JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengatakan, sebanyak 13 Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi tahap ketiga dari Iran sudah tiba di Tanah Air pada 21 April 2026.
“Terkait proses evakuasi di WNI di Iran, kita telah melakukan evakuasi tiga tahap di Iran. Dan yang terakhir itu, 13 orang WNI telah tiba di Tanah Air pada tanggal 21 April lalu,” kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah di kantor Kemenlu, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Baca juga: Soal Evakuasi Tahap Tiga 45 WNI di Iran, Kemlu: 9 Orang Tiba di Jakarta Petang Ini
Heni mengatakan, WNI di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan terpantau dalam keadaan aman.
Meski demikian, dia mengatakan, kewaspadaan tetap diperlukan.
“Dalam situasi darurat, tentunya para WNI diimbau untuk menghubungi hotline perwakilan terdekat dan hotline pelindungan WNI di Pusat,” ujarnya.
Baca juga: Mulai Hari Ini, Pemerintah Evakuasi Bertahap WNI di Iran
Kedatangan WNI dari Iran sebelumnyaSebelumnya, sebanyak 9 WNI yang dievakuasi di Iran tiba di Tanah Air pada 16 April petang.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah mengatakan, 9 WNI itu merupakan bagian dari 45 WNI yang ikut dievakuasi dalam tahap ketiga.
Dia mengatakan, pemulangan 45 WNI dilakukan secara bertahap dalam tiga kloter penerbangan.
“Untuk 45 WNI dievakuasi ini dibagi menjadi tiga kloter ketibaan di Jakarta. Kloter pertama telah tiba di tanggal 14 April lalu sejumlah 14 orang, kemudian kloter kedua itu sejumlah 9 orang kemarin di tanggal 15, dan kloter ketiga 9 orang akan tiba di petang hari ini,” kata Heni di kantor Kemlu, Jakarta, Kamis.
Heni juga mengatakan, ada 13 orang Anak Buah Kapal (ABK) yang masih kita tampung di Baku untuk menunggu penerbangan selanjutnya ke Jakarta.
“Para evakuasi ini setibanya di Tanah Air kami serah terimakan ke Dinas Sosial dan Badan Penghubung Provinsi untuk proses pemulangan mereka ke daerah asal masing-masing,” ujarnya.
Dia mengatakan, berdasarkan data KBRI Teheran, jumlah WNI yang berada di Iran setelah dilakukan evakuasi yaitu 236 orang yang terdiri dari mahasiswa dan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
“Sisanya adalah PMI dan juga ekspatriat yang menikah dengan warga negara sana,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



