Selat Hormuz menjadi isu global di tengah konflik yang terjadi di antara Iran dan Amerika Serikat. Lebih dari 20 persen pasokan energi dunia melewati jalur ini yang diekspor oleh sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Ketika Iran menutup Selat Hormuz, pasokan energi tersendat dan membuat sejumlah negara mengalami krisis energi. Harga minyak mentah dunia juga melonjak hampir 100 persen hingga hari ini, dan ini membuat pengeluaran energi membengkak, termasuk yang dialami Indonesia.
Di tengah memanasnya situasi, Jurnalis Metro TV, Anggi Hasibuan, dan juru kamera Maulana Ridwan berkesempatan berlayar dan melihat langsung kondisi Selat Hormuz.
"Sekilas, perairan ini tampak seperti jalur pelayaran biasa. Namun, di sinilah salah satu urat nadi ekonomi dunia berada," lapor Anggi dari atas kapal di perairan Selat Hormuz.
Setiap harinya, sekitar 20 juta barel minyak dan produk energi melintasi perairan ini. Angka tersebut setara dengan hampir seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal melintasi selat yang membentang di antara Iran dan Oman ini, menjadikannya satu-satunya pintu keluar bagi sebagian besar ekspor minyak negara-negara Teluk seperti Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, hingga sebagian Arab Saudi.
Pengamanan Ekstra dan 'Pasukan Nyamuk' Iran
Tim Metro TV yang telah mengantongi izin dari otoritas Iran melaporkan adanya pengetatan pengawasan di wilayah tersebut. Saat ini, terdapat lembaga baru bentukan Iran yang khusus mengelola kawasan Selat Hormuz dengan batas-batas teritorial yang dipertegas.
Setiap kapal yang melintas wajib berkoordinasi dengan otoritas setempat. Jika mematuhi aturan, kapal-kapal tersebut akan dikawal dengan selamat. Namun, bagi armada yang mencoba membelot atau melarikan diri, Iran telah menyiapkan sistem pelacakan canggih dan patroli ketat.
"Nanti 'Pasukan Nyamuk'-nya Iran, kapal yang kecil-kecil ini akan mendekati. Mereka kasih info dulu bahwa mereka harus berkoordinasi. Kalau misalnya masih mencoba untuk bandel, mereka nanti akan bisa kena serangan atau tindakan tegas. Tidak hanya dari 'Pasukan Nyamuk', kadang bisa juga melalui drone serangan, atau juga dari rudal-rudal di pangkalan terdekat," jelas Anggi.
Baca Juga :
AS Serang Situs Radar Iran di Dekat Selat HormuzNasib 8 ABK WNI yang Terjebak Bertahan dengan Sisa Makanan
Di tengah deretan kapal yang tertahan menanti kepastian izin berlayar, tim Metro TV menemukan fakta memilukan. Sebuah kapal yang diisi oleh delapan Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia tertahan di perairan tersebut selama berbulan-bulan akibat sengketa dan pembatasan pelayaran.
Melalui komunikasi jarak jauh antar-kapal, Anggi berdialog dengan Rama, salah satu ABK WNI. Rama mengaku kapalnya sudah tertahan di titik tersebut selama hampir sebulan tanpa kepastian. Mirisnya, persediaan logistik mereka kian menipis.
"Makanan masih sisa dari kemarin, dari Dubai," ungkap Rama lirih.
Saat ditanya mengenai bantuan atau komunikasi dari pihak pemerintah Indonesia, Rama menjawab bahwa hingga saat ini belum ada kontak sama sekali. "KBRI nggak ada. Telepon nggak ada," tambahnya.
Rama menyampaikan harapan besarnya agar pemerintah Indonesia segera turun tangan, terutama bagi rekan-rekannya yang masa kontraknya telah habis.
"Harapannya ya mau bisa balik. Apalagi yang sudah habis kontrak kan kasihan, sudah setahun. Takutnya stres. Tolong diperjuangkan, diprioritaskan utama untuk cepat dibawa pulang," pintanya.
Ironi Kedamaian di 'Rainbow Island'
Bergeser dari pusat ketegangan di laut, tim menyeberang menuju Pulau Hormuz. Kontras dengan hiruk-pikuk ancaman perang militer dan krisis energi, pulau yang dijuluki Rainbow Island karena keindahan bukit-bukit merah, emas, dan jingganya ini justru menyuguhkan ketenangan yang menghanyutkan.
Masyarakat setempat tetap beraktivitas normal seolah tak terpengaruh oleh geopolitik yang memanas. Fatima, salah satu warga lokal, menegaskan keteguhan hati penduduk pulau tersebut.
"Dalam perang yang sedang terjadi saat ini, kami tidak pernah sekali pun meninggalkan Hormuz. Ketika perang ini pecah, kami segera menyiapkan dapur di rumah-rumah untuk membuatkan makanan bagi para pejuang kami," tutur Fatima.
"Kami tidak akan menyerahkan kota dan pulau kami, kami tidak takut apa pun. Di tengah situasi seperti ini kami tetap menjalani kehidupan sehari-hari. Kami berjalan di kota ini dengan tenang, pergi dan pulang seperti biasa," tegasnya.
Percakapan sore itu di Pulau Hormuz memberikan sudut pandang yang menyentuh. Bagi dunia, Hormuz mungkin sebatas angka jutaan barel minyak, jalur perdagangan, dan panggung unjuk kekuatan militer antarnegara. Namun, bagi warga yang menetap di sana, pulau tersebut mengajarkan bahwa cinta terhadap Tanah Kelahiran sering kali jauh lebih kuat dibandingkan rasa takut terhadap ancaman apa pun.




