JAKARTA, KOMPAS.com - Wilayah Kramat di Senen, Jakarta Pusat, masih menjadi salah satu sentra perlengkapan satpam, atribut TNI-Polri, hingga jasa jahit dan bordir seragam yang bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
Namun, di balik deretan toko yang masih tampak sibuk, para pedagang mengakui kondisi penjualan tidak lagi seramai sebelum pandemi Covid-19.
Perubahan perilaku konsumen yang kini semakin terbiasa membandingkan harga melalui marketplace membuat pembelian eceran di toko fisik perlahan berkurang.
Baca juga: Massa Guru Madrasah Diterima Baleg DPR, Dijanjikan Aturan Baru soal Guru Swasta
Untuk menjaga usaha tetap berjalan, banyak pedagang kini lebih mengandalkan pesanan perusahaan, yayasan, hingga outsourcing security dalam jumlah besar.
Meski masih ada transaksi setiap hari, jumlah pengunjung tidak lagi seramai beberapa tahun lalu.
“Kalau sekarang sih ada saja pembeli setiap hari, tapi memang bisa dibilang agak sepi,” ujar Dede saat ditemui Kompas.com di wilayah Kramat, Selasa (19/5/2026).
Menurut Dede, perubahan mulai terasa sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, kawasan tersebut jauh lebih ramai oleh pembeli yang datang langsung mencari perlengkapan satpam, atribut TNI-Polri, maupun kebutuhan seragam kerja.
“Dulu sebelum Covid lebih ramai,” kata dia.
Ia menuturkan, penjualan di wilayah itu juga sangat dipengaruhi musim kebutuhan tertentu. Ketika ada pembukaan pendidikan TNI atau rekrutmen tenaga keamanan, permintaan perlengkapan biasanya meningkat.
“Misalnya lagi musim pendidikan TNI, barang-barang TNI yang ramai keluar,” ujar Dede.
Namun saat ini, ia mengaku belum ada lonjakan permintaan tertentu. Penjualan cenderung berjalan normal tanpa momentum khusus.
Dede mengatakan toko tempatnya bekerja menjual berbagai perlengkapan, mulai dari seragam satpam, atribut TNI-Polri, perlengkapan taktikal, hingga sepatu dinas.
Harga produk pun bervariasi tergantung bahan dan kualitas. Untuk seragam satpam berbahan drill dengan bordir, misalnya, harga satu set berkisar Rp 250.000.
Sementara seragam loreng TNI bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 600.000 tergantung spesifikasi bahan.
Baca juga: Pengemudi Ojol Senang Program Hemat Dihapus, Harap Pendapatan Meningkat
Adapun sepatu PDL model baru dengan sistem putar dijual mulai Rp 750.000, sedangkan model PDH berkisar Rp 450.000. Produk premium bahkan bisa menembus harga lebih dari Rp 1 juta.
Meski begitu, Dede mengakui perubahan pola belanja masyarakat mulai memengaruhi trafik pembeli di toko fisik.
“Lumayan terasa. Tapi kalau datang langsung ke toko kan pembeli bisa lihat dan pegang barangnya langsung,” kata dia.
Menurut dia, sebagian pembeli tetap memilih datang langsung karena ingin memastikan kualitas bahan dan ukuran produk, terutama untuk seragam dan sepatu.
“Kalau online kadang ukuran atau barangnya tidak sesuai,” ujar Dede.
Ia menambahkan, pembelian dalam jumlah besar kini menjadi salah satu penopang utama usaha di kawasan tersebut. Pesanan biasanya datang dari yayasan atau perusahaan outsourcing keamanan.
“Kalau perusahaan biasanya bisa lusinan,” katanya.
Selain menjual barang jadi, toko-toko di Kramat juga banyak menerima pesanan jahitan custom, mulai dari seragam cleaning service hingga topi dengan desain khusus.
Namun, biaya produksi satuan jauh lebih mahal dibanding pesanan partai besar.
“Kalau satuan juga bisa, tapi harganya bisa dua sampai tiga kali lebih mahal,” kata Dede.
Menurut dia, meski omzet harian saat sepi hanya berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta, usaha masih tetap berjalan karena adanya pelanggan tetap dan pesanan rutin.





