Pertamina akan meluncurkan BBM jenis baru pada 1 Juli 2026. BBM baru ini bernama biodiesel B50, sebuah inovasi bahan bakar minyak yang mengandung campuran 50 persen solar dan 50 persen minyak sawit (CPO).
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, B50 merupakan kelanjutan dari program biodiesel B40 yang selama ini diterapkan di Indonesia, dimana campuran minyak sawit pada bahan bakar solar adalah 40 persen.
Ia mengatakan dengan menaikkan kadar biodiesel hingga 50 persen, B50 menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
"B50 sesuai dengan jadwal akan diimplementasikan pada 1 Juli 2026. Mungkin satu minggu lagi saya akan melakukan rapat dengan tim uji coba. Sekarang kan kita masih terus melakukan uji coba," ujar Bahlil,dikutip dari Detik, Rabu (17/6/2026).
Kualitas Lebih BaikMenteri ESDM tersebut menyampaikan B50 memiliki keunggulan pada aspek kualitas bahan bakar jika dibandingkan dengan B40. Salah satu indikator utama adalah kadar air yang lebih rendah pada B50, sehingga meningkatkan stabilitas dan performa bahan bakar.
Hasil uji coba menunjukkan keberhasilan B50 dalam berbagai aspek teknis mencapai 80 hingga 90 persen. Dengan pengujian yang mendekati tahap akhir ini, B50 menunjukkan potensi lebih baik dalam hal efisiensi dan kompatibilitas dengan mesin kendaraan dibandingkan dengan B40 saat ini.
"Sekitar 80-90% hasil uji coba, alhamdulillah baik. Bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 itu lebih baik di B50. Namun, hasil akhirnya akan kami sampaikan setelah rapat evaluasi final," ungkap Bahlil.
Tahapan Uji CobaPemerintah dan PT Pertamina telah menjalankan serangkaian uji coba sejak Desember 2025 lalu yang melibatkan berbagai parameter teknis dan operasional untuk memastikan kelayakan B50 sebagai BBM baru.
Evaluasi dilakukan dalam berbagai kondisi dan jenis mesin untuk melihat efek campuran 50 persen minyak sawit terhadap performa dan emisi. Hasil akhir dari uji coba ini sangat positif, dengan mayoritas parameter memenuhi standar dan kualitas yang diharapkan.
Diketahui, program B50 adalah hasil pengembangan panjang pemerintah selama 15 tahun lebih. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang memanfaatkan bahan bakar dengan komposisi campuran nabati setinggi ini.
Penyelesaian RegulasiDirektur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah sedang merampungkan payung hukum berupa keputusan menteri yang mengatur penggunaan biodiesel 50 persen secara wajib bagi seluruh sektor.
Regulasi ini bertujuan agar penerapan B50 dapat berjalan konsisten dan terstruktur, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku industri dan konsumen.
"Di 1 Juli 2026 ini akan segera dikeluarkan keputusan menteri untuk mengimplementasikan mandatori 50% untuk semua sektor di penggunaan minyak bahan bakar minyak tertentu dan bahan bakar minyak jenis umum," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip dari CNBC.
Penghematan Devisa NegaraPemerintah memperkirakan penggunaan B50 diperkirakan dapat menghemat devisa negara mencapai sekitar Rp157,28 triliun pada tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar fosil dan peningkatan penggunaan bahan bakar lokal berbasis minyak sawit.
Penghematan devisa ini menjadi salah satu faktor utama dalam strategi pemerintah untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional melalui program mandatori biodiesel.
B50 juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan nilai tambah crude palm oil (CPO) domestik, diproyeksikan mencapai Rp24,68 triliun. Penyerapan minyak sawit yang lebih besar oleh sektor energi menciptakan pasar yang stabil untuk produk kelapa sawit nasional dan memperkuat rantai nilai di sektor pertanian dan industri pengolahan minyak sawit.
"Untuk proyeksi hingga Desember 2026 dengan adanya penambahan 50 persen ini, maka penghematan devisa yang bisa dilakukan mencapai Rp157,28 triliun dan peningkatan nilai tambah CPO juga merambah naik menjadi Rp24,68 triliun," kata Eniya, dikutip dari CNN.
Penurunan Emisi Gas Rumah KacaSementara dari sisi lingkungan, penerapan B50 diharapkan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 sepanjang tahun 2026.
Pemerintah memastikan pengurangan emisi ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam pengelolaan lingkungan dan mitigasi perubahan iklim melalui penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT).
Dengan kandungan bio-component yang lebih tinggi, B50 membantu mengurangi jejak karbon dan memperbaiki kualitas udara serta lingkungan hidup.
Selain itu, implementasi B50 dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar fosil yang selama ini menyerap devisa besar dan rentan terhadap fluktuasi pasar global.





