Jakarta (ANTARA) - Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K) mengatakan fenomena El Nino “Godzilla” berpotensi meningkatkan risiko stunting dan malnutrisi pada anak akibat kekeringan panjang dan terganggunya ketahanan pangan.
“Prevalensi stunting tahun 2022 menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) sebesar 21,6 persen dan meningkat dengan adanya El Nino ini sampai bertambah 15-25 persen,” kata Darmawan dalam seminar daring terkait dampak El Nino terhadap kesehatan anak, Selasa.
Ia menjelaskan El Nino menyebabkan musim kemarau ekstrem yang berdampak pada gagal panen dan kenaikan harga pangan. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi akses masyarakat terhadap makanan bergizi, terutama bagi anak-anak.
Baca juga: Fenomena El Nino Godzilla berisiko "heat stroke" hingga diare anak
“Dengan adanya El Nino, kekeringan dan gagal panen, maka harga pangan naik, banyak masyarakat yang tidak mampu mencukupi kebutuhan gizinya, maka terjadi malnutrisi yang baik dalam keadaan akut maupun kronik, dalam keadaan jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga terjadi stunting dan tentu akan mengganggu kemampuan intelektualitas anak-anak,” ujarnya.
Menurut Darmawan, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak perubahan iklim karena sistem imun dan kemampuan pengaturan suhu tubuh yang belum matang.
“Anak kehilangan cairan lebih cepat per kilogram berat badannya dibandingkan orang dewasa,” katanya.
Baca juga: Rano Karno ingatkan warga Jakarta soal potensi DBD imbas El Nino
Selain meningkatkan risiko malnutrisi dan stunting, El Nino juga disebut berpotensi memicu lonjakan berbagai penyakit pada anak, seperti diare, pneumonia, demam berdarah dengue (DBD), hingga malaria.
Darmawan mengatakan kekeringan berkepanjangan dapat menurunkan kualitas sanitasi dan mencemari sumber air bersih sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan air.
“Di Indonesia, seperti juga sebenarnya di berbagai negara berkembang lainnya, diare ini merupakan dua penyebab utama kematian pada balita bersama dengan pneumonia,” ujarnya.
Baca juga: Khofifah ingatkan BPBD siap siaga hadapi fenomena Godzilla El Nino
Ia juga menyoroti dampak polusi udara akibat kebakaran hutan selama musim kemarau panjang. Menurut dia, partikel polutan berukuran sangat halus PM2.5 dapat menembus saluran pernapasan hingga masuk ke aliran darah dan merusak berbagai organ tubuh.
“Pada anak-anak di bawah 5 tahun, paru-paru masih dalam fase tumbuh-kembang, lebih rentan terhadap kerusakan permanen,” katanya.
Darmawan mendorong pemerintah memperkuat mitigasi dampak El Nino melalui penguatan layanan kesehatan, ketahanan pangan, akses air bersih, serta sistem kesiapsiagaan menghadapi lonjakan kasus penyakit pada anak.
Baca juga: Rekomendasi IAKMI untuk menjaga kesehatan selama fenomena El Nino
Baca juga: Menkes: Dengue meningkat saat terjadi fenomena El Nino
“Prevalensi stunting tahun 2022 menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) sebesar 21,6 persen dan meningkat dengan adanya El Nino ini sampai bertambah 15-25 persen,” kata Darmawan dalam seminar daring terkait dampak El Nino terhadap kesehatan anak, Selasa.
Ia menjelaskan El Nino menyebabkan musim kemarau ekstrem yang berdampak pada gagal panen dan kenaikan harga pangan. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi akses masyarakat terhadap makanan bergizi, terutama bagi anak-anak.
Baca juga: Fenomena El Nino Godzilla berisiko "heat stroke" hingga diare anak
“Dengan adanya El Nino, kekeringan dan gagal panen, maka harga pangan naik, banyak masyarakat yang tidak mampu mencukupi kebutuhan gizinya, maka terjadi malnutrisi yang baik dalam keadaan akut maupun kronik, dalam keadaan jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga terjadi stunting dan tentu akan mengganggu kemampuan intelektualitas anak-anak,” ujarnya.
Menurut Darmawan, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak perubahan iklim karena sistem imun dan kemampuan pengaturan suhu tubuh yang belum matang.
“Anak kehilangan cairan lebih cepat per kilogram berat badannya dibandingkan orang dewasa,” katanya.
Baca juga: Rano Karno ingatkan warga Jakarta soal potensi DBD imbas El Nino
Selain meningkatkan risiko malnutrisi dan stunting, El Nino juga disebut berpotensi memicu lonjakan berbagai penyakit pada anak, seperti diare, pneumonia, demam berdarah dengue (DBD), hingga malaria.
Darmawan mengatakan kekeringan berkepanjangan dapat menurunkan kualitas sanitasi dan mencemari sumber air bersih sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan air.
“Di Indonesia, seperti juga sebenarnya di berbagai negara berkembang lainnya, diare ini merupakan dua penyebab utama kematian pada balita bersama dengan pneumonia,” ujarnya.
Baca juga: Khofifah ingatkan BPBD siap siaga hadapi fenomena Godzilla El Nino
Ia juga menyoroti dampak polusi udara akibat kebakaran hutan selama musim kemarau panjang. Menurut dia, partikel polutan berukuran sangat halus PM2.5 dapat menembus saluran pernapasan hingga masuk ke aliran darah dan merusak berbagai organ tubuh.
“Pada anak-anak di bawah 5 tahun, paru-paru masih dalam fase tumbuh-kembang, lebih rentan terhadap kerusakan permanen,” katanya.
Darmawan mendorong pemerintah memperkuat mitigasi dampak El Nino melalui penguatan layanan kesehatan, ketahanan pangan, akses air bersih, serta sistem kesiapsiagaan menghadapi lonjakan kasus penyakit pada anak.
Baca juga: Rekomendasi IAKMI untuk menjaga kesehatan selama fenomena El Nino
Baca juga: Menkes: Dengue meningkat saat terjadi fenomena El Nino





