jpnn.com, JAKARTA - Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) merilis hasil survei nasional bertajuk "Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Pandangan Masyarakat".
Survei yang digelar secara daring di 32 provinsi pada 10 - 17 Juni 2026 terhadap 1.922 responden ini menemukan bahwa sosok Joko Widodo (Jokowi) memberikan pengaruh signifikan terhadap citra dan tingkat kepercayaan publik terhadap PSI.
BACA JUGA: Hasil Survei: 85,8 Persen Publik Puas Kinerja Pelindo
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI Fernando Emas menyebutkan temuan survei tersebut merupakan cermin realitas politik di Indonesia yang masih bertumpu pada kekuatan figur dan berdampak pula terhadap citra partai politik.
Terhadap PSI, menurutnya terjadi perpindahan persepsi dari figur kepada partai. Hal itu dijelaskannya saat merilis survei nasional LPI, di Jakarta, Jum'at 19 Juni 2026.
BACA JUGA: Hasil Survei: 62% Warga AS Menilai Trump Tidak Punya Rencana Jelas
"Dari temuan survei LPI, 'image transfer' terjadi antara figur Jokowi dengan PSI yang dikabarkan bakal menjadi Ketua Dewan Pembina partai ini," ujar Fernando Emas.
Dia menyebut hasil survei terlihat, bahwa rerata 70.2% masyarakat menilai bahwa kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan kesan (citra) positif terhadap partai.
BACA JUGA: Konon, PSI Tempuh Langkah Instan untuk Jadi Besar, Begini Ceritanya
Dengan rincian penilaian sebanyak 37.7% responden menilai dapat meningkatkan, 26.4% responden menjawab cukup dapat meningkatkan, dan 6.1% responden menilai sangat dapat meningkatkan.
Sementara 15.5% responden menjawab tidak dapat meningkatkan, dan 10.5% responden menjawab kurang dapat meningkatkan. Lalu sebanyak 3.8% responden memilih tidak menjawab.
Survei itu juga menunjukkan rerata 77.8% masyarakat menilai bahwa Jokowi memiliki pengaruh terhadap dukungan masyarakat ke PSI.
Dengan rincian sebanyak 35.8% menjawab berpengaruh, 30.9% responden menjawab cukup berpengaruh, dan 11.1% responden menilai sangat berpengaruh.
Sedangkan 16.9% responden menjawab kurang berpengaruh, dan 3.5% responden menjawab tidak berpengaruh. Sedangkan 1.8% responden memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu.
Menurut Fernando, citra positif itu pada akhirnya pada akhirnya akan mengasosiasikan figur tersebut terhadap PSI, tetapi juga atribusi atau identitas lain yang muncul dari pandangan atau penilaian responden.
Seperti halnya persepsi publik terhadap figur Jokowi yang dikenal merakyat dan gaya kepemimpinannya yang unik dan khas.
Dari temuan survei menunjukkan, rerata 64.9% masyarakat menilai bahwa PSI merupakan partai yang merakyat seperti Jokowi.
Dengan rincian penilaian, sebanyak 30.5% responden menjawab cukup merakyat, 25.5% menjawab merakyat, dan 8.9% responden menjawab sangat merakyat.
Lalu sebanyak 21.4% responden menyebutkan kurang merakyat, 11.7% responden menjawab tidak merakyat dan 2% responden memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu.
Terkait variabel kepemimpinan, survei menunjukkan, rerata 62.8% masyarakat menilai bahwa partai PSI merupakan partai yang mencerminkan gaya kepemimpinan Jokowi.
Rinciannya, sebesar 32.3% responden menjawab cukup mencerminkan, lalu 24.6% responden menyebutkan mencerminkan, dan sebanyak 5.9% responden menjawab sangat mencerminkan.
Sedangkan 17.9% responden menjawab tidak mencerminkan dan 12.1% responden menyebutkan kurang mencerminkan. Dan sebanyak 7.3% responden memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu.
"Angka-angka ini menegaskan bahwa di mata publik, PSI dan Jokowi praktis sudah menjadi satu paket identitas politik. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi komunikasi politik partai yang konsisten sejak bergabungnya pendukung Jokowi ke PSI hingga terpilihnya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum," kata Fernando Emas.
Faktor Kaesang Juga Berperan
Selain faktor Jokowi, sosok Kaesang Pangarep selaku Ketua Umum PSI, tampaknya dapat membentuk persepsi positif terhadap partai yang dipimpinnya.
Sebanyak 69,7 persen responden menilai kepemimpinan Kaesang dapat memperkuat citra PSI sebagai partai yang dekat dengan Jokowi, dan 68,2 persen mengakui, bahwa ketertarikan mereka terhadap PSI turut dipengaruhi oleh figur Kaesang.
Menariknya, alasan utama yang menyukai Kaesang bukan semata statusnya, sebagai putra Jokowi melainkan karena ia dianggap mewakili generasi muda.
Lebih lanjut, Fernando menjelaskan, figur Kaesang dinilai dapat memperluas jangkauan pengenalan publik terhadap PSI, serta dapat membawa semangat pembaruan.
Dari survei LPI, didapati bahwa daya tarik Kaesang Pangarep terhadap PSI berasal dari citranya sebagai representasi generasi muda.
Sebanyak 72% menyatakan bahwa Kaesang (dinilai) mewakili generasi muda, merupakan alasan yang paling banyak dipilih responden. Selain itu, 65% responden menilai, Kaesang akan membuat PSI lebih dikenal masyarakat, sementara 61% menilai Kaesang membawa semangat pembaruan dalam politik.
"Temuan ini menarik karena memperlihatkan bahwa daya tarik Kaesang punya nilai jualnya sendiri, terlepas dari bayang-bayang ayahnya. Tetapi, dua hal ini — baik faktor Jokowi dan faktor Kaesang — pada akhirnya saling memperkuat satu sama lain dalam membentuk citra PSI sebagai partai anak muda yang diasosikan sebagai representasi politik Jokowi," ujar Fernando Emas.
Tantangan Elektabilitas: Antara Citra Positif PSI dan Realita Suara
Survei LPI juga mendapati bahwa rerata 64.2% masyarakat menilai bahwa pengaruh dukungan Jokowi masih cukup kuat dalam memengaruhi pertimbangan masyarakat terhadap pilihan partai politik.
Dengan rincian sebanyak 26.7% responden menyatakan pasti akan mempertimbangkan, lalu 11.2% menyatakan sangat pasti akan mempertimbangkan partai yang didukung Jokowi, dan sebesar 26.3% responden menyatakan cukup pasti akan mempertimbangkan.
Lain sisi, responden yang menyatakan kurang pasti akan mempertimbangkan sebesar 19.1%, sedangkan 13.2% menyatakan tidak pasti akan mempertimbangkan partai yang didukung Jokowi. Sementara itu, 3.% responden tidak memberikan jawaban.
Namun, di balik citra yang relatif positif, survei LPI juga menemukan fakta yang kontras pada sisi elektabilitas.
Saat responden ditanyai pilihannya partainya, jika pemilu dilaksanakan hari ini, PSI hanya memperoleh 1,9% suara nasional -- dari survei itu, diperoleh bahwa PSI di bawah PPP sebesar 2.8% dan berselisih tipis dengan Partai Perindo yaitu 1%.
Dengan kata lain, masih berada di bawah ambang batas parlemen (trasehold) atau sebesar 4% (PT) suara nasional. Jawaban dari pandangan responden, terlihat bahwa lima partai besar masih mendominasi peta elektoral nasional. Survei LPI mendapati bahwa: Gerindra (21,9%), PDIP (19%), Golkar (8,1%), PKB (7,9%), dan PKS (4,7%) merupakan lima partai yang masih mendominasi perolehan suara pemilu.
Menurut Fernando, temuan ini menarik sekaligus paradoks (tantangan) yang harus dicermati lebih lanjut oleh PSI.
Bahwa loyalitas terhadap Jokowi masih kuat, namun belum cukup untuk mendorong publik benar-benar berpindah pilihan ke PSI dalam jumlah signifikan.
Artinya, modal citra dari sosok Jokowi ini perlu segera dikonversi menjadi program kerja yang konkret dan substansi politik yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Jika tidak, popularitas yang menyertai nama Jokowi berisiko hanya menjadi citra di permukaan tanpa pernah benar-benar berubah menjadi suara di kotak pemilu," pungkas Fernando.
Sampel dalam survei ini diambil menggunakan metode multistage random sampling dengan teknik stratified quota sampling berdasarkan wilayah, jenis kelamin, kelompok usia, dan pendidikan, untuk memastikan komposisi sampel mendekati karakteristik populasi.
Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau yang telah memiliki hak pilih, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Jumlah sampel sebanyak 1.922 responden dengan margin of error sebesar ±2,54 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




