JAKARTA, KOMPAS – Penguatan keilmuan biomedik di Indonesia melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan kedokteran presisi di Indonesia. Apalagi Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah mengatur bahwa tenaga biomedis diakui sebagai bagian tenaga kesehatan untuk mendukung diagnosis kesehatan yang tepat demi layanan kesehatan presisi bagi masyarakat.
Ketua Umum Konsorsium Ilmu Biomedi Indonesia, Asmarinah, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia (KIBI), di Universitas Yarsi, Jakarta, Selasa (12/5/2026), menjelaskan, sesuai UU Kesehatan, tenaga kesehatan bukan sekadar bidan atau tenaga perawat. Ada juga tenaga biomedis yang diakui sebagai tenaga kesehatan.
Tenaga biomedis ini bekerja di laboratorium membantu diagnostik penyakit. Pendidikan ilmu biomedik ini mulai dari jenjang Strata I karena bukan hanya mempelajari ilmu biomedik, tetapi juga teknik pengerjaan dan pengukuran untuk analisis molekul.
“Tenaga biomedis ini berkembang kebutuhannya terutama sejak pandemi Covid-19 kemarin. Apalagi kesehatan kini berkembang ke arah genetik untuk mendukung layanan kesehatan presisi. Keilmuan biomedik dari jenjang sarjana sampai doktor diperlukan. Yang doktor terutama untuk mendukung riset yang menghasilkan inovasi,” kata Asmarinah, Guru Besar Ilmu Biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini.
Hingga kini, melalui Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia (KIBI), program studi ilmu biomedik/biomedis jenjang sarjana dan pascasarjana di perguruan tinggi, yang masih terbatas jumlahnya, ini berkolaborasi merumuskan arah strategis pengembangan ilmu biomedik Indonesia di masa depan. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI KIBI yang berlangsung Senin-Selasa (11-12/5/2026), ini merupakan salah satu upaya menguatkan kolaborasi.
Acara rakernas bertajuk “Satu Dekade KIBI: Menguatkan Kolaborasi, Mengakselerasi Dampak Tridharma Ilmu Biomedis Untuk Indonesia” ini juga dilanjutkan dengan kegiatan pengabdian masyarakat nasional pada 13 Mei 2026 di Kecamatan Parongpong, Lembang, Jawa Barat.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI KIBI yang berlangsung Senin-Selasa (11-12/5/2026), ini merupakan salah satu upaya menguatkan kolaborasi.
Kegiatan ini bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Di kegiatan tersebut, KIBI memberikan layanan deteksi penyakit menular tuberkulosis (TBC) serta tes IVA untuk deteksi kanker serviks sebagai komitmennya untuk terus menjadi penggerak kolaborasi ilmu biomedis yang adaptif, inovatif, dan berdampak bagi kemajuan kesehatan nasional serta penguatan daya saing akademik Indonesia di tingkat global.
Asmarinah mengatakan, selama satu dekade keanggotaan KIBI bertambah signifikan. Pada 2024, KIBI memiliki 26 program studi (prodi) yang terdiri atas 18 program magister dan 8 program doktor dari 20 institusi. Hingga 2025, jumlah anggota meningkat menjadi 38 program studi yang terdiri atas 4 program sarjana, 23 program magister, dan 11 program doktor dari 26 universitas di Indonesia.
“Pertumbuhan ini mencerminkan semakin kuatnya kebutuhan akan kolaborasi nasional dalam pengembangan ilmu biomedis dan kedokteran di Indonesia. Dalam bidang pendidikan, KIBI telah berhasil merumuskan kurikulum inti nasional KIBI untuk program sarjana, magister, dan doktor Ilmu Biomedis sebagai upaya harmonisasi mutu pendidikan biomedis nasional. Selain itu, KIBI secara aktif mendukung penjaminan mutu dan akreditasi prodi,” papar Asmarinah.
Sementara itu, Rektor Universitas Yarsi Fasli Jalal mengatakan layanan kesehatan kepada masyarakat saat ini perlu presisi dalam diagnosa dan pengobatan. Dalam kedua lini inilah, ilmu biomedik dibutuhkan sebagai instrumental untuk mempertajam bagaimana diagnosa yang makin kuat, cepat, tepat, dan canggih.
“Dalam perkembangannya untuk mendukung diagnosa penyakit oleh dokter secara tepat memerlukan ahli-ahli yang berkembang, yang dapat memeriksa dari beragam indikator. Seperti di laboratorium memang sudah bisa dibantu dengan kecerdasan buatan, namun analisa yang akurat sehingga diagnosanya lebih presisi dan juga pengobatan yang cocok sesuai tipe orang, dibutuhkan dukungan dari ahli biomedis ini,” ujar Fasli.
Fasli mengatakan pengembangan ilmu biomedik, seperti di Universitas Yarsi di jenjang pascasarjana, relevan untuk Indonesia yang menuju kedokteran dan layanan kesehatan presisi. Apalagi Indonesia masih menghadapi sejumlah penyakit menular seperti angka TBC yang tinggi, semakin membutuhkan pengobatan presisi.
“Kalau memakai dosis pengobatan dari negara barat, kan, itu percobaan klinis dari negara-negara sana. Padahal mungkin per individu, apalagi kalau kita kaitkan dengan profil genomiknya, jangan-jangan dosisnya tidak tepat sesuai kebutuhan. Jika kelebihan justru bisa berbahaya bagi pasien,” kata Fasli yang juga Guru Besar Ilmu Nutrisi Klinis.
Fasli mengatakan pengembangan ilmu biomedik, seperti di Universitas Yarsi di jenjang pascasarjana, relevan untuk Indonesia yang menuju kedokteran dan layanan kesehatan presisi.
Fasli menjelaskan, keilmuan biomedik di Universitas Yarsi, antara lain menyiapkan patolog (tenaga untuk mendiagnosis penyakit melalui pemeriksaan di laboratorium) dengan memperkuat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan kemampuan analisis yang presisi. Salah satunya dalam diagnosis kanker.
“Patolog hanya bisa mengerjakan satu hari 8 slide karena satu jam per slide. Dengan algoritma, hanya 6 menit molekul bisa dipisah untuk tahu yang normal dengan yang tidak normal. Jadi waktu dari patolog tidak lagi habis untuk memisah antara yang normal dengan yang bermasalah. Di sinilah, keahlian dengan ilmu biomedik diperlukan untuk menemukan lebih dalam sehingga diagnosisnya lebih tepat,” kata Fasli.
Demikian juga di ruang ICU untuk mengatasi sepsis (komplikasi akibat infeksi yang dapat mengancam nyawa). Jika kurang dari tiga jam pasien diberi antibiotek yang tepat, maka tingkat kematian rendah. Sebaliknya jika lebih dari tiga jam tingkat kematian bisa meningkat.
Peran dari tenaga biomedis dapat membantu para dokter terkait untuk memberikan obat apa yang tepat pada pasien. “Dengan bantuan AI, kemampuan dokter dan dukungan diagnosis dari tenaga biomedis yang tepat, pengobatan presisi untuk pasien meningkatkan kesembuhan,” kata Fasli.
Asmarinah mengatakan penguatan ilmu dan ahli biomedis di Indoensia dapat mendukung untuk pengembangan vaksin yang tepat sesuai genetik orang Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa. Selain itu juga untuk mendukung penggunaan obat yang presisi dan terapi yang tepat.
“KIBI berkomitmen untuk terus menjadi penggerak kolaborasi ilmu biomedis yang adaptif, inovatif, dan berdampak bagi kesehatan masyarakat serta penguatan daya saing akademik Indonesia di tingkat global,” ujarnya.
Menurut Asmarinah, KIBI menetapkan atau memformulasikan standar kompetensi untuk pendidikan ilmu biomedik, mulai dari ilmu yang harus diberikan, fasilitas laboratorium, skill laboratorium yang harus dipunyai lulusan S1 biomedik. Demikian juga di jenjang S2 yang harus lebih tinggi kompetensinya, serta S3 yang harus lebih dalam lagi riset dan menemukan kebaruan atau teori.




