belum dirinci secara mendalam.

Ia menegaskan bahwa pemerintah masih memegang teguh kebijakan Domestic Market Obligation atau DMO guna menjamin ketersediaan pupuk bagi petani lokal.

"Betul, sudah ada indikasi permintaan dari Australia. Namun Pemerintah masih memprioritaskan DMO," ujar Tossin, Selasa (21/4).

Stok Nasional Mencukupi

Terkait ketahanan stok nasional, Tossin memastikan bahwa ketersediaan pupuk saat ini sangat mencukupi untuk mendukung produktivitas pertanian Indonesia. Total stok untuk seluruh jenis pupuk mulai dari Urea, NPK, SP 36, ZA, hingga pupuk organik telah mencapai angka 10 juta ton.

"Untuk kebutuhan DMO kurang lebih 10 juta ton untuk semua jenis pupuk," tutur Tossin menekankan keamanan pasokan domestik.

Rencana ekspor ini sebelumnya telah dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dengan Duta Besar Australia Rod Brazier.

Kerja sama yang dijajaki ini diharapkan bersifat timbal balik atau resiprokal guna menjaga keseimbangan perdagangan dan kepentingan nasional kedua negara.

"Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat," kata Sudaryono.

Dalam skema kerja sama tersebut, Indonesia berpeluang mengekspor urea ke Australia. Sebagai imbal baliknya, Indonesia akan mengimpor bahan baku industri pupuk yang penting seperti fosfat, termasuk jenis Diammonium Phosphate atau DAP dari negara tetangga tersebut.

Sudaryono menegaskan bahwa keunggulan Indonesia dalam memproduksi urea secara mandiri merupakan kekuatan strategis di tengah kondisi konflik global. Meski potensi keuntungan ekspor menggiurkan, ia menjamin bahwa kepentingan petani domestik tidak akan tergeser.

"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," pungkas Sudaryono.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dewa  United Jegal Persib Bandung 2-2: Borneo dan Persija Jakarta Tancap Gas Kebut Juara Super League
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Harga Minyak Naik, IHSG Masih Tertahan
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Iran Gamang Putuskan Kesepakatan Damai dengan AS, Ini Penyebabnya
• 12 jam laludetik.com
thumb
Polri Bidik TPPU untuk Haji Ilegal, Kejar Aset untuk Ganti Rugi Jemaah
• 6 jam laluokezone.com
thumb
LAZ Hadji Kalla Bantu Warga Pesisir Buton Buididaya Kerang Mutiara hingga Bisa Panen
• 13 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.