BGN Akui Kewalahan Penuhi Kebutuhan Susu untuk Program MBG, Jadi Peluang Bagi Sektor Peternakan

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Saat ini terdapat 29.670 SPPG yang telah beroperasi dengan jumlah penerima manfaat mencapai 63,01 juta orang.

BGN Akui Kewalahan Penuhi Kebutuhan Susu untuk Program MBG, Jadi Peluang Bagi Sektor Peternakan. Foto: iNews Media Group

IDXChannel - Badan Gizi Nasional (BGN) mengaku kewalahan dalam memenuhi kebutuhan susu untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebutuhan susu cukup tinggi seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penerima manfaat.

Plt Direktur Promosi dan Edukasi Gizi BGN, Gunalan, mengatakan saat ini terdapat 29.670 SPPG yang telah beroperasi dengan jumlah penerima manfaat mencapai 63,01 juta orang. Berdasarkan petunjuk teknis dan Surat Edaran Kepala BGN Nomor 10 Tahun 2026, setiap SPPG diwajibkan menyediakan minuman atau susu sebanyak dua kali dalam sepekan.

Baca Juga:
BGN Beberkan Marak Penipuan Jual Beli SPPG

"Sehingga untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini, kami juga agak kewalahan, rekan-rekan kami di lapangan, khususnya yang di dapur, apabila tidak mendapatkan susu di pasar, itu biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya," kata dia dalam konferensi pers Peringatan Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat pada Selasa (2/6/2026).

Gunalan menilai, besarnya kebutuhan susu dalam program MBG menjadi peluang sekaligus tantangan bagi sektor peternakan nasional. Karena itu, BGN berharap masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta koperasi dapat berperan dalam mengembangkan usaha peternakan sapi perah guna meningkatkan pasokan susu dalam negeri.

Baca Juga:
BGN Tak Permasalahkan Efisiensi Anggaran MBG, Pastikan Layanan dan Kualitas Terjaga

"Kami sangat mengharapkan bagaimana masyarakat atau UMKM atau kooperasi itu bisa diberdayakan, sehingga yang namanya peternakan susu itu bisa dikembangkan lagi, karena kebutuhannya sangat besar," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, mengatakan produksi susu dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan nasional. Sementara 75 persen sisanya masih bergantung pada impor.

Baca Juga:
Pastikan Program MBG Tepat Sasaran, BGN Perkuat Validasi Data Penerima Manfaat

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah serta produktivitas peternak. 

"Ini juga yang menjadi program kita bersama bagaimana meningkatkan jumlah populasi sapi perah di dalam negeri dan yang kemudian peningkatan produktifitasnya," kata dia.

Saat ini, produktivitas sapi perah di Indonesia masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari.

Makmun menargetkan produktivitas tersebut dapat meningkat menjadi di atas 20 liter per hari, bahkan mencapai 25 liter per hari seperti di sejumlah negara produsen susu lainnya.

Selain itu, pemerintah juga fokus pada peningkatan kesehatan ternak melalui pengendalian penyakit, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kementerian Pertanian saat ini menyediakan vaksin PMK untuk sapi perah secara penuh guna menjaga kesehatan ternak dan mendukung peningkatan produksi susu nasional.

"Dan sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK dan kita berharap dengan begitu teman-teman peternak terus meningkatkan produksinya di lapangan," kata dia.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
TNI Hormati Putusan PN Jaksel yang Minta Polisi Lanjut Usut Kasus Andrie Yunus
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
BRIN Minta Maaf Gunakan Lambang Garuda Pancasila yang Tidak Sesuai
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Isi Rekening Nasabah Perbankan di NTB 99,42% Di Bawah Rp100 juta
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Selasa 2 Juni 2026
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Studi IPR: Lebih dari 1 Juta Warga Paris Terancam Banjir Besar
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.