“Saya heran, kalau nanti jurusan saya dianggap tidak relevan lalu ditutup, bagaimana nasib mahasiswa?” tanya seorang mahasiswa saat berdiskusi di kantin kampus.
Temannya menjawab, “Yang dibutuhkan sekarang tidak menutup jurusan, tetapi memperbarui cara belajar agar sesuai dengan zaman.”
Percakapan sederhana itu menggambarkan kegelisahan yang sempat muncul ketika publik mendengar wacana evaluasi program studi di perguruan tinggi.
Namun, kegelisahan tersebut sedikit mereda setelah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto—dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Mei 2026 sebagaimana diberitakan kumparan dan sejumlah media nasional—menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki kebijakan menutup program studi di perguruan tinggi.
Yang dilakukan pemerintah adalah pengembangan dan transformasi kurikulum agar lulusan lebih relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan tantangan masyarakat.
Pernyataan tersebut patut diapresiasi. Dalam dunia yang berubah sangat cepat, persoalan utama pendidikan tinggi bukanlah keberadaan suatu program studi, melainkan kemampuan program studi tersebut beradaptasi dengan perubahan zaman.
Kurikulum Harus Bergerak Mengikuti Perubahan DuniaPerubahan teknologi saat ini berlangsung jauh lebih cepat dibanding perubahan kurikulum perguruan tinggi. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa kemajuan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transformasi digital akan mengubah jutaan jenis pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang. Banyak pekerjaan baru muncul, sementara sebagian pekerjaan lama mengalami transformasi, bahkan menghilang.
Dalam konteks tersebut, kurikulum tidak boleh menjadi dokumen statis yang diperbarui setiap sepuluh tahun. Ia harus menjadi instrumen dinamis yang terus menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Pakar pendidikan Amerika, John Dewey, sejak awal abad ke-20 mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar persiapan untuk hidup, melainkan juga kehidupan itu sendiri. Artinya, apa yang dipelajari mahasiswa harus mencerminkan realitas yang sedang mereka hadapi.
Karena itu, pembaruan materi ajar bukan berarti mengorbankan disiplin ilmu yang sudah ada. Program studi sejarah tetap penting, tetapi dapat diperkuat dengan digital humanities. Program studi pertanian tetap relevan, tetapi dapat diperkaya dengan teknologi sensor, kecerdasan buatan, dan analisis data. Program studi sastra tetap memiliki masa depan, tetapi dapat berkolaborasi dengan industri kreatif dan teknologi komunikasi digital.
Transformasi semacam ini membuat ilmu pengetahuan tetap memiliki akar akademik yang kuat sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman.
Keterampilan Digital Menjadi Bahasa Baru Dunia KerjaSalah satu aspek terpenting yang ditekankan pemerintah adalah penguatan keterampilan digital. Langkah ini sangat tepat karena digitalisasi bukan lagi sektor tersendiri, melainkan telah menjadi fondasi hampir seluruh sektor ekonomi.
Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital, analisis data, pemecahan masalah berbasis teknologi, dan kemampuan beradaptasi dengan perangkat digital menjadi kompetensi yang semakin dicari oleh dunia kerja global.
Menariknya, keterampilan digital tidak hanya dibutuhkan mahasiswa teknik informatika. Seorang guru memerlukan kemampuan memanfaatkan platform pembelajaran digital. Seorang dokter membutuhkan kemampuan membaca data kesehatan berbasis teknologi. Seorang ekonom harus memahami analisis big data. Bahkan, seorang sarjana hukum kini perlu memahami aspek hukum kecerdasan buatan dan keamanan siber.
Profesor pendidikan masa depan dari Harvard University, Tony Wagner, menyebut bahwa dunia kerja abad ke-21 membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, adaptasi, komunikasi efektif, dan literasi teknologi. Kompetensi tersebut tidak lahir dari metode pembelajaran lama yang hanya berorientasi hafalan.
Karena itu, penguatan keterampilan digital harus menjadi agenda seluruh program studi tanpa kecuali.
Kolaborasi Kampus dan Dunia UsahaSalah satu kritik yang sering muncul terhadap pendidikan tinggi adalah adanya kesenjangan antara kampus dan dunia kerja. Banyak lulusan memiliki ijazah, tetapi kurang memahami kebutuhan nyata yang dihadapi industri dan masyarakat.
Teori Human Capital yang dikembangkan oleh Gary Becker menjelaskan bahwa investasi dalam pendidikan akan menghasilkan produktivitas ekonomi apabila kompetensi yang dibangun sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Inilah pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang terisolasi dari realitas sosial dan ekonomi.
Di Jerman, model pendidikan vokasi dan kemitraan industri menghasilkan tingkat kesiapan kerja yang relatif tinggi. Di Korea Selatan, kolaborasi universitas dan industri teknologi menjadi salah satu faktor yang mendorong lahirnya perusahaan-perusahaan inovatif berskala global. Di Singapura, pemerintah secara aktif menghubungkan kampus dengan sektor industri melalui program magang, riset terapan, dan inkubasi bisnis.
Indonesia dapat belajar dari pengalaman tersebut. Kolaborasi tidak berarti kampus hanya menjadi pemasok tenaga kerja. Kampus tetap harus menjaga independensi akademik, tetapi sekaligus memahami kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Melalui kerja sama yang sehat, mahasiswa memperoleh pengalaman praktis, dosen memperoleh akses penelitian yang lebih luas, dan industri mendapatkan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi tantangan.
Masa Depan Ada pada Pendekatan Lintas DisiplinPersoalan dunia modern semakin kompleks, sehingga tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu disiplin ilmu.
Perubahan iklim membutuhkan kontribusi ilmuwan lingkungan, ekonom, ahli hukum, pakar kebijakan publik, dan insinyur teknologi. Transformasi digital membutuhkan kolaborasi ahli komputer, psikolog, sosiolog, ekonom, dan komunikator. Ketahanan pangan memerlukan kerja sama antara ahli pertanian, teknologi, bisnis, kesehatan, dan lingkungan.
Pemikir kompleksitas dari Edgar Morin menegaskan bahwa tantangan modern hanya dapat dipahami melalui pendekatan yang menghubungkan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Karena itu, pendekatan lintas disiplin menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
Perguruan tinggi terbaik dunia saat ini justru bergerak ke arah integrasi ilmu. Banyak universitas mengembangkan program gabungan antara teknologi dan humaniora, kesehatan dan data science, bisnis dan kecerdasan buatan, hingga lingkungan dan kebijakan publik.
Indonesia memerlukan arah yang sama. Kita membutuhkan sarjana yang tidak hanya ahli dalam satu bidang, tetapi juga mampu bekerja sama dengan disiplin lain untuk menyelesaikan persoalan bangsa.
Sikap pemerintah yang menegaskan tidak ada kebijakan menutup program studi menunjukkan pemahaman bahwa setiap disiplin ilmu memiliki kontribusi penting bagi pembangunan nasional. Tantangannya bukan memilih ilmu mana yang layak hidup dan mana yang harus mati, melainkan memastikan seluruh program studi mampu bertransformasi menghadapi perubahan zaman.
Transformasi kurikulum, penguatan keterampilan digital, kolaborasi dengan dunia usaha, dan pendekatan lintas disiplin merupakan empat pilar yang dapat menjadikan pendidikan tinggi Indonesia lebih relevan, adaptif, dan kompetitif. Kampus yang mampu melakukan perubahan tersebut tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu memimpin perubahan dan menciptakan masa depan bangsa.





