REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG — Pesantren didorong memperkuat peran ekonomi melalui pengembangan usaha berbasis teknologi dan kewirausahaan. Penguatan kapasitas bisnis dinilai penting agar lembaga pendidikan keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi di tengah perubahan digital dan dinamika pasar.
Upaya tersebut diwujudkan melalui program pengabdian masyarakat yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mercu Buana (UMB) di Pondok Pesantren Madinah Al Hijrah, Pandeglang, Banten, Ahad (17/5/2026).
- Pesantren Diminta Adaptif Hadapi Era Kecerdasan Buatan
- Menag: Pesantren Harus Jadi Tempat Paling Aman bagi Anak
- Pesantren Bisa Mendirikan SPPG, Begini Caranya
Program bertajuk "Penguatan Kemandirian Ekonomi Pesantren dan Dhuafa melalui Literasi Keuangan dan Akuntansi, Pemasaran Digital, dan Pengembangan Soft Skill berbasis Integrated Farming" diikuti sekitar 80 santri. Peserta memperoleh pembekalan keterampilan bisnis, akuntansi, hingga pemasaran digital guna mengembangkan usaha pesantren secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan program kerja sama dalam negeri dan mandiri tahun 2025–2026 yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMB.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Perwakilan pimpinan Pondok Pesantren Madinah Al Hijrah, Ustaz Feri Febriadi mengatakan, penguasaan teknologi dan literasi bisnis menjadi kebutuhan penting bagi santri di tengah perubahan ekonomi. “Para santri harus dapat meningkatkan pengetahuan serta mengasah kemampuan diri dalam meningkatkan usahanya dengan melakukan inovasi-inovasi baru agar menjadi santri yang melek teknologi dan pengetahuan akuntansi demi memajukan pesantren di kemudian hari,” ujar Feri dalam siaran pers, Selasa (19/5/2026).
Dalam pelatihan tersebut, santri memperoleh materi literasi produk halal, transaksi berbasis akad syariah, strategi penentuan harga pokok dan harga jual, penyusunan laporan keuangan sederhana, serta penguatan branding produk pertanian pesantren.
Peserta juga mendapatkan pembekalan digital marketing dan public speaking agar mampu memperluas pemasaran produk sekaligus meningkatkan daya saing usaha pesantren di era ekonomi digital.
FEB UMB menilai penguatan ekonomi pesantren membutuhkan pendekatan terintegrasi melalui pengelolaan keuangan, pengembangan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital agar pesantren mampu membangun ekosistem usaha mandiri.
Kegiatan ini juga menjadi upaya perguruan tinggi memperluas dampak sosial pendidikan tinggi melalui pemberdayaan masyarakat berbasis kompetensi dan kebutuhan lapangan.
Program menghadirkan delapan narasumber akademisi FEB UMB, yaitu Safira yang menyampaikan literasi dan kesadaran konsumsi produk halal bagi santri; Shinta Melzatia dengan materi transaksi jual beli akad murabahah; Fitri Indriawati mengenai strategi penentuan harga pokok dan harga jual; Mariyam Chairunisa tentang pemahaman akuntansi sederhana untuk entitas sosial berbasis Integrated Farming; Minanari terkait pelatihan pengelolaan keuangan untuk start up pesantren; Garin Pratiwi Solehati mengenai penguatan branding dan pengemasan produk pertanian.
Selain itu, materi diisi oleh Yennida Parmariza dengan materi Smart Santripreneur dan digital marketing; serta Vidya Ayu Diporini yang membahas literasi keuangan dan public speaking sebagai modal wirausaha muda pesantren.



