Airlangga Sebut Penyebab Rupiah Tembus Rp 17.300 karena Gejolak Global

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS.

Airlangga bakal memantau terus pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” kata Airlangga saat ditemui usai konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (23/4).

Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global. Meski begitu, Airlangga menegaskan tidak akan bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar rupiah.

“Ya kan itu (penyebabnya) lihat gejolak global. Nanti kita monitor saja dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga (stabilitas rupiah),” tutur Airlangga.

BI Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi konflik geopolitik dan sentimen pasar keuangan internasional, masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah," terang Destry.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Kamis (23/4) Masih Loyo? Cek Prediksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
5 Prajurit UNIFIL Gugur Sejak Konflik 2 Maret: 3 dari Indonesia, 2 dari Prancis
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
1.516 Barang Tertinggal di Kereta Selama Awal 2026, Paling Banyak HP dan Tumbler
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Rusak Kendaraan Warga, 2 Sopir Angkot di Ciracas Ditangkap
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Siswa SMA di Bandung Tewas Dikeroyok, Sahroni: Jangan Normalisasi Pelaku Anak, Hukum Berat!
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.