FAJAR, BANDUNG — Persaingan menuju tangga juara Super League 2025/2026 kini memasuki babak paling menegangkan. Tekanan tidak hanya dirasakan oleh tim-tim papan bawah yang berjuang menghindari degradasi, tetapi juga oleh pemuncak klasemen, Persib Bandung, yang mulai merasakan napas panas pesaing terdekatnya, Borneo FC.
Situasi menjadi semakin genting setelah Persib Bandung kembali gagal meraih kemenangan. Bermain di kandang sendiri, Stadion Gelora Bandung Lautan Api, mereka hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Arema FC. Hasil ini membuat koleksi poin Persib tertahan di angka 66, membuka celah besar bagi Borneo FC yang kini hanya terpaut tiga poin dan masih menyimpan satu pertandingan di tangan.
Momentum jelas berpihak kepada tim berjuluk Pesut Etam. Berbeda dengan Persib yang mulai inkonsisten, Borneo FC justru tampil stabil dan bahkan cenderung semakin solid dari pekan ke pekan. Laga melawan Semen Padang FC di Stadion Segiri, Sabtu (25/4/2026), menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk merebut puncak klasemen sekaligus memperbesar tekanan terhadap rivalnya.
Bagi Semen Padang, pertandingan ini bukan sekadar laga tandang biasa. Mereka berada dalam situasi genting di papan bawah dan terancam turun kasta ke Liga 2. Menghadapi Borneo FC yang sedang dalam performa terbaik jelas menjadi ujian berat, bahkan bisa menjadi awal dari akhir perjalanan mereka di kasta tertinggi jika gagal mencuri poin.
Sementara itu, Borneo FC datang dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka belum tersentuh kekalahan dalam tujuh pertandingan terakhir—sebuah catatan impresif yang menunjukkan konsistensi luar biasa. Bahkan lebih mencolok lagi, lini pertahanan mereka tampil nyaris sempurna dengan minim kebobolan dalam periode tersebut.
Kebangkitan Borneo FC dimulai sejak kekalahan terakhir mereka dari Dewa United pada pekan ke-21. Sejak saat itu, mereka bertransformasi menjadi tim yang sulit dikalahkan. Dalam tujuh laga terakhir, mereka mengemas lima kemenangan dan dua hasil imbang, termasuk kemenangan meyakinkan atas tim-tim kuat seperti Arema FC (3-1), Persebaya Surabaya (5-1), Madura United (3-1), PSBS Biak (5-1), hingga PSM Makassar (2-1).
Catatan tersebut tidak hanya menunjukkan produktivitas lini serang, tetapi juga keseimbangan tim secara keseluruhan. Salah satu figur penting di balik performa ini adalah Mariano Peralta, yang menjadi kunci dalam menjaga stabilitas permainan tim.
Di sisi lain, performa Persib Bandung justru menunjukkan tren sebaliknya. Dalam delapan pertandingan terakhir, mereka hanya mampu meraih empat kemenangan dan empat hasil imbang. Tidak ada kekalahan memang, tetapi kegagalan meraih poin penuh di momen krusial menjadi kerugian besar dalam perburuan gelar.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, mengakui bahwa timnya sudah berusaha maksimal dalam laga melawan Arema FC. Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap solidnya pertahanan lawan.
“Setiap pertandingan kami berusaha menang. Tapi kita tahu Arema bermain bertahan dan betul-betul menjalankan instruksi pelatihnya dengan baik,” ujar Hodak dalam sesi konferensi pers usai laga.
Pernyataan tersebut mencerminkan frustrasi yang wajar. Dominasi tanpa efektivitas di depan gawang menjadi masalah klasik yang kini kembali menghantui Persib di fase krusial musim.
Jika melihat jadwal yang tersisa, tantangan Persib juga tidak ringan. Mereka masih harus menghadapi tim-tim kuat seperti Bhayangkara FC, rival klasik Persija Jakarta, serta PSM Makassar. Setiap pertandingan berpotensi menjadi batu sandungan jika mereka tidak segera menemukan kembali konsistensi permainan.
Sebaliknya, Borneo FC memiliki jalur yang relatif lebih “bersahabat”. Setelah menghadapi Semen Padang, mereka akan bertandang ke markas Persik Kediri, lalu menjamu Persita Tangerang. Meski tetap tidak mudah, lawan-lawan ini secara klasemen bukan pesaing langsung dalam perebutan gelar.
Namun, dalam sepak bola, keunggulan di atas kertas tidak pernah menjadi jaminan. Justru di fase seperti ini, tekanan mental sering kali menjadi faktor penentu. Borneo FC harus mampu menjaga fokus dan tidak terjebak dalam euforia, sementara Persib Bandung dituntut untuk bangkit dan mengembalikan ketajaman mereka.
Jika Borneo FC mampu memanfaatkan momentum dan mengamankan kemenangan demi kemenangan, bukan tidak mungkin mereka akan merebut takhta klasemen dari Persib Bandung dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika Persib mampu bangkit dan tampil lebih efektif, mereka masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan posisi puncak dan mewujudkan ambisi hattrick juara.
Pada akhirnya, perburuan gelar musim ini menjadi salah satu yang paling dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Dengan selisih poin yang tipis dan jadwal yang masih menyisakan banyak kejutan, setiap pertandingan kini terasa seperti final.
Dan Sabtu ini, di Stadion Segiri, satu bab penting akan ditulis: apakah Borneo FC benar-benar siap menggusur Persib Bandung dari singgasana, sekaligus mendorong Semen Padang FC semakin dekat ke jurang degradasi.





