BI Sebut Rupiah Sudah Undervalued, Apa Artinya?

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa posisi rupiah saat ini masih undervalued atau berada di bawah nilai wajarnya. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo. 

Ia mengungkap bahwa posisi rupiah saat ini dinilai belum sesuai dengan fundamental ekonomi nasional. “Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, belum lama ini. 

Baca Juga :
Rupiah Menguat ke 17.281 di Tengah Buntunya Perundingan Iran-AS & Utang Jatuh Tempo RI
Rupiah Terus Melemah, Airlangga: Tugas BI Menjaga, Kita Tidak Bisa Reaktif Setiap Hari

Menurut Perry, BI terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar melalui peningkatan intensitas intervensi, baik lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. “Kami terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Cadangan devisa kami 148,2 miliar dolar, masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata dia.

Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik aliran investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik. Langkah ini juga dibarengi dengan upaya menjaga pertumbuhan uang primer agar likuiditas pasar tetap terjaga. 

“Ke depan, kami akan tetap jaga di atas 10 persen (pertumbuhan uang primer), bahkan bisa mencapai 12 persen untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan bagi ekonomi. Ini sejalan dengan stance kebijakan moneter ekspansi likuiditas,” kata dia.

BI juga menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan global, termasuk dampak perang di Timur Tengah. “Fundamental ekonomi kita itu seperti apa? Inflasi yang rendah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 5 persen. Demikian juga stabilitas nilai tukar rupiah. Dan tentu pertumbuhan kredit dan faktor-faktor yang lain. Termasuk juga kondisi neraca pembayaran kita dengan defisit transaksi berjalan yang rendah. Jadi secara keseluruhan kondisi fundamental kita baik dan kuat dalam menghadapi kondisi geopolitik ini,” jelas Perry.

Istilah undervalued sendiri kerap digunakan dalam pembahasan nilai tukar mata uang, terutama ketika suatu mata uang dianggap belum mencerminkan kekuatan ekonomi sebenarnya. Kondisi ini tidak selalu berarti buruk, karena di satu sisi dapat mendorong ekspor dan investasi, tetapi di sisi lain juga bisa meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi. 

Baca Juga :
IHSG Anjlok 1,27 Persen di Sesi I, Ketegangan Geopolitik dan Rupiah Melemah Tekan Pasar RI
Rupiah Melemah ke 17.245 di Tengah Tekanan Jatuh Tempo Utang Terbesar Pemerintah Rp 833,96 Triliun
Bos BI Pede Ekonomi RI 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen, Simak Indikatornya

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Masak Mi di Kereta, KAI Tegaskan Stopkontak Bukan untuk Kompor Listrik
• 23 menit lalukompas.tv
thumb
Lansia di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Pemberangkatan Haji, Kehilangan Emas 34 Gram
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
ASEAN for the Peoples Week 2026 Dibidik Jadi Jembatan Aspirasi Warga Asia Tenggara
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Infografis Aturan Baru Pajak Mobil Listrik
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Investasi Hilirisasi di Sektor Minerba Masih Timpang, Ini Saran Perhapi
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.