Minat Baca Meningkat, tetapi Akses ke Buku Terbatas

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Kegemaran membaca masyarakat Indonesia menunjukkan tren meningkat tetapi tak diiringi dengan akses terhadap buku bacaan yang terjangkau secara luasan maupun harga. Akses terhadap buku masih menjadi tantangan utama dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.

Country Director Big Bad Wolf (BBW) Indonesia Marthius Wandi Budianto menilai, akses terhadap buku masih menjadi isu utama dalam upaya meningkatkan literasi. Harga buku relatif mahal di pasar reguler kerapkali menjadi penghambat, sehingga model bazar dengan diskon besar seperti BBW mampu menarik massa dalam jumlah besar.

"Bisa jadi akar literasi rendah itu bukan karena minat bacanya nggak ada, tapi bukunya yang enggak ada. Kalau memang tidak kenal buku dari kecil dan persebaran bukunya terbatas, mungkin itu yang membuat literasinya tinggal di bawah," kata Marthius, saat ditemui di ICE BSD City, Tangerang, Banten, pada Jumat (1/5/2026).

Dalam pameran BBW Jakarta 2026 yang dibuka sejak 29 April 2026 pukul 00.00 WIB hingga 3 Mei 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, antusiasme warga terlihat. Mereka rela mengantre panjang demi berburu buku di pameran tersebut.

Para pengunjung memborong buku dengan troli besar, ada yang belanja buku untuk koleksi pribadi, tak sedikit pula yang belanja mencari peruntungan dari jasa titip beli.

Dengan menghadirkan puluhan juta buku di area seluas 15.000 meter persegi serta diskon besar-besaran, BBW mencoba menjawab tantangan akses terhadap buku tersebut.

Dengan membuka bazar sepanjang 24 jam kali 5 hari penuh pengunjung dapat datang kapan saja, tengah malam, dini hari, pagi, siang, maupun larut malam untuk menikmati jutaan buku internasional berkualitas dengan harga sangat terjangkau, tanpa batas waktu.

Pasar buku di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh faktor harga dan insentif tambahan, bukan semata kebutuhan membaca.

Pendekatan ini efektif menarik pengunjung, termasuk dari kalangan keluarga muda. Sekitar 70 persen koleksi yang ditawarkan didominasi buku anak-anak yang menunjukkan ada pergeseran fokus pada pembentukan kebiasaan membaca sejak dini. Selain buku anak, ada buku novel, bisnis, pengembangan diri, referensi, hobi, hingga pendidikan.

" Buku anak-anak itu kalau di luar negeri itu sudah lebih banyak perkembangannya. Ada jenis-jenis buku kayak sound book, pop-up book, activity book, dan sebagainya. Nah, itu yang justru seharusnya banyak di Indonesia untuk membantu orangtua muda mendidik anaknya agar punya kebiasaan baca dari kecil," ucapnya.

Founder Big Bad Wolf Books, Andrew Yap menambahkan, pasar perbukuan di Indonesia sangat menjanjikan karena di antara 17 negara yang menyelenggarakan BBW, Indonesia selalu menjadi negara dengan tingkat penjualan terbanyak selama bazar. Energi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, jadi faktor pembeda dibandingkan negara lain.

Pertumbuhan pembaca di Indonesia berkelanjutan dan lintas generasi. Fenomena ini menunjukkan pasar buku di Indonesia tidak hanya bersifat sesaat, tetapi memiliki potensi jangka panjang jika kebiasaan membaca berhasil dibangun sejak dini.

Baca JugaBuku dan Media Massa sebagai Pencatat Sejarah...

Andrew menegaskan BBW tidak sekadar beroperasi sebagai penjual buku, melainkan membawa misi literasi yang lebih luas. Oleh karena itu, Indonesia merupakan bagian penting dalam perjalanan global BBW.

“Selama satu dekade di Indonesia, kami melihat bagaimana buku mampu membuka wawasan, membangun mimpi, dan mengubah masa depan. Jakarta selalu memiliki energi luar biasa, dan kami bangga dapat kembali menghadirkan akses buku yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Andrew.

Faktor harga

Namun pendekatan ini juga menunjukkan pasar buku di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh faktor harga dan insentif tambahan, bukan semata kebutuhan membaca. Dengan kata lain, pasar buku bergerak, tetapi belum sepenuhnya ditopang oleh budaya literasi yang mapan.

Hal ini tergambar dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yang menunjukkan tren peningkatan meski dalam kategori sedang, yakni dari 63,9 pada 2022, 66,7 tahun 2023, dan 72,44 tahun 2024.

Hasil Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat ini diperoleh dari survei terhadap 174.226 responden berusia 10–69 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Baca JugaBuku Masih Menjadi Media Literasi yang Relevan di Era Digital

Secara terpisah, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Endang Aminudin Aziz menegaskan peningkatan literasi harus dimulai dari menghidupkan perpustakaan. Namun keberhasilan perpustakaan tidak ditentukan oleh besarnya gedung, banyaknya koleksi buku, maupun jumlah fasilitas atau pengunjung.

“Tidak masalah jika perpustakaan itu kecil dan memiliki keterbatasan koleksi maupun pengunjung. Yang terpenting adalah aktivitas literasi yang berlangsung di dalamnya,” kata Aziz.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kinerja Manis YUPI Awal 2026, Pendapatan Naik 9% Jadi Rp763,18 Miliar
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton, DPR Sebut Ketahanan Pangan Menguat dan Dekati Swasembada
• 23 jam lalupantau.com
thumb
BGN Copot Korwil SPPG Buntut Skandal Upeti dengan Oknum Anggota DPRD
• 20 jam laludisway.id
thumb
Jasa Marga Kebut Tol Yogyakarta-Bawen Usai Dapat Kredit Sindikasi Rp17,92 Triliun
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Trump Disebut Bakal Terima Pemaparan Opsi Baru soal Iran, Harga Minyak Meroket
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.