Ikan Sapu-sapu Marak Berkembang Biak, Tanda Kualitas Sungai Buruk

metrotvnews.com
13 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: DKI Jakarta tengah menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu di sungai. Ikan asli sungai amazon itu mampu berkembang biak secara massif dan mengganggu ekosistem alami, bahkan di kondisi kualitas yang buruk sekali pun.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Yusli Wardiatno, menyoroti kondisi kritis sungai yang kini telah didominasi oleh populasi ikan sapu-sapu (pleco). Menurutnya, melimpahnya ikan sapu-sapu bukanlah tanda ekosistem yang kaya, melainkan indikasi kuat bahwa sungai tersebut sedang “sakit”.

"Dominasi ini menunjukkan perubahan mendasar pada kondisi sungai, yang menyebabkan hilangnya keragaman ikan air tawar lokal yang sebelumnya dikenal tinggi di sungai-sungai di Jawa,” ujar Yusli, mengutip laman resmi IPB University, Rabu, 22 April 2026.

Ia menekankan, ikan lokal bukan semata karena kalah bersaing, tetapi karena lingkungan sungai sudah berubah drastis. Sungai seperti Ciliwung telah lama menanggung beban limbah domestik, industri, dan limpasan perkotaan.

Penanganan ikan sapu-sapu di Jakarta. Antara.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya kandungan logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri di air maupun sedimen. Berbeda dengan ikan lokal yang tidak dirancang untuk hidup di lingkungan tercemar, ikan sapu-sapu justru “diuntungkan”.

"Sapu-sapu mampu bertahan dalam kondisi oksigen rendah, air keruh, dan lingkungan yang tidak layak huni bagi spesies lain, menjadikannya penyintas yang mendominasi perairan," terangnya. Pemanfaatan Harus Hati-hati

Yusli memperingatkan bahwa pemanfaatan tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Ikan yang hidup di perairan tercemar dapat mengakumulasi logam berat di dalam jaringan tubuhnya.

Baca Juga :

Dilema 'Menyapu' Ikan Sapu-Sapu: Hama Ekosistem juga Sumber Nafkah "Pemanfaatannya harus disertai pengawasan ketat, mulai dari lokasi penangkapan, cara pengolahan, hingga jaminan keamanan produk akhir," ujar Yusli, mengutip laman resmi IPB University, Rabu, 22 April 2026.

Ia mengungkapkan, beberapa temuan menunjukkan kadar yang melampaui ambang batas aman untuk konsumsi. Menurutnya, isiko kesehatan juga tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk nonpangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri. 

"Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih," jelasnya.
 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lafal Talbiyah: Bacaan, Arti, dan Makna di Balik Panggilan Suci
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Literasi Perempuan di Era Digital Indonesia
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemerintah Targetkan Revisi UU Pemilu Rampung April 2027
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Cerita Tim KKI Sumut Borong 6 Emas di Seleknas 2026
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Polres Metro Jakarta Timur Ungkap Sindikat Ganjal ATM di Cipayung, Empat Pelaku Ditangkap Usai Kuras Rp274 Juta
• 15 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.