Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Magang Nasional dan menyiapkan sejumlah perbaikan untuk pelaksanaan tahap berikutnya. Salah satu fokus utamanya adalah memperluas sebaran peserta magang agar tidak terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya Jakarta.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, program magang yang telah berjalan masih memiliki sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, mulai dari sistem pendukung hingga distribusi peserta.
“Mulai dari supporting system IT yang di awal-awal sempat ada masalah teknis, ada tantangan bagi kami untuk lebih memperluas distribusi peserta magang,” ujar Yassierli dalam acara Penutupan Program Pemagangan Nasional Batch III, Kamis (18/6), dilansir dari YouTube Kemenaker.
Pada pelaksanaan angkatan pertama, mayoritas peserta magang masih memilih lokasi di Pulau Jawa, terutama Jakarta. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perbedaan tingkat upah minimum.
“Sebagian besar angkatan 1 banyaknya di Pulau Jawa dan banyaknya juga di Jakarta. Karena upah minimum di Jakarta Rp5,6 juta, sekarang sudah sampai Rp5,8 juta. Milih juga ternyata adik-adik peserta magang begitu,” katanya.
Konsentrasi peserta di Jakarta membuat persaingan mendapatkan posisi magang menjadi lebih ketat. Oleh karena itu, Kemnaker mendorong peserta untuk mempertimbangkan peluang magang di daerah masing-masing.
“Kita ingin nanti program selanjutnya lebih tersebar di semua provinsi. Saya sudah sampaikan dari awal kalau memilih magang di Jakarta tentu persaingannya lebih kompetitif, lebih berat,” jelasnya.
Ia berharap peserta dapat memilih perusahaan yang berada di daerah agar kesempatan lolos dan mendapatkan pengalaman kerja menjadi lebih terbuka.
“Nanti pilihlah perusahaan-perusahaan yang ada di daerah masing-masing, sehingga persaingannya itu juga mungkin tidak seketat kalau memilih di Jakarta,” ujar Yassierli.
Selain pemerataan wilayah, Kemnaker juga akan memperbaiki distribusi peserta berdasarkan latar belakang pendidikan. Pemerintah ingin peserta magang dari berbagai program studi dapat memperoleh kesempatan yang lebih seimbang.
“Kita juga ingin sebaran terkait dengan program studi lulusan itu lebih merata. Ini yang nanti tantangan bagi kita dalam pelaksanaan magang selanjutnya,” ucapnya.
Lebih lanjut, Kemnaker juga akan memperkuat mekanisme monitoring dan evaluasi (monev) program magang. Perbaikan tersebut mencakup peningkatan sistem pendukung serta pengembangan program peningkatan kemampuan peserta.
Program Pemagangan Lulusan Perguruan Tinggi Batch Ketiga telah berlangsung selama enam bulan, dimulai dari proses pendaftaran pada 24 November hingga 3 Desember 2025. Program tersebut kemudian resmi berjalan pada 16 Desember 2025 dan berakhir pada 15 Juni 2026.
Koordinator Nasional Program Pemagangan Nasional Lulusan Perguruan Tinggi, Profesor Anwar Sanusi, mengatakan penutupan program batch ketiga menjadi bagian akhir dari rangkaian pelaksanaan program pemagangan yang telah berlangsung sejak batch pertama hingga batch ketiga periode 2025–2026.
“Program pertama kali kita mulai yakni pada tanggal 16 Desember 2025 dan berakhir tanggal 15 Juni 2026 yang hari ini kita bersama-sama menyelenggarakan penutupan untuk Program Pemagangan Batch yang ketiga,” ujar Anwar.
Ia menyampaikan, Program Pemagangan Batch Ketiga diikuti oleh 24.456 peserta yang ditempatkan di 3.380 perusahaan serta 49 kementerian dan lembaga.
Dari total peserta tersebut, sebanyak 15.997 peserta mengikuti pemagangan di perusahaan dengan melibatkan 2.381 penyelenggara dan 5.975 mentor.
Sementara itu, pemagangan yang dilaksanakan di kementerian dan lembaga diikuti oleh 8.479 peserta dengan melibatkan 999 penyelenggara dan 2.525 mentor.




