SELAIN Agustus, Juni adalah bulan yang kental dengan agenda-agenda nasionalis.
Bukan hanya karena Hari Lahir Pancasila, tetapi juga karena tokoh penggali Pancasila sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, lahir di bulan ini.
Mengingat Hari Lahir Pancasila tentu juga mengingat pidato Soekarno bertajuk “Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Pidato itu tidak hanya berisi tentang apa itu Pancasila.
Lebih dari itu, ia memperlihatkan bagaimana ia membangun cara berpikirnya melalui metafora-metafora yang ia rajut sepanjang pidatonya.
Metafora, yang oleh Aristoteles semula hanya ditempatkan sebagai hiasan retorika, ternyata menyimpan fungsi yang jauh lebih dalam.
Ia menunjukkan cara manusia memahami dan menjelaskan dunia sehari-hari.
Dalam Conceptual Metaphor Theory (CMT) yang dicetuskan oleh Lakoff dan Johnson, metafora bukan sekadar gaya bahasa atau hiasan sastra, melainkan cara berpikir dan sistem konseptual yang mendasari bagaimana manusia memahami dunia, bertindak, dan berbahasa.
Penelitian kontemporer memperlihatkan bahwa metafora membantu kita memahami sesuatu yang abstrak dengan menghadirkan gambaran yang konkret dan mudah dirasakan.
Baca juga: Piring Anak, Gengsi Presiden
Lebih jauh, lakoff mengingatkan bahwa metafora konseptual bukan sekadar persamaan kata.
Ia menyimpan keterkaitan antar elemen antara ranah sumber dan ranah target yang berpengalaman pada pengalaman nyata yang dirasakan manusia.
Mari kita ambil contoh konsep Argument Is War.
Metafora “perang” menegaskan bahwa berdebat bukan sekadar berdiskusi, melainkan juga mengalahkan lawan seperti dalam medan pertempuran: ada senjata, ada strategi, dan ada yang menang dan kalah.
Maka ketika Soekarno berbicara tentang “jembatan emas”, “perkawinan”, “pembantingan tulang”, atau gunturnya peperangan”, ia tidak sedang memperindah pidatonya.
Ia sedang membangun kerangka berpikir kolektif bagi sebuah bangsa yang baru akan lahir. Bangsa Indonesia.
Metafora paling terkenal dalam pidato 1 Juni adalah “jembatan emas”. Soekarno menyebut kemerdekaan hanyalah sebuah jembatan emas menuju masyarakat yang lebih sempurna.