Washington dilaporkan telah memecat Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat, John Phelan. Hal ini terjadi menyusul perombakan besar dalam tubuh militer, menyusul perang dari Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Dikutip dari Reuters, Pentagon mengatakan bahwa sosok terkait meninggalkan jabatannya segera, tanpa memberikan alasan resmi atau kejelasan apakah keputusan tersebut atas kemauannya sendiri.
Baca Juga: Tak Hanya di Selat Hormuz, Amerika Serikat Kini Buru Tanker Iran di Asia
Phelan, menurut laporan, diberhentikan karena dinilai terlalu lambat dalam mendorong reformasi untuk mempercepat pembangunan kapal perang. Ia juga disebut mengalami konflik dengan pimpinan utama militer seperti Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.
Pemecatan ini menjadi bagian dari gelombang perubahan besar dalam tubuh militer negara terkait sejak kembali menjabatnya sosok dari Donald Trump ke Gedung Putih. Phelan menjadi pejabat pertama setingkat kepala matra yang ditunjuk pemerintah dan kemudian diberhentikan.
Sebelumnya, sejumlah pejabat tinggi militer juga telah dicopot, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan, Pejabat Tinggi Angkatan Udara hingga Elite Angkatan Laut dari Amerika Serikat.
Pergantian ini terjadi saat negara tersebut masih berada dalam gencatan senjata yang tegang dengan Iran. Amerika Serikat saat ini mengandalkan kekuatan laut untuk menjalankan blokade terhadap Iran.
Terbaru, Amerika Serikat mencegat setidaknya tiga tanker berbendera dari Iran di Asia. Washington dilaporkan memaksa kapal-kapal tersebut mengalihkan jalurnya dan menjauh dari posisi mereka dekat wilayahdari India, Malaysia, dan Sri Lanka.
Laporan menyebutkan bahwa salah satu kapal yang dicegat adalah supertanker bernama Deep Sea. Kargo kapal tersebut dilaporkan sebagian bermuatan minyak mentah dan terakhir terdeteksi di lepas pantai dari Malaysia.
Kapal lainnya yang terkena blokade bernama Sevin. Ia juga turut bermuatan minyak mentan dan memiliki kapasitas maksimum 1 juta barel dan membawa muatan berisi hingga sekitar 65%.
Supertanker Dorena juga diketahui menjadi salah satu yang terkena dampak blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ia membawa penuh sekitar 2 juta barel minyak mentah dan kini dikawal oleh kapal perusak dari Angkatan Laut Amerika Serikat di Samudra Hindia. Kapal ini sebelumnya terdeteksi di lepas pantai dari India.
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi blokade tidak hanya dilakukan di sekitar wilayah dari Selat Hormuz. Pihaknya juga turun melakukan patroli dalam perairan terbuka guna menghindari risiko ranjau laut yang dapat mengancam keselamatan operasi militer.
Amerika Serikat sendiri telah memerintahkan sedikitnya 29 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sejak pihaknya melakukan blokade di Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Terpecah, Amerika Serikat Bilang Ada Konflik Kaum Pragmatis dan Kelompok Garis Keras di Teheran
Pengetatan blokade ini terjadi di tengah gangguan besar pada jalur energi global. Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia mengalami penurunan lalu lintas signifikan sejak konflik dimulai.





