Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat perolehan premi industri asuransi umum sebesar Rp31,11 triliun, tumbuh 1,92% (year on year/YoY) pada kuartal I/2026. Perolehan ini belum termasuk satu perusahaan asuransi.
Wakil Ketua AAUI untuk Bidang Statistik, Riset & Analisis, Heri Supriyadi membeberkan beberapa lini usaha atau produk asuransi yang mengalami kenaikan dan penurunan signifikan.
“Kalau dari presentase tentu di sini adalah energy on shore itu 185,6% tapi angkanya hanya Rp178 miliar atau naik sekitar Rp115 miliar,” katanya dalam konferensi pers kinerja asuransi umum & reasuransi triwulan I/2026 di Jakarta, rabu (17/6/2026).
Dia melanjutkan bahwa bila dilihat dari nominal, kenaikan premi paling tinggi terjadi di produk asuransi kesehatan. Pada Maret 2026, produk ini naik Rp867 miliar menjadi Rp4,63 triliun atau naik sebesar 23,0%.
Selanjutnya, diikuti oleh asuransi properti yang naik Rp509 miliar atau 6,5% YiY menjadi Rp8,31 triliun, kendaraan bermotor naik Rp152 miliar atau 2,9% YoY menjadi Rp5,39 triliun, dan marine hull naik Rp145 miliar atau 15,4% YoY menjadi Rp1,08 triliun. Adapun, asuransi kredit preminya naik Rp128 miliar atau 3,2% YoY menjadi Rp4,10 triliun.
“Untuk yang marine cargo turun 12,6% YoY atau sekitar Rp216 miliar, aviation turun 15,2% YoY, satelit turun 18,5% YoY, energy off shore turun 51,5% YoY, engineering turun 44,4% YoY. Sementara itu, liability turun 2,1% atau nilainya Rp36 miliar, personal accident juga termasuk yang turun 31,3% YoY,” ucapnya.
Baca Juga
- AAUI Ungkap Tantangan Perusahaan Asuransi Penuhi Ekuitas Minimum Rp250 Miliar
- Budi Herawan Kembali Terpilih jadi Ketua AAUI Periode 2026-2030
- AAUI Ungkap Sederet Dampak El Nino Ekstrem ke Industri Asuransi Umum
Dari sisi klaim, Heri mengemukakan klaim industri asuransi umum mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari kenaikan premi industri. Pada kuartal I/2025 klaim industri mencapai Rp10,97 triliun.
“Di Q1/2026 ada Rp12,92 triliun atau naik sekitar Rp1,94 triliun. Dari total yang paling banyak selisihnya atau kenaikannya adalah di properti yang naik Rp679 miliar atau 34% YoY, disusul engineering Rp626 miliar dan asuransi kredit Rp610 miliar. Jadi itu yang paling besar penyumbang klaim Q1/2026,” tuturnya.
Sementara itu, rasio klaim industri asuransi umum pada kuartal I/2026 sebesar 41,5%. Rasio terbesar ada di energy off shore 148%, engineering 113%, dan credit insurance 102%. Adapun, pada kuartal I/2025 rasionya sebesar 36,0%.
“Ke depan, industri diharapkan terus memperkuat kapasitas permodalan, kualitas underwriting, serta pengelolaan risiko guna menghadapi berbagai tantangan yang berkembang dan meningkatkan kontribusi terhadap ketahanan ekonomi Indonesia,” pungkas pria yang menjabat sebagai Direktur PT BRI Asuransi Indonesia.





