Bisnis.com, PALEMBANG — Fenomena El Nino yang diperkirakan memicu kemarau kering pada 2026 menjadi tantangan serius bagi Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) untuk menjaga target produksi padi tetap meningkat di tengah ancaman kekeringan lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan tantangan utama saat ini adalah menjaga keberlanjutan pertanaman pada periode Mei hingga September 2026 yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
Menurutnya, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sedikitnya lima kabupaten di Sumsel berpotensi mengalami kekeringan pada lahan lebak. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, serta Ogan Komering Ulu Timur.
“Sejumlah daerah itu juga kita sudah petakan sampai tingkat kecamatan yang memiliki tipologi lahan lebak dan curah hujannya diprakirakan di bawah normal yakni 150 milimeter (mm) per hari, bahkan ada yang di bawah 50 mm,” jelasnya, Kamis (21/5/2026).
Sebagai strategi menghadapi potensi kekeringan tersebut, Pemerintah Provinsi Sumsel telah membentuk tim gerakan tanam menyongsong El Nino.
Bambang menjelaskan bahwa gerakan itu dilakukan secara serentak di seluruh kabupaten/kota di Sumsel dengan harapan seluruh daerah mampu memanfaatkan lahan rawa lebak yang masih dapat ditanami selama musim kemarau.
Baca Juga
- Distribusi dan Cuaca Diduga Jadi Biang Kerok Harga Komoditas Hortikultura di Sumsel Naik
- Disbun Sumsel Ungkap Penyebab Harga TBS Sawit Turun Meski Dolar Menguat
- Bidik Peringkat 2 Nasional, Sumsel Target Produksi Gabah Tembus 5 Juta Ton
Adapun potensi lahan rawa di Sumsel mencapai sekitar 150 ribu hektare, dengan lahan rawa lebak tengahan menjadi yang terluas yakni sekitar 100 ribu hektare.
“Dan lahan rawa lebak tengahan yang biasanya genangannya sangat lama 6-9 bulan, ketika kemarau bisa turun (surut) sehingga bisa melakukan gerakan tanam tersebut,” jelasnya.
Dia menambahkan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen Sumsel pada periode Januari–Juni 2026 diprediksi mencapai 381.942 hektare atau meningkat 14.764 hektare (4,02%) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, produksi gabah kering giling (GKG) diprakirakan mencapai 2,16 juta ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 2,14 juta ton.
“Pak Gubernur sudah mencanangkan Sumsel sampai dengan 2029 itu paling tidak mampu membukukan 5 juta ton GKG. Nah, target kita di tahun 2026 ini adalah 4 juta ton GKG atau meningkat dari (produksi) 2025 yang 3,61 juta ton GKG,” tutupnya.





