Ada "Beking" China-Rusia, AS Pusing Sendiri Mau Tumbangkan Iran

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kolase Bendera Iran, Bendera Rusia, Bendera China. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menjadikan China serta Rusia sebagai aktor kunci yang menentukan daya tahan Teheran menghadapi tekanan Washington. Di tengah negosiasi yang kembali menemui jalan buntu akibat operasi militer Israel di Lebanon, kedua negara dinilai memiliki peran penting dalam menopang Iran dari sisi ekonomi, diplomatik, hingga pertahanan.

"Iran melihat bahwa Trump pada dasarnya berupaya mengulur waktu. Sebagai respons, Teheran secara logis akan memperkuat hubungan dengan Beijing dan Moskow untuk menghadapi tantangan ekonomi serta mempersiapkan diri jika konfrontasi militer kembali terjadi," ujar Kepala lembaga pemikir Institute for Revival of Politics di Teheran, Mehdi Kharratiyan, kepada Newsweek, dikutip Rabu (3/6/2026).

Selama bertahun-tahun, Iran telah membangun hubungan yang makin erat dengan China dan Rusia. Meski tidak terikat dalam aliansi militer formal, kedua negara tetap menjadi mitra strategis yang membantu Teheran bertahan di tengah upaya AS mengisolasi Republik Islam tersebut melalui berbagai sanksi.


Pilihan Redaksi
  • Mata-Mata AS Pecah Kongsi, Intelijen soal Iran Berantakan
  • Trump-Netanyahu Ketahuan Ribut, Begini Kata Para Analis
  • Update! Perang AS-Iran Pecah Lagi, Drone-Rudal Tembak Kuwait-Bahrain

Tekanan terhadap Gedung Putih juga terus meningkat. Konflik yang berlarut-larut memicu kenaikan biaya energi akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz, sementara stok amunisi AS disebut semakin terkuras. Di sisi lain, Iran mengandalkan strategi perang ketahanan yang selama ini menjadi bagian penting dari doktrin militernya.

Kharratiyan menilai Washington berharap tekanan ekonomi dan blokade maritim akan memaksa Iran menerima syarat-syarat yang diajukan Presiden Donald Trump. Namun, menurutnya, Teheran tetap bersikeras bahwa penghentian konflik harus mencakup seluruh front pertempuran, termasuk Lebanon yang menjadi basis kelompok Hizbullah, sekutu utama Iran.

"Iran memandang Lebanon sebagai isu eksistensial dan menyangkut prestise geopolitiknya di Timur Tengah. Karena itu, sangat sulit membayangkan adanya gencatan senjata antara Iran dan AS tanpa penyelesaian isu Lebanon," kata Kharratiyan.

Di tengah kebuntuan tersebut, China dan Rusia dinilai memiliki kepentingan untuk memastikan Iran tidak mengalami pelemahan signifikan. Ketua bidang keamanan global dan geostrategi di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jon Alterman, mengatakan kedua negara sama-sama diuntungkan ketika perhatian AS tersita oleh konflik lain.

"Rusia dan China memiliki kepentingan agar Amerika Serikat teralihkan oleh ancaman selain mereka sendiri. Ketiganya juga sama-sama menentang dominasi AS dan penggunaan sanksi sebagai instrumen tekanan global," ujar Alterman.

Meski demikian, dukungan Beijing dan Moskow kepada Teheran diperkirakan tetap memiliki batas. Perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani Iran dan Rusia tidak memuat klausul pertahanan bersama seperti yang dimiliki Moskow dengan Korea Utara. Begitu pula kemitraan 25 tahun Iran-China yang lebih banyak berfokus pada investasi dan kerja sama ekonomi.

Dalam praktiknya, China menjadi penyelamat penting bagi ekonomi Iran. Negeri Tirai Bambu itu membeli sebagian besar ekspor minyak Iran yang terkena sanksi Barat. Wakil Presiden Center for European Policy Analysis (CEPA), Christopher Walker, bahkan menyebut perusahaan-perusahaan China membantu membangun salah satu jaringan penghindaran sanksi terbesar yang pernah ada.

Selain perdagangan energi, berbagai laporan juga menyebut Iran memperoleh manfaat dari pertukaran intelijen dengan China dan Rusia. Dukungan tersebut mencakup akses citra satelit hingga informasi terkait pergerakan pasukan dan aset militer AS di kawasan.

Meski hubungan ketiga negara semakin erat, para pengamat menilai Teheran tetap menyadari bahwa Beijing dan Moskow tidak akan berperang secara langsung demi membela Iran. Bagi China maupun Rusia, hubungan dengan negara-negara Teluk yang kaya minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga memiliki nilai strategis yang besar.

"China dan Rusia lebih penting bagi Iran daripada sebaliknya. Iran menyumbang kurang dari 1% perdagangan China, sementara China merupakan pelanggan minyak terbesar Iran. Keduanya melihat Iran sebagai peluang untuk melemahkan pengaruh global Amerika Serikat," kata Alterman.

Karena itu, masa depan kerja sama ketiga negara kemungkinan tidak akan berkembang menjadi aliansi militer formal. Menurut akademisi Universitas Tufts, Arash Reisinezhad, fokus utama akan bergeser ke pembangunan konektivitas Eurasia melalui jalur perdagangan, logistik, dan koridor ekonomi yang menghubungkan Asia Timur, Asia Tengah, Rusia, hingga Timur Tengah.

Bagi China dan Rusia, stabilitas Iran menjadi aset strategis yang penting. Meski tidak akan turun langsung ke medan perang, kedua negara memiliki kepentingan kuat untuk menjaga Teheran tetap bertahan sebagai mitra yang dapat membantu menyeimbangkan pengaruh AS di kawasan dan memperkuat jaringan geopolitik Eurasia.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video:Bahas Proposal Iran, AS Hadapi Ancaman Veto China & Rusia di PBB

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tiba di Gedung KPK, Silmy Karim Bungkam
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hasil Indonesia Open 2026: Lanny/Apriyani dan Marwan/Aisyah Gugur di Babak Pertama
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Asyik! Polda Metro Bebaskan Balik Nama Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Asli, Ini Caranya
• 16 jam laludisway.id
thumb
Dua Warga Terkena Tembakan Peluru Nyasar Yon TP 897/Singgalang
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Batasan Usia Calon KPU dan Bawaslu RI Di Gugat, MK Diminta Tambahkan Syarat Alternatif
• 6 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.