Matamata.com - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menjajaki kerja sama strategis dengan delegasi China Association for Economic Development in Asia (CAEDA) dan Global Digital Trade and Transaction Center (GDTTC). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat sektor kebudayaan dan industri kreatif antara Indonesia dan Tiongkok.
Melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (21/5), penajaman kerja sama ini mencakup berbagai bidang priroritas. Di antaranya adalah industri perfilman, pengobatan tradisional, hingga pengembangan industri kreatif berbasis teknologi.
Fadli Zon menegaskan bahwa industri film Indonesia saat ini berada dalam fase pertumbuhan yang sangat positif. Oleh karena itu, Indonesia sangat terbuka terhadap berbagai peluang kerja sama internasional, termasuk dengan Tiongkok.
"Industri film Indonesia sedang berkembang sangat baik. Produksi film nasional kini mencapai lebih dari 250 film per tahun dengan jumlah penonton lebih dari 122 juta," ujar Fadli.
Menurut Fadli, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri perfilman, baik dari sisi produksi, pasar penonton, maupun infrastruktur. Ia menilai kolaborasi antar-pelaku industri dan sineas kedua negara perlu diperkuat melalui skema produksi bersama (co-production).
Fadli juga memaparkan peluang investasi yang besar di sektor sarana penayangan. Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 2.500 layar bioskop, padahal kebutuhan nasional mencapai sekitar 10.000 layar.
"Masih terbuka lebar ruang investasi dan pengembangan industri perfilman di Indonesia. Kami juga berharap teknologi bioskop yang sedang dikembangkan oleh Tiongkok dapat diimplementasikan di Tanah Air agar lebih modern," tambahnya.
Sementara itu, Vice President CAEDA sekaligus Direktur GDTTC, Li Yu, menyambut baik peluang tersebut. Ia menyampaikan ketertarikan pihaknya untuk memperluas pertukaran budaya melalui film, pertunjukan seni, konser, hingga pengembangan drama lintas negara.
Li Yu bahkan membuka peluang adaptasi drama populer Tiongkok untuk diproduksi ulang versi lokal di Indonesia.
"Kami berharap pertukaran budaya antara Tiongkok dan Indonesia dapat semakin berkembang melalui film, pertunjukan seni, dan kolaborasi industri kreatif kedua negara," kata Li Yu.
- Target Investasi Pariwisata 2026 Rp63,5 Triliun, Kemenpar Fokus Sasar 13 Destinasi
Selain perfilman, delegasi Tiongkok juga membidik kerja sama di bidang pengobatan tradisional (traditional medicine).
Deputy Director Global ITC sekaligus General Manager Center for Medical and Health Industry, Pan Zhaojun, menjelaskan bahwa kerja sama ini akan mencakup penguatan sumber daya manusia (SDM), pertukaran pengetahuan, riset bersama, hingga pembangunan pusat layanan kesehatan tradisional.
Menbud Fadli Zon menyambut positif gagasan tersebut. Menurutnya, pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari objek pemajuan kebudayaan karena berkaitan erat dengan pengetahuan lokal masyarakat, termasuk jamu dan pemanfaatan kekayaan hayati Nusantara. (Antara)




