“In This Economy”, Masih Relevankah Anggaran Tinggi untuk Rumah Jabatan?

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana renovasi rumah jabatan (rujab) Gubernur Kalimantan Timur senilai Rp 25 miliar membetot perhatian publik. Masih relevankah anggaran tinggi untuk rujab, in this economy?

Uang rakyat yang rencananya akan digelontorkan untuk memugar rumah dinas Gubernur membuat rakyat Kaltim bergerak kritis. Demonstrasi sempat bergulir.

Baca juga: Airlangga-Purbaya Merapat ke Istana di Tengah Rencana Efisiensi dan WFH

Publik semakin geram ketika fasilitas di luar kedinasan termasuk dalam penganggaran, seperti kursi pijat dan akuarium air laut.

Di sisi lain sebagaimana terformulasikan dalam frasa populer in this economy, kondisi finansial saat ini serba tidak pasti dan menuntut efisiensi di sana-sini.

Tidak relevan

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menilai, pembangunan rumah jabatan di era kini sudah tidak relevan.

Terlebih, jika pembangunan atau renovasinya diutamakan ketika beragam fasilitas publik justru di wilayah tersebut masih buruk.

"Untuk saat ini, sebenarnya itu sudah enggak relevan lagi dengan memperbaiki rumah dinas mereka yang mewah-mewah, sementara masyarakatnya miskin atau fasilitas infrastrukturnya buruk," kata Misbah saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Wamendagri: Batalkan Anggaran Rujab Gubernur Kaltim Rp 25 M Jika Tak Prioritas

Senada, pakar antikorupsi sekaligus eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Praswad Nugraha beranggapan, rumah jabatan pada dasarnya adalah fasilitas negara yang sudah tersedia, bukan sesuatu yang harus selalu dibangun ulang dari nol.

Maka ketika renovasi dilakukan hingga menelan anggaran sangat besar, bahkan mencapai puluhan miliar rupiah, hal tersebut menjadi tidak efektif dan tidak efisien.

Utamanya jika pembangunan dipaksakan di tengah kondisi ekonomi yang menuntut penghematan.

Ia mengimbau, kepala daerah seharusnya lebih dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah ada.

"Jika terdapat kerusakan, cukup dilakukan perbaikan seperlunya. Tidak perlu ada renovasi besar-besaran yang tidak memberikan manfaat signifikan bagi publik. Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, pengeluaran besar untuk hal yang tidak mendesak justru tidak tepat dan berlebihan," ucap Praswad kepada Kompas.com.

Baca juga: 4 Hal yang Harus Dilakukan Kelas Menengah In This Economy

Ego dan prestise

Praswad berpandangan, praktik renovasi rumah jabatan secara berlebihan akan mencerminkan simbol kekuasaan dan pemenuhan ego semata.

Padahal, jabatan publik seharusnya diiringi dengan kesederhanaan dan empati terhadap kondisi masyarakat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Di saat banyak warga masih menghadapi kesulitan, penggunaan anggaran negara untuk kemewahan pribadi menjadi kontras yang sulit dibenarkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bangun Ekosistem Pembelajaran Inovatif Bawa Sleman Raih National Governance Awards 2026
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Curhat ke Zulkifli Hasan, Pengusaha Dapur MBG Tuntut Tata Kelola Transparansi Anggaran
• 22 jam laludisway.id
thumb
Dedi Mulyadi Segera Evaluasi Jalur Kereta usai Kecelakaan Maut KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Sopir Green SM Sudah Diperiksa Polisi Terkait KRL Vs KA Argo Bromo, Masinis dan Petugas Stasiun Nyusul
• 19 menit laluviva.co.id
thumb
Taylor Swift Soroti Fans yang Suka Main Detektif soal Lagu-Lagunya
• 1 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.