Reno Bagas Saputra (17) melepas sepatunya dan kemudian mengenakan alas kaki khusus ketika memasuki ruang berisi mesin pompa dan tandon air untuk penyiraman tanaman budidaya di rumah kaca SMK Negeri 1 Pandak, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (13/5/2026). Setelah memastikan panel kontrol sumber daya mesin irigasi tetes bekerja normal, ia melanjutkan rutinitasnya dengan memeriksa kondisi tanaman melon kebanggaan sekolah itu.
Pelajar itu membuka pintu bangunan yang kerap disebut ”green house” itu lalu mulai memeriksa satu per satu tanaman yang telah berumur 63 hari. Ia ditemani Nirma Nahdiyani Rahmin (17), teman sekelasnya di jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), saat melakukan pekerjaan pembersihan tunas air.
Melalui pendidikan yang mereka peroleh di kelas, mereka telah paham bahwa keberadaan tunas air pada tanaman melon golden kirin itu akan memengaruhi kadar manis (brix) pada buah tersebut. ”Saat ini kadar kemanisannya sudah di atas 18 brix dan harus dipertahankan,” ujar Reno.
Ratusan buah melon golden kirin tumbuh ranum dengan warna kuning mencolok di dalam rumah kaca berukuran 400 meter persegi di sekolah yang berjarak 22 km dari pusat Kota Yogyakarta itu. Pada ruang yang sama juga terdapat deretan buah melon jenis sweet hami yang berwarna hijau. Keduanya dibudidayakan dengan sistem hidroponik yang mengandalkan pengairan terukur.
Buah tersebut dijual dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Setiap masa panen, sekolah itu membuka diri bagi siapa saja untuk datang dan membeli buah melon hasil panen. Bagi pengunjung yang hendak datang untuk sekadar berfoto bersama deretan buah melon pun diperbolehkan.
Panen melon kali ini merupakan yang kedelapan. Pada masa panen kali ini, jumlah melon yang diperoleh diperkirakan mencapai 900 kilogram.
Sejak dibina oleh Yayasan Pendidikan Astra dan berhasil melakukan panen perdana melon pada 2024, rumah kaca itu terus berkembang menjadi sarana belajar budidaya buah dengan metode yang tepat bagi para murid sekolah yang kini jumlahnya sekitar 1.000 siswa itu. Sebagai satu-satunya sekolah pertanian di Bantul, SMKN 1 Pandak menjadi ujung tombak bagi regenerasi profesi petani di kalangan generasi muda.
Mendorong remaja untuk mau bertani bukan perkara yang mudah di era globalisasi saat ini. Meski demikian, sekolah itu memiliki metode tersendiri agar calon murid ataupun lulusan mereka tertarik untuk kelak menjadi petani.
”Murid kami libatkan secara aktif sejak proses menanam hingga pada tahap penjualan hasil panen. Dengan demikian, mereka jadi paham bahwa dengan menanam melon saja bisa memperoleh hasil hingga puluhan juta rupiah,” kata Dewi Setyoastuti, guru jurusan ATPH sekaligus penanggung jawab rumah kaca tersebut. Melalui praktik langsung, pelajar dapat memahami bahwa profesi bercocok tanam pun dapat menghasilkan rezeki yang berlimpah.




