Bisnis.com, SURABAYA – Ratusan masyarakat dari berbagai elemen dan organisasi menggelar aksi demonstrasi menuntut tindakan nyata pemerintah untuk membebaskan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap Israel saat menjalankan misi kemanusiaan, di Taman Apsari, Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Ratusan massa tersebut tampak serempak mengenakan pakaian hitam dan membawa sejumlah poster maupun pamflet, di mana mereka berdiri di taman yang menghadap langsung ke Gedung Negara Grahadi.
“Save aktivis Global Sumud Flotilla, kami jurnalis bukan teroris bebaskan, terus berisik untuk Gaza,“ tulis sejumlah poster yang dibawa oleh massa aksi.
Selain itu, massa juga membawa sebuah poster berukuran besar yang berisi foto beserta nama dari jurnalis serta aktivis asal Indonesia, yang ditangkap oleh Israel, Senin (18/5/2026) silam.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Andre Yuris memaparkan terdapat sebanyak 200 orang yang datang untuk menyuarakan pembebasan terhadap para WNI yang ditahan oleh militer Israel itu.
“Aksi kali ini adalah aksi solidaritas, teman-teman dari Aksi Kamisan Surabaya, AJI Surabaya, dan Forum Zakat (FOZ) Jawa Timur,” ungkap Andre di lokasi, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga
- 9 WNI Peserta GSF 2.0 yang Diculik Militer Israel Telah Tiba di Turki
- Daftar Pejabat Negara yang Kecam Tindakan Keji Militer Israel ke Relawan GSF
- Kecam Israel, Sugiono Pastikan 9 WNI Relawan GSF 2.0 Sudah Dibebaskan
Andre mengatakan, aksi tersebut merupakan solidaritas untuk segenap Warga Negara Indonesia (WNI), yang ditangkap oleh Israel saat menumpang pada kapal Global Sumud Flotilla.
“Aksi ini sebenarnya bagian dari cara kita untuk untuk menuntut pemerintah Indonesia, agar bergerak cepat menyelamatkan, membebaskan teman kita yang ditahan di sana,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Andre memohon kepada pucuk pimpinan negara, yakni Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil tindakan nyata. Terutama, dengan memanfaatkan posisi Indonesia yang sudah tergabung dalam keanggotaan Board Of Peace (BoP), terlepas dari Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
“Kalau kemarin dia (Prabowo) koar-koar kita punya posisi di BOP, sekarang tunjukkan taringnya. Apakah dia bisa membebaskan warga negara Indonesia yang ditahan oleh tentara Israel? Kita tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel karena saya pikir Prabowo mengeklaim kita bagian dari BOP. Sekarang tunjukkan kalau BOP itu punya kekuatan untuk memaksa Israel untuk membebaskan para jurnalis dan aktivis Indonesia yang ditahan di sana,” ujarnya.
Selain itu, Andre juga merespons pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono yang menyebut bahwa tindakan yang menimpa sembilan WNI tersebut bukanlah kasus penculikan maupun penyanderaan, melainkan pencegatan atau intersepsi
"Tentu kami berbeda dengan menteri luar negeri, ini bukan intersepsi, intersepsi itu kalau mereka melakukan penyerangan dan kekuatan militer Israel mengusir itu namanya intersepsi. Sebenarnya, ini adalah bentuk penculikan karena ini mereka gerakan kemanusiaan, dan mereka masih berada di wilayah laut internasional," jelasnya.
Usai aksi ini, kata Andre, massa aksi berencana untuk terus bersuara tentang penahanan terhadap para aktivis maupun jurnalis oleh tentara Israel. Hal tersebut bakal dilakukan sampai para WNI tersebut dapat dibebaskan dan kembali ke tanah air.
"Kami tetap akan bersuara, seperti slogannya teman-teman yang membawa poster, tetap berisik agar dunia internasional tetap memberikan perhatian, dan pemerintah kita terutama tahu karena sampai saat ini Prabowo belum memberikan statement sama sekali," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, satu aktivis dan empat jurnalis asal Indonesia diculik oleh angkatan laut Israel (IOF) di perairan Mediterania di kawasan Siprus, Senin (18/5/2026), saat menjalani misi kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla.
Berdasarkan sumber dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), satu aktivis yang ditangkap adalah Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat yang menumpangi kapal Josef.
Kemudian, tiga orang yang menggunakan kapal Ozgurluk, di antaranya Thoudy Badai jurnalis Republika, Rahendro Herubowo jurnalis dari Inews, dan Andre Prasetyo Nugroho jurnalis dari TV Tempo.
Selain itu, terdapat pula jurnalis Republika, Bambang Noroyono atau Abeng yang menaiki kapal yang berbeda, yakni BoraLize.





