Brand produk olahraga Jerman, Adidas, sedang dipuja-puji setelah Sabastian Sawe asal Kenya, menjadi orang pertama di dunia yang berhasil lari maraton dalam waktu kurang dari dua jam, mengenakan sepatu Adidas Adizero Adios Pro Evo 3, dalam perlombaan resmi London Marathon pada Minggu, 26 April 2026.
Sawe akhirnya memecahkan batasan paling sulit dalam sejarah atletik dunia, setelah ia meraih catatan lari maraton dalam 1 jam 59 menit 30 detik.
Berlari maraton di bawah dua jam telah menjadi salah satu tujuan terbesar dalam dunia olahraga selama bertahun-tahun lalu.
Kemenangan Sawe juga menjadi kemenangan besar bagi Adidas dalam persaingan dengan rival utamanya, Nike, yang sebenarnya memulai lebih dulu eksperimen memecahkan maraton kurang dari dua jam sejak bertahun-tahun lalu.
Setelah bertahun-tahun melakukan eksperimen yang didukung laboratorium inovasi, dan beberapa kali hampir berhasil dalam upaya membangun "sepatu super" untuk memecahkan rekor, akhirnya kemanangan telak itu diraih oleh brand Adidas.
Tiga Pemenang London Marathon Pakai Adizero Adios Pro Evo 3Usai memenangkan London Marathon, Sawe mengangkat sepatu lari Adizero Adios Pro Evo 3 seharga 500 dolar AS miliknya yang bertuliskan: 1:59:30 WR dan Sub-2. Tulisan dengan spidol itu bermakna bahwa ia telah menyelesaikan maraton dalam 1 jam 59 menit 30 detik, memecahkan Rekor Dunia (World Record) dalam waktu kurang dari 2 jam (Sub 2).
Sawe mengalahkan rekor dunia sebelumnya yaitu 2:00:35 yang dicetak di Chicago Marathon pada Oktober 2023 oleh mendiang Kelvin Kiptum asal Kenya. Kiptum meninggal dunia pada 11 Februari 2024 saat berusia 24 tahun.
Sepatu Adizero Adios Pro Evo 3 akan dijual untuk umum per Kamis, 30 April 2026, seharga 500 dolar AS.
Yomif Kejelcha dari Ethiopia finis kedua di London Marathon 2026 dalam debut maratonnya, dengan waktu 1 jam 59 menit 41 detik, yang juga menggunakan sepatu Adizero Adios Pro Evo 3.
Kategori perempuan London Marathon dimenangkan Tigst Assefa dalam waktu 2 jam 15 menit 41 detik, yang memecahkan rekor dunia khusus wanita miliknya sendiri. Ia juga mengenakan sepatu lari Adizero Adios Pro Evo 3.
"Saya sangat senang telah memecahkan rekor dan menang di London untuk kedua kalinya. Ini sangat berarti bagi saya," kata Assefa, yang mengaitkan kemenangan tersebut dengan sepatu yang "memungkinkan saya berlari cepat" - dan disiplin serta kerja keras selama bertahun-tahun.
"Saya telah berlatih keras, dan karena semua kerja keras yang telah saya lakukan itu, membawa saya mencapai tingkat kesuksesan ini," katanya, mengutip Reuters.
Adizero Adios Pro Evo 3 merupakan super shoes flagship Adidas generasi ketiga. Dia menggunakan busa inovatif dan sol berlapis karbon, serta komponen ultra ringan. Bobot rata-rata 97 gram, 30% lebih ringan dari generasi sebelumnya. Menurut Adidas, inovasi ini meningkatkan efisiensi lari sebesar 1,6 persen.
Berdasarkan pengamatan Reuters pada garis start London Marathon hari Minggu, 26 April 2026, banyak pelari amatir yang mengenakan sepatu Adidas dan Puma Nitro Elite. Sepatu Nike Alphafly dan Vaporfly -yang selama bertahun-tahun mendominasi garis start- sangat jarang terlihat.
Adidas vs Nike di Lomba Sepatu Maraton DuniaPasar sepatu lari telah tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan persaingan untuk mengubah teknologi baru menjadi produk yang menguntungkan.
Ajang lari maraton itu sendiri jadi tempat pembuktian bagaimana produk sepatu lari dan pakaian olahraga diterima oleh para pelari. Banyak brand olahraga yang mengerahkan staf mereka untuk menghitung para finisher yang mengenakan brand mereka.
Merek-merek spesialis seperti Hoka dari Prancis dan On dari Swiss telah diuntungkan dari meningkatnya permintaan atas produk mereka. Sementara Nike, yang secara kultur lebih berkonsentrasi pada segmen olahraga basket yang berfokus di AS, harus memikirkan kembali strategi globalnya.
"Nike akan meluncurkan versi baru sepatu maraton Alphafly dan Vaporfly, tetapi sepatu-sepatu itu baru akan dirilis akhir tahun ini," kata Simon Jaeger, manajer portofolio perusahaan asset management Flossbach von Storch yang memegang saham di Adidas dan Nike.
"Nike mengalami masalah karena kurang inovatif," kata Jaeger, seraya menunjuk pada "kegagalan kepemimpinan" oleh mantan CEO Nike sebelumnya, John Donahoe.
CEO Nike yang saat ini menjabat, Elliott Hill, memimpin perusahaan pada 2024. Ia berjanji untuk memusatkan kembali merek tersebut pada olahraga inti seperti lari dan sepak bola, tetapi mereka dihadapkan pada margin yang terus menurun, yang menyebabkan penurunan kapitalisasi pasar perusahaan dan pemutusan hubungan kerja.
Jaeger mengatakan, Adidas unggul dalam teknologi sepatu dan sepatu lari berperforma tinggi.
"Keluarga Adidas sangat bangga dengan pencapaian bersejarah Sabastian dan Tigst," kata Patrick Nava, manajer umum Adidas Running, dalam sebuah pernyataan. "Ini adalah bukti dari kerja keras dan dedikasi selama bertahun-tahun yang telah mereka lakukan, bersama dengan tim inovasi kami."
Adidas merilis sepatu lari Adizero Adios Pro Evo 1 pada akhir 2023, setelah Assefa mencetak rekor dunia maraton wanita baru saat mengenakannya di Berlin Maraton wanita.
Sepatu Adizero Adios Pro Evo 3 akan dirilis untuk umum melalui aplikasi Adidas, dengan perilisan yang lebih luas pada musim maraton musim gugur, menurut situs web perusahaan. Tetapi, harganya yang tinggi membuatnya sulit dijangkau oleh sebagian besar pelari.
Upaya Nike Tak Diakui Secara ResmiPada 2016, Nike memulai projek bernama Breaking2 yang bertujuan memecahkan rekor lari maraton kurang dari dua jam. Tiga pelari elit dilibatkan, yaitu Eliud Kipchoge (Kenya), Zersenay Tadese (Eritrea), Lelisa Desisa (Etiopia), lalu lari maraton digelar di lintasan balap Formula 1 Autodromo Nazionale di Monza, Italia, pada 6 Mei 2017. Sirkuit balap mobil Monza dipilih karena kombinasi ketinggiannya yang rendah, kondisi cuaca yang tenang, dan panjang putaran yang pendek. Para pelari memakai sepatu lari Nike Vaporfly Elite.
Tapi, projek ini gagal. Eliud Kipchoge menyelesaikan maraton dalam 2:00:25. Meskipun rekor dunia pada saat itu adalah 2:02:57, catatan waktu Kipchoge ini tidak diakui sebagai rekor baru, karena Kipchoge dan dua atlet elit lainnya berlari dengan daftar pacemaker yang dapat diganti-ganti. Kala itu, Nike menyediakan kendaraan pacemaker, serta pelari pacemaker lain, yang ditempatkan untuk melindungi atlet utama dari hambatan angin.
Nike bersama perusahaan kimia INEOS, menggelar event khusus berikutnya, INEOS 1:59 Challenge di Wina, Austria, pada 12 Oktober 2019, dengan motto "No Human is Limited". Eliud Kipchoge sukses menempuh jarak maraton (42,195 km) dalam waktu kurang dari dua jam, yaitu 1:59:40.2. Di sini Kipchoge menggunakan pelari pendamping elit dan teknologi khusus untuk membuktikan bahwa prestasi tersebut mungkin dilakukan.
Apa daya, semua upaya Nike dalam Breaking2 maupun INEOS 1:59 Challenge, tidak dicatat secara resmi dalam perlombaan maraton. Event ini melibatkan pacemaker, pemberian hidrasi oleh petugas bersepeda, dan kurangnya kompetisi yang terbuka, membuat event tersebut tidak memenuhi syarat untuk disahkan sebagai rekor dunia maraton dan tidak diakui sebagai rekor dunia oleh World Athletics.





