EtIndonesia. Ekonomi Tiongkok terus lesu dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data terbaru dari bank sentral Tiongkok menunjukkan bahwa dalam empat bulan pertama tahun ini, simpanan masyarakat meningkat tajam sebesar 5,74 triliun yuan. Pada saat yang sama, pinjaman rumah tangga justru berkurang hampir 500 miliar yuan.
Data ini menunjukkan bahwa semakin banyak warga Tiongkok sedang melakukan “deleveraging” — tidak ingin berhutang, tidak ingin berbelanja, tidak ingin membeli rumah, dan lebih memilih menabung untuk menghindari risiko.
Pengamat menilai hal ini mencerminkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pendapatan masa depan dan prospek ekonomi.
Ekonom Tiongkok yang tinggal di Amerika Serikat sekaligus mantan profesor Universitas Peking, Xu Chenggang, baru-baru ini menyatakan secara terbuka bahwa Tiongkok saat ini tidak sedang menghadapi perlambatan ekonomi biasa, melainkan krisis keuangan dan fiskal yang terus menumpuk.
Ia menyebut tiga masalah paling berbahaya yang dihadapi Tiongkok saat ini adalah sektor properti, hutang pemerintah daerah, dan risiko perbankan daerah.
Ia menjelaskan bahwa pasar properti Tiongkok sudah sangat sulit kembali ke era kenaikan harga menyeluruh seperti sebelumnya. Meskipun beberapa kota belakangan tampak sedikit pulih, hal itu hanyalah “ilusi” akibat stimulus kebijakan pemerintah. Seiring meredanya sektor properti, keuangan pemerintah daerah juga semakin tertekan karena selama bertahun-tahun mereka sangat bergantung pada penjualan lahan sebagai sumber pendapatan. Kini tanah sulit terjual sehingga pemerintah daerah mulai kekurangan dana.
Xu Chenggang mengatakan bahwa masalah bank-bank daerah kini juga semakin jelas. Banyaknya kredit properti dan utang platform pembiayaan pemerintah daerah menyebabkan kualitas aset banyak bank terus memburuk.
Dalam ekonomi pasar normal, perusahaan atau lembaga keuangan yang insolven seharusnya bangkrut dan dilikuidasi. Namun di Tiongkok, banyak BUMN, pemerintah daerah, dan bank dianggap “tidak boleh runtuh”, sehingga hanya bisa terus dipertahankan melalui suntikan dana pemerintah.
Ia mengatakan bahwa kebijakan besar-besaran seperti pencetakan uang, penerbitan hutang, dan stimulus ekonomi yang dilakukan pemerintah saat ini pada dasarnya hanya “menunda krisis”, bukan benar-benar menyelesaikan masalah.
Menurut Xu Chenggang, inti persoalan ekonomi Tiongkok yang sebenarnya adalah “kurangnya permintaan domestik”, yakni pertumbuhan pendapatan masyarakat terlalu lambat sehingga daya beli lemah. Akibatnya, ekonomi semakin bergantung pada investasi dan ekspor.
Terkait langkah pemerintah yang baru-baru ini mendorong pasar saham dan mendukung industri teknologi, Xu Chenggang memperingatkan bahwa jika tidak didukung ekonomi riil yang kuat, penggelembungan pasar saham secara artifisial justru bisa menciptakan risiko keuangan baru.
Ia juga menyebut modal swasta domestik dan investasi asing kini terus keluar dari Tiongkok. Selain itu, inovasi teknologi kekurangan lingkungan yang stabil sehingga hanya mengandalkan suntikan dana pemerintah akan sulit benar-benar menggerakkan ekonomi.
Di akhir pernyataannya, Xu Chenggang memperingatkan bahwa krisis di Tiongkok sebenarnya belum hilang, melainkan hanya “dibekukan” dan “ditunda”. Jika dalam jangka panjang pemerintah terus bergantung pada pencetakan uang dan penambahan hutang untuk menopang ekonomi, maka di masa depan Tiongkok mungkin akan menghadapi risiko keuangan dan inflasi yang jauh lebih serius.
Sumber : NTDTV.com





