Dari Unipolar ke Multipolar, Dominasi Dolar AS Tergerus

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf
(Dosen FEB Unhas/ Ketua KPPU RI Tahun 2015-2018)

Diskursus mengenai berakhirnya dominasi dolar Amerika Serikat (AS) alias USD dipicu oleh sanksi AS terhadap Rusia paskaaneksasi Krimea, Ukraina pada 2014. Hal ini memaksa Rusia berhenti menggunakan USD dalam transkasi internasionalnya.

Pemerintah Rusia kemudian beralih menggunakan Yuan, China. Kondisi ini diperparah oleh perilaku Donald Trump, Presiden AS yang memberlakukan tarif resiprokal ekstra tinggi ke sejumlah negara, termasuk negara-negara yang tergabung dalam BRICS, yaitu: Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa (Afrika Selatan).

Hal ini, mendorong Presiden Brasil, Lula da Silva mengusulkan pembentukan mata uang bersama (common currency) negara-negara BRICS. Sejarahnya, mata uang pound sterling, Inggris merupakan mata uang dominan dalam transaksi internasional hingga akhir 1930-an, permulaan perang dunia (PD) II.

Peran pound sterling memudar sejak PD I karena pemerintah Inggris kesulitan keuangan hingga menjual aset untuk membiayai perang dan menghadapi tekanan persaingan dari mata uang lain. Pada periode tersebut, utang pemerintah Inggris meningkat hingga enam kali lipat menjadi 130 persen dari Gross Domestic Product (GDP).

Risiko gagal bayar utang meningkat. Biaya utang naik, yaitu yield obligasi pemerintah Inggris naik dengan harga yang makin rendah. Hingga periode great depression 1930-an, pound sterling, Inggris masih menjadi mata uang dominan dalam transaksi internasional.

Perannya benar-benar tergantikan oleh USD paska PD II. Pound sterling mengalami devaluasi pada 1949. Berakhirnya masa keemasan pound sterling menjadi awal dominasi USD secara global. Momentumnya pada saat pertemuan 700-an delegasi yang berasal dari 44 negara di Bretton Wood, New Hampshire, AS, pada 1944.

Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan Bretton Wood. Kesepakatan ini menjadi titik awal USD menggantikan peran pound sterling sebagai mata uang dominan secara global. Hingga saat ini, dominasi USD dalam sistem keuangan global sudah lebih dari 80 tahun.

Kesepakatan Bretton Wood sangat penting bagi dominasi USD. Dari sini dimulai Bretton Wood System (BWS), yaitu sistem devisa yang mengaitkan mata uang masing-masing negara terhadap USD. Ada 44 negara bersepakat mengonversi cadangan devisanya ke dalam USD.

Secara faktual, setelah lebih 70 tahun, world index of international currency usage menunjukkan penurunan peran USD sebagai mata uang utama dunia. Indeks penggunaan USD menurun dari 61 pada 2015 menjadi 59,65 pada 2025.

Sebaliknya dengan indeks penggunaan euro dan yuan China yang meningkat. Indeks penggunaan euro naik dari 29,94 (2015) menjadi 30,22 (2025). Demikian juga dengan yuan, naik berkali-kali lipat dari 0,95 (2015) menjadi 2,85 (2025).

Indeks penggunaan yuan tidak sejalan dengan dominasi China dalam perdagangan global. Pada 2000-an awal, nilai perdagangan internasional China sebesar USD 474 miliar, empat kali lebih kecil dari perdagangan internasional AS sebesar USD 2,0 triliun.

Akan tetapi, sejak 2012, perdagangan internasional China sudah melampaui perdagangan internasional AS. Hingga 2024, nilai perdagangan internasional AS sebesar USD 5,3 triliun. Lebih kecil dari nilai perdagangan internasional China yang mencapai USD 6,2 triliun.

Kondisi ini kontras dengan penggunaan mata uang yuan sebagai cadangan devisa global yang hanya USD 1,95 triliun pada 2025. Sementara, penggunaan USD sebagai cadangan devisa global mencapai 56,77 persen. Turun sekitar 14,42 persen dalam 10 tahun terakhir dari 71,19 persen.   

Pertanyaannya, apakah perang AS dan Israel melawan Iran serta kebijakan tarif resiprokal Trump akan menjadi titik awal menurunnya dominasi USD dalam transaksi internasional? Apakah yuan akan menjadi mata uang dominan secara global? Apa implikasinya bagi Indonesia?

Sejalan dengan ekonom senior AS, Nouriel Roubini pada Mei 2023 menyebutkan bahwa sistem cadangan devisa global sedang mengalami perubahan, yaitu dari unipolar yang didominasi oleh USD menjadi multipolar dengan tiga atau lebih mata uang utama global, yaitu USD, euro, dan yuan China.

Ketiga perekonomian tersebut berkontribusi hampir separuh perdagangan global, sekitar 45 persen. Perekonomian AS berkontribusi sekitar 13 persen, China 15 persen dan Uni Eropa berkontribusi 17 persen terhadap perdagangan dunia pada 2024.

Selanjutnya, terkait dengan peran mata uang yuan dalam transaksi internasional, belum akan menggeser USD sebagai mata uang dominan dalam jangka pendek. Hal ini terkait dengan kebijakan bank sentral China yang mengontrol lalu lintas modalnya untuk menjaga kestabilan nilai tukarnya dan mempertahankan independensi kebijakan moneternya.

Kebijakan ini didasarkan pada kerangka impossible trinity atau trilemma kebijakan moneter yang menyatakan bahwa suatu negara tidak mungkin mencapai tiga tujuan sekaligus, yaitu kestabilan nilai tukar, independensi kebijakan moneter dan kebebasan arus modal. Dalam hal ini, bank sentral China memilih mengorbankan kebebasan arus modal untuk menjaga independensi kebijakan moneter dan kestabilan nilai tukarnya.

Akhirnya, bagi Indonesia, menghadapi situasi multipolar, pilihan kebijakannya adalah mendiversifikasi cadangan devisanya sehingga tidak tergantung pada USD. Meningkatkan porsi yuan dan euro dalam keranjang cadangan valuta asing Bank Indonesia (BI).

Termasuk, mengurangi ketergantungan terhadap USD dengan cara memperluas kesepakatan local currency transaction (LCT) dengan sejumlah negara, terutama negara mitra dagang utama. LCT akan mengurangi ketergantungan penggunaan USD dalam transaksi internasional. Meminimumkan kerugian kurs akibat depresiasi ekstrim rupiah per dollar AS, seperti yang terjadi saat ini. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Utut Adianto Tegaskan RI Tetap Bebas Aktif di Tengah Dinamika Global
• 4 jam laludetik.com
thumb
Ratusan Hektare Sawah di Takalar Terancam Gagal Panen Akibat Kekeringan
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Dua Keunggulan Iran dalam Konflik Vs AS-Israel, Indonesia Harus Tiru
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Tolak Pinjaman IMF dan Bank Dunia, APBN Indonesia Masih Aman
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jusuf Kalla Enggan Menduga-duga Penyebar Video Ceramahnya di UGM: Akan Diteliti Lewat Teknologi
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.