Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2027 akan dapat mencapai batas atas kisaran proyeksi 5,1-5,9 persen, didukung oleh kuatnya permintaan domestik.
Dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi XI DPR di Jakarta, Perry mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik pada tahun depan juga didukung oleh berbagai langkah, untuk mendorong investasi serta perbaikan kinerja ekspor Indonesia.
Hal ini seiring dengan membaiknya ekonomi dunia, dengan pertumbuhan yang diperkirakan meningkat dari 3 persen pada 2026 menjadi 3,1 persen pada 2027.
- [tangkapan layar]
Perry menyebut, terdapat tiga faktor utama yang mendasari optimisme tersebut. Pertama, kebijakan fiskal pemerintah yang tetap prudent dengan defisit yang rendah dan terkendali.
Hal itu menurutnya juga disertai dengan upaya pemerintah dalam merealokasi anggaran yang lebih efisien, produktif, dan mendukung kesejahteraan masyarakat.
“Pro-growth dan pro-welfare itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Perry di DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.
Kedua, pelaksanaan program prioritas nasional yang terorkestrasi dengan baik, mulai dari ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga program hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam.
Ketiga, yakni upaya penguatan koordinasi antara BI dan pemerintah, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Meski kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas, Perry memastikan bahwa BI akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.
"Demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya. (Ant).





