Ego, Respect, dan Profesionalisme

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Ego merupakan sesuatu yang ada di dalam setiap diri manusia. di dalam kadar yang wajar, ego dapat menjadi suatu bahan bakar yang mendorong seseorang untuk berkembang, untuk tidak menyerah dan untuk mempertahankan pendirian. Namun ada satu kondisi dimana ego berhenti menjadi kekuatan atau energi yang positif dan mulai berubah menjadi suatu penghalang, terutama ketika masuk ke dalam ruangan yang menuntut kerjasama.

Menariknya, ego jarang hadir dalam keadaan yang terlihat dengan jelas dan lebih banyak terakumulasi menjadi suatu hal yang bersifat tersirat seperti sikap dingin, komunikasi yang tiba-tiba menghilang hingga berbentuk ketidakhadiran yang terasa disengaja. dari sinilah permasalahan mulai terlihat: ketika ego lebih besar dari rasa tanggung jawab, profesionalisme adalah hal pertama yang dikorbankan.

Lalu bagaimana dengan respect? Apakah ia masih mempunyai tempat ketika ego sudah terlalu menguasai? Dan seberapa besar peran kecerdasan emosional dalam menentukan apakah seseorang mampu untuk memisahkan perasaan pribadi dari kewajiban nya dalam lingkup ruang bersama?

Banyak orang mengira ego yang bermasalah itu mudah dikenali, memang. Namun seringkali ego yang bermasalah diasosiasikan dengan sosok yang keras kepala, suka mendominasi, atau suka untuk menonjolkan diri. Padahal ego yang paling sulit untuk dihadapi adalah yang datang dalam bentuk sunyi seolah pesan yang dibaca tapi tidak dibalas. Bentuk-bentuk seperti ini terlihat seperti tidak meninggalkan bukti yang mudah ditunjuk, tapi dampaknya terasa oleh orang lain yang ada di dalam ruangan yang sama.

Di sinilah kecerdasan emosional (EQ) mulai berperan. EQ yang baik mampu untuk mengontrol bagaimana cara ia bereaksi dan menghargai orang lain namun juga tahu bagaimana menghargai diri sendiri secukupnya. Orang dengan EQ yang baik tetap dapat merasakan amarah, kekecewaan hingga kesedihan yang mendalam namun tetap tahu di mana batas antara perasaan yang bisa diubah menjadi suatu tindakan nyata dengan sikap yang tidak profesional. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki EQ rendah biasanya perasaan yang tidak lagi di saring dan langsung menjadi sebuah tindakan. sehingga tanpa disadari pun ego mulai menggerakkan perilaku.

Masalah sebenarnya bukan ketika ego muncul di lingkup personal, karena hal tersebut masih bisa dipahami. Manusia tentunya bukan mesin berjalan dan perasaan pribadi merupakan hal yang sangat manusiawi. Yang menjadi persoalan adalah ketika pola sikap itu tidak berhenti di sana dan ikut terbawa masuk ke dalam ruang kerja, ruang diskusi, dan ruang-ruang yang menuntut objektivitas.

Dan pertanyaan selanjutnya layak diajukan adalah: Bila dalam skala yang kecil saja ego sudah mampu mengalahkan profesionalisme, lalu apa yang bisa diharapkan ketika situasinya jauh lebih kompleks dengan taruhan yang jauh lebih besar?

Ego, respect, dan profesionalisme adalah tiga hal yang tidak semudah itu untuk dipisahkan karena mereka saling terkait. Di saat salah satu tidak sejalan dengan yang lain (atau dalam kata lain tidak seimbang) maka yang lain akan ikut kacau. Ego yang dibiarkan mendominasi akan menekan tingkat profesionalisme seseorang. Dan ketika profesionalisme sudah tergerus, respect pun tidak ada lagi ruang untuk tumbuh karena untuk fondasi sebuah respect itu sendiri juga tidak lagi kuat untuk menopang.

Berbicara soal respect, ada satu hal yang sering disalahpahami. Respect dalam konteks ini bukan soal rasa suka atau tidak nya, melainkan soal pilihan untuk tetap berlaku profesional meski keadaannya tidak ideal. Pilihan untuk tidak membawa urusan pribadi ke dalam ruang yang menuntut objektivitas. Pada akhirnya hal tersebut adalah yang membedakan seseorang yang benar-benar profesional dari seseorang yang hanya terlihat profesional ketika segalanya sedang baik-baik saja.

Kembali lagi kecerdasan emosional cukup penting di sini, sebagai kemampuan untuk menempatkan perasaan itu pada posisi yang tepat namun tidak dibiarkan mengendalikan sepenuhnya. Ada waktu dan tempat untuk segala sesuatu dan ruang profesional bukan tempat untuk menyelesaikan urusan yang seharusnya diselesaikan di tempat lain. Kabar baiknya kemampuan emosional adalah hal yang bisa dilatih dan ditingkatkan, yang artinya adalah selama ada kesadaran dan kemauan untuk melakukan nya maka pasti bisa berkembang.

Di dunia yang sangat dinamis beserta segala tuntutan kerjasama di dalam nya ini, tentunya tidak bisa berlama lama sabar terhadap mereka yang belum bisa menemukan keseimbangan antara ketiga hal tersebut (ego, respect, profesionalisme) karena di setiap lingkungan yang sehat memiliki ritme nya sendiri. orang orang yang tidak bisa menyesuaikan diri tidak berarti selalu tersisih karena tidak mampu secara teknis melainkan tergantung sikap pembawaan yang tidak cukup mendukung untuk diajak melangkah bersama.

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk berubah jika bukan dari dalam diri sendiri. Ego merupakan pilihan, respect adalah pilihan dan profesionalisme pun demikian. Setiap pilihan tentunya tidak datang tanpa konsekuensi. Reputasi dibangun bukan dari bagaimana seseorang bersikap di momen yang terbaik saja, justru terbangun mulai saat memilih untuk tetap berlaku preofesional di waktu-waktu keseharian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Diuji MSCI, Cek Saham Potensi Cuan
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Strategi Tembus Pasar Global, Mahasiswa S3 Manajemen UM Bedah Rahasia Ekspor
• 17 jam laluberitajatim.com
thumb
DEN Minta Masyarakat Hemat BBM untuk Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Polisi Kembali Panggil 2 Orang Tua dalam Kasus 11 Bayi di Sleman
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Usulkan Tambahan Anggaran UMKM dan Ekraf Kurang dari Rp1 Triliun pada 2026
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.