Bisnis.com, JAKARTA — PT MRT Jakarta (Perseroda) menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shenzhen Metro Group China, dalam rangka pengembangan transit-oriented development (TOD).
Direktur Utama MRT Tuhiyat menyampaikan, kerja sama ini turut mencakup pembangunan terintegrasi di perkotaan.
Dirinya menyatakan dukungan penuh PT MRT Jakarta (Perseroda) dalam mewujudkan kota berbasis transportasi publik di Jakarta.
“MRT Jakarta mendukung penuh upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah paradigma pembangunan yang semula berorientasi berbasis kendaraan bermotor menjadi kota yang berbasis transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas sehari-hari,” tuturnya dalam keterangan resmi, Jumat (24/4/2026).
Lebih lanjut, Tuhiyat menuturkan bahwa kunjungan ke China yang dilakukan bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta Pramono Anung tersebut memiliki nilai strategis dalam pengembangan kawasan berorientasi transit.
Meski demikian, tidak disebutkan secara detail nominal kerja sama antara MRT dan Shenzhen Metro Group. Rencananya, kesepakatan ini akan berlangsung hingga dua tahun ke depan.
Baca Juga
- MRT Jakarta Rombak Susunan Komisaris, Uus Kuswanto Masuk Jajaran
- Efek Tarif Rp1, Penumpang MRT Jakarta Melonjak 77% saat Lebaran
“Pengalaman Shenzhen Metro Group sebagai operator kereta berbasis properti dalam melakukan transformasi kota dengan pendekatan integrasi dan interkoneksi dapat menjadi rujukan bagi MRT Jakarta menjalankan mandatnya sebagai pengelola TOD di koridor MRT Jakarta,” jelas Tuhiyat.
Sementara terkait lokasi pembangunan TOD bersama Shenzen Metro Group pun belum disampaikan secara spesifik.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Gubernur Pramono membahas peluang pengembangan kawasan berorientasi transit yang modern dan berkelanjutan untuk mendorong transportasi perkotaan Jakarta.
“Kami ingin memiliki perbandingan efektivitas MRT di berbagai kota dunia. Shenzhen menjadi rujukan karena efisiensi pelayanan dan operasionalnya,” ujarnya.
Pramono menyoroti kesenjangan capaian antara kedua kota. Shenzhen Metro mampu mengangkut hingga 13 juta penumpang per hari dengan jaringan sekitar 635 kilometer.
Adapun MRT Jakarta saat ini melayani sekitar 128.000 penumpang per hari. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pembelajaran penting untuk mempercepat pengembangan MRT dan kawasan TOD di Jakarta.
“Ini menjadi urgensi, karena mobilitas keluar-masuk Jakarta mencapai sekitar 4 juta orang per hari. MRT harus dikembangkan sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan sekaligus mendukung integrasi kawasan aglomerasi,” ujarnya.





