10 Tahun People-Centered ASEAN, Konektivitas Warga Dinilai Masih Lemah

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Jakarta

Lebih dari satu dekade sejak konsep people-centered ASEAN diperkenalkan, konektivitas antarwarga di kawasan dinilai masih jauh dari optimal.

Founder dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia, Dino Patti Djalal, menyebut bahwa hingga kini interaksi, pemahaman, dan kolaborasi antar masyarakat ASEAN masih terbatas.

“Sudah lebih dari 10 tahun konsep ini berjalan, tapi masyarakat ASEAN belum banyak terkoneksi, belum saling mengenal, dan kerja sama masih minim,”kata Dino dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Konsep Sudah Mapan, Implementasi Tertinggal

Dino menjelaskan bahwa people-centered ASEAN telah menjadi doktrin resmi sejak sekitar 2015, dengan tujuan menjadikan ASEAN lebih dekat dan relevan bagi masyarakat.

Namun, menurutnya, implementasi di lapangan belum mampu menjembatani kesenjangan antarwarga di kawasan.
ASEAN dinilai masih lebih kuat sebagai forum antar pemerintah dibanding sebagai komunitas yang hidup di tengah masyarakat.

Minim Interaksi Lintas Negara

Rendahnya konektivitas ini terlihat dari masih terbatasnya interaksi langsung antar masyarakat ASEAN, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun budaya.

Kurangnya ruang kolaborasi lintas negara membuat masyarakat belum sepenuhnya merasakan manfaat integrasi kawasan.

“Kalau masyarakatnya belum terkoneksi, maka sulit membangun rasa memiliki terhadap ASEAN,” tegas Dino.

FPCI Dorong Jembatan Kolaborasi

Untuk menjawab tantangan tersebut, FPCI menginisiasi berbagai platform yang mempertemukan masyarakat lintas negara, salah satunya melalui ASEAN People’s Week.

Forum ini menjadi wadah bagi organisasi masyarakat sipil, komunitas, hingga pemuda untuk membangun jejaring dan mendorong kerja sama regional.

“Kita ingin menciptakan ruang agar masyarakat bisa terhubung dan berkolaborasi secara nyata,” jelasnya.

Kerja Sama Multilateral Masih Sulit

Meski peluang terbuka, Dino mengakui bahwa kerja sama lintas banyak negara ASEAN masih menjadi tantangan besar.
Kolaborasi bilateral antarorganisasi dinilai lebih mudah dilakukan, sementara kerja sama multilateral membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks.

“Kalau dua negara relatif mudah, tapi kalau melibatkan banyak negara ASEAN, itu masih sulit,”ucapnya.

Risiko bagi Masa Depan ASEAN

Dino mengingatkan bahwa lemahnya konektivitas antarwarga dapat berdampak pada masa depan ASEAN sebagai komunitas regional.

Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, integrasi kawasan berisiko hanya berjalan di level kebijakan tanpa dukungan sosial yang kuat.

“ASEAN tidak bisa hanya dibangun dari atas. Harus ada koneksi nyata antar masyarakatnya,”lanjutnya.

Perlu Akselerasi People-Centered ASEAN

Ke depan, Dino menekankan pentingnya mempercepat implementasi people-centered ASEAN melalui program yang lebih konkret dan inklusif.

Menurutnya, penguatan konektivitas masyarakat akan menjadi kunci dalam membangun ASEAN yang lebih solid, relevan, dan berkelanjutan.

“Kalau masyarakat terhubung, ASEAN akan menjadi lebih kuat,”tuturnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengawasan Orang Asing Diperkuat, Imigrasi Pontianak Dukung Transformasi Eco Sport Tourism
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Purbaya Rotasi Tiga Pembantunya, Ada Apa?
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Pelayanan Pajak Kendaraan Lebih Cepat Dihadirkan oleh Jasa Raharja
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terobosan AI: Rahasia Arus Laut yang Selama Ini Tersembunyi Akhirnya Terungkap, Apa Dampaknya Bagi Bumi?
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Jusuf Hamka Menang dari Hary Tanoe, Bayar Denda Rp484 M Ditambah Bunga
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.