Suasana atrium yang menjadi episentrum di tengah mal Ashta District 8 di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, agak berbeda saat sejumlah karya seni rupa disajikan dalam pameran bertajuk Intersection: Parallel Conversations, Senin (15/6/2026). Di tengah lalu-lalang pengunjung mal, sebagian langkah terhenti untuk mengamati karya seni lukisan, mix media, instalasi, dan patung yang tersaji di sejumlah panel bersilang.
Intersection: Parallel Conversations menyatukan seniman kontemporer internasional dan Indonesia melebur berdampingan melalui perspektif yang berbeda, namun saling terkait. Melalui kolaborasi dua galeri seni, Rika Contemporary dan Vice & Virtue Gallery, pameran ini mengundang publik untuk menjelajahi sejumlah titik pertemuan yang muncul ketika praktik-praktik artistik yang berbeda berdialog, membuka kemungkinan baru bagi pertukaran budaya dan wacana seni kontemporer.
Intersection: Parallel Conversations menyatukan seniman kontemporer internasional dan Indonesia. (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Karya mereka melebur berdampingan melalui perspektif yang berbeda, namun saling terkait. (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Pameran ini mengundang publik untuk menjelajahi sejumlah titik pertemuan yang muncul ketika praktik-praktik artistik yang berbeda berdialog. (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Alih-alih menyajikan narasi tunggal, pameran ini terungkap sebagai serangkaian dialog visual yang dibentuk oleh latar belakang budaya, pengalaman pribadi, dan cara pandang berbeda.
Karya-karya yang dipamerkan mengeksplorasi bagaimana suara-suara artistik dari latar budaya, generasi, dan pengalaman berbeda dapat bertemu melalui gagasan dan bahasa visual yang beririsan.
Pameran ini menghadirkan referensi pada budaya pop, media massa, dan pembuatan citra kontemporer beririsan dengan karya-karya yang berakar pada ingatan, kehidupan sehari-hari, dan konteks lokal. Beberapa seniman terlibat dengan bahasa visual global, sementara yang lain merefleksikan pengamatan lebih tenang yang diambil dari lingkungan yang intim atau akrab. Bersama-sama, praktik-praktik ini menciptakan momen resonansi, kontras, dan pertukaran.
Seniman yang terlibat di antaranya AT Sitompul, Andy Warhol, Daniel Arsham, Dimas Kurniadi, Fauzan, Joko Nastain, Mr Doodle, Neunoa, Nobuyoshi Araki, Prabu Perdana, Rizal Kuzma, Svkmatra, Takashi Murakami, Tartaros, Tsukino Kaeru, Wednesday Lim, Yayoi Kusama, Yoshimasa Tsuchiya, Yoshitomo Nara, Yuichi Hirako, dan Zoe. Pameran ini menjadi ruang bagi beragam perspektif artistik hadir berdampingan dan terlibat dalam percakapan visual yang berkelanjutan.
Alih-alih mengelompokkan seniman berdasarkan geografi atau aliran seni tertentu, Intersection: Parallel Conversations mengajak pengunjung menemukan keterhubungan yang tak terduga di antara praktik-praktik artistik berbeda. Melalui karya lukis, fotografi, patung, seni grafis, dan media campuran, pameran ini menyoroti tema-tema seperti identitas, memori, representasi, budaya populer, serta pembentukan citra dalam budaya visual kontemporer yang muncul lintas konteks budaya.
Pada dasarnya, pameran ini merefleksikan bagaimana para seniman merespons pengalaman universal manusia sembari tetap berakar pada latar belakang masing-masing. Titik temu ataupun perbedaan yang muncul di sepanjang pameran menunjukkan bagaimana seni kontemporer dapat menjadi ruang pertukaran gagasan, refleksi, dan pemahaman bersama.
Pameran ini juga menyoroti hubungan yang dinamis antara praktik seni kontemporer Indonesia dan perkembangan seni rupa internasional. Dengan menghadirkan seniman lintas generasi dan latar belakang dalam satu ruang, Intersection: Parallel Conversations mengajak audiens untuk melihat bagaimana gagasan artistik bergerak melampaui batas geografis dan budaya, tanpa kehilangan karakter serta perspektif unik yang dimilikinya.
Pameran ini tidak berupaya untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan ini menjadi satu makna terpadu. Sebaliknya, Intersection: Parallel Conversations mengundang audiens untuk bergerak bebas di antara karya-karya, memungkinkan koneksi muncul melalui kedekatan, ketegangan, dan refleksi. Di ruang bersama ini, setiap karya seni menjadi bagian dari percakapan berkelanjutan yang tetap terbuka, cair dan terus berkembang.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, pameran ini menawarkan dialog sebagai cara untuk memahami perbedaan. Intersection: Parallel Conversations merayakan keberagaman perspektif dan menunjukkan bagaimana berbagai narasi, sejarah, dan pengalaman dapat memperkaya satu sama lain. Pameran berlangsung hingga 28 Juni 2026.





