Terminologi "Ablasi" Hadir di Berbagai Disiplin Ilmu

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Terminologi “ablasi” banyak berperan serta dalam uraian teoretis sejumlah disiplin ilmu. Pertama kali secara luas berada di dunia medis dan bedah. Diserap dari kata ablatio dalam bahasa Latin. Maknanya “menghilangkan, melepaskan, atau membawa pergi”.

Terminologi “ablasi” sudah muncul dalam karya klasik berupa teks medis Abad Pertengahan (Abad Ke-5 hingga Ke-15 Masehi). Judulnya La Grande Chirurgie (dalam bahasa Latinnya Chirurgia Magna) dan terjemahan bahasa Indonesianya Ilmu Bedah yang Agung.

Teks medis Abad Pertengahan tersebut merupakan hasil karya dokter dan ahli bedah terkemuka pada masa itu, Guy de Chauliac (lahir pada tahun 1300 - meninggal pada 25 Juli 1368). Karya tersebut selesai ditulis pada 1363. Sekitar lima tahun sebelum beliau wafat.

Teks klasik tersebut mensintesiskan pengetahuan medis Yunani, Arab, dan Eropa yang ternyata telah bergulir sebagai praktis medis berabad-abad. Dan, menunaikan fungsi sebagai manual referensi bedah utama dan autoritatif selama 200 tahun lebih.

Teks klasik medis karya dokter pribadi Paus Clement VI dan dosen di Universitas Montpellier tersebut, terbagi dalam tujuh risalah mengenai anatomi, pembengkakan, luka (jenis tertutup seperti memar, benjolan, cedera remuk, keseleo), ulkus (luka terbuka seperti borok), patah tulang, dislokasi, dan penyakit khusus.

Chauliac menyarankan pendekatan holistik dan etis dalam praktik kedokteran. Dia berpandangan, bahwa ahli bedah selain mesti berpendidikan tinggi di bidang pengobatan, juga luwes beradaptasi, dan berbelas kasih kepada para pasiennya. Teks medis ini mulanya ditulis dalam bahasa Latin.

Karya klasik ini begitu berpengaruh selama Wabah Hitam (Black Death). Pandemi pes paling mematikan dalam sejarah yang menerjang Eropa, Asia, dan Afrika Utara pada 1347 - 1351. Chauliac salah seorang dari sedikit dokter yang tetap tinggal di Avignon, Prancis untuk merawat para korban wabah dan mendokumentasikan gejalanya.

Pada masa Abad Pertengahan itu, para ahli bedah menggunakan terminologi “ablasi” untuk merujuk pada praktik medis, yaitu mengangkat dan menghilangkan jaringan tubuh secara mekanis yang membahayakan kesehatan. Termasuk di dalamnya amputasi anggota tubuh dan eksisi (pembedahan) tumor.

Kedokteran Modern

Dalam dunia kedokteran modern, ablasi merupakan prosedur bedah minor atau minimal invasif guna menghancurkan, memotong, atau mengangkat jaringan tubuh abnormal, seperti tumor, jaringan parut, atau area yang memicu masalah kesehatan.

Sejumlah jenis utamanya, mencakup Ablasi Jantung (Kardiak). Prosedur medis guna mengatasi aritmia, gangguan irama jantung. Untuk keperluan ini, dokter memakai kateter yang memperoleh aliran energi panas (radiofrequency) atau dingin ekstrem (cryoablation). Tujuannya, untuk menonaktifkan jaringan kecil di jantung yang menyebabkan detak jantung tidak beraturan.

Selanjutnya ada Ablasi Tumor/Kanker. Praktis medis ini memanfaatkan panas, seperti ablasi laser atau gelombang mikro, yang dapat membunuh sel kanker tanpa harus melakukan pengangkatan bedah besar.

Jenis utama yang lainnya, Ablasi Endometrium, yaitu prosedur ginekologi guna menghancurkan lapisan dinding rahim (endometrium) dalam upaya menangani pendarahan menstruasi yang berlebihan.

Ada pula Ablasi Tiroid, praktik terapi radiasi untuk menghancurkan sisa jaringan tiroid pascaoperasi kanker tiroid. Jenis tumor ganas yang bertumbuh kembang di kelenjar tiroid yang terletak di bagian depan leher, tepat di bawah jakun.

Geologi dan Geomorfologi

Disiplin ilmu Glasiologi (Geologi), mulai menggunakan terminologi ablasi pada abad ke-19 guna mendeskripsikan proses menghilangnya massa gletser atau es akibat adanya pencairan dan penguapan. Ablasi dalam konteks ini merujuk pada proses menghilang massa es atau salju pada gletser atau gunung es.

Proses ablasi ini melewati sejumlah mekanisme. Bisa dengan pencairan, saat es berubah menjadi air karena suhu udara meningkat menjadi panas. Bisa pula dengan mekanisme sublimasi, tatkala es berganti wujud menjadi gas tanpa melalui tahapan pencairan.

Bisa juga melalui mekanisme pengikisan es (calving). Ada kejadian bongkahan es besar pecah dan jatuh ke dalam laut atau danau. Ukurannya ada yang berupa gunung es skala raksasa (megaberg). Tidak jarang terjadi di Benua Antartika yang seluas 14 juta kilometer persegi. Di sana, bongkahan es yang lepas terkadang dapat mencapai ribuan kilometer persegi.

Untuk bongkahan gunung es skala sedang hingga kecil. Di wilayah gletser di Greenland, Denmark, di timur laut Kanada dan barat laut Islandia. Di pulau yang 80% wilayahnya tertutup lapisan (glasier) sangat tebal di Kutub Utara itu, bongkahan es yang terlepas dengan ukuran 100 meter hingga 300 meter. Dengan demikian, kira-kira ukuran bongkahan es yang terlepas itu merupakan gunung es setinggi menara atau gedung pencakar langit.

Untuk serpihan kecil dalam mekanisme pengikisan bongkahan es. Ukuran di bawah dua meter disebut growlers. Sementara itu, bongkahan es dengan panjang 2 - 5 meter bergy bits.

Proses ablasi lainnya juga bisa terjadi karena adanya erosi angin. Partikel es terkikis karena terkena hembusan angin yang sedemikian kuat. Di pegunungan ekstrem, kecepatan angin 30 - 48 kilometer per jam (di kisaran 8 - 13 meter per detik) sudah relatif mampu mengikis struktur bongkahan es.

Sementara itu, dalam disiplin ilmu Geomorfologi dan Geografi, terminologi “ablasi” mengacu pada proses pengikisan atau penghancuran tanah, bebatuan, dan material di permukaan Bumi lainnya. Faktor penyebabnya karena ada aktivitas air, baik berupa aliran air permukaan sungai maupun air hujan.

Terminologi “ablasi” dalam konteks Geomorfologi merujuk secara khusus pada jenis-jenis erosi air yang kebanyakan menjadi kekuatan eksogen pembentuk relief permukaan Bumi. Dengan demikian, berbicara mengenai ablasi, prosesnya terdiri atas beberapa tahapan pengikisan atau erosi berlandaskan pada kekuatan dan dampak timbulannya.

Ada jenis ablasi yang berupa Erosi Percik (Splash Erosion). Pengikisan yang berlangsung akibat tetesan air hujan yang terjatuh secara langsung di permukaan tanah. Bisa mengakibatkan agregat tanah menjadi terpecah dan menghanyutkannya.

Ablasi lainnya dalam konteks Geomorfologi bisa berwujud Erosi Lembar (Sheet Erosion). Proses pengikisan pada lapisan permukaan tanah secara merata. Tanah pun menjadi tipis dan kesuburannya berkurang.

Terdapat pula ablasi berupa Erosi Alur (Rill Erosion). Pengikisan yang berujung pada pembentukan alur-alur kecil di permukaan tanah yang menjadi tempat bagi air untuk mengalir. Dan, kelanjutannya ketika alur-alur itu menjadi kian dalam dan lebar sehingga mewujud parit. Ablasi jenis ini disebut Erosi Parit (Gully Erosion).

Fisika

Di bidang Fisika, terminologi "ablasi" mengacu pada upaya untuk mendeskripsikan proses pelepasan atau pengikisan material dari suatu permukaan. Hal ini berlangsung akibat adanya penguapan, pelelehan, atau proses erosif lainnya yang terpicu transfer energi panas yang intens.

Ablasi kerap berada dalam ranah cabang Fisika Termal, Fotonika, dan Astrofisika lewat konteks proses fisik ketika pulsa laser dengan intensitas tinggi terfokus ke permukaan material padat atau cair.

Energi foton yang terserap pun menimbulkan pemanasan mendadak, eksitasi elektronik, dan penguapan, sehingga mengakibatkan material terlepas ke udara. Metode ini dapat menunaikan kegunaannya dalam spektroskopi dan fabrikasi material nano.

Ada Ablasi Termal dalam Fisika Plasma dan senjata termonuklir, merujuk pada penguapan lapisan luar material pendorong (tamper) akibat tekanan radiasi atau partikel berenergi tinggi.

Lalu Pendinginan Ablasi (Ablative Cooling). Ini merupakan metode perlindungan pesawat luar angkasa ketika memasuki atmosfer Bumi. Pesawat memiliki lapisan dengan material khusus yang dapat meleleh dan menguap secara terkontrol. Proses penguapan ini menyerap panas sangat ekstrem dari gesekan atmosfer, sehingga dapat melindungi bagian dalam pesawat dari suhu yang merusak.

Kemudian ada Ablasi Atmosfer dalam Astrofisika. Merupakan fenomena penguapan lapisan luar meteoroid ketika memasuki atmosfer Bumi dengan sangat tinggi akibat adanya gesekan aerodinamis.

Juga ada Ablasi Laser (Laser Ablation). Merujuk pada pengikisan material dari permukaan padat (atau cair) dengan memanfaatkan penyinaran pada permukaan tersebut dengan pancaran sinar laser. Pengaplikasiannya dalam pembersihan material presisi, ukiran mikro (micro-machining), atau spektroskopi.

Kecerdasan Buatan

Terminologi “ablasi” juga merambah ke wilayah teknologi transformatif Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Adalah Allen Newell (19 Maret 1927 - 19 Juli 1992), pionir di bidang AI dan Psikologi Kognitif.

Bersama ilmuwan kognitif dan pakar AI, Herbert A. Simon (15 Juni 1916 - 9 Februari 2001), dia menciptakan program AI awal, yaitu Logic Theorist (1956) dan General Problem Solver (1957).

Allen Newell yang juga peneliti di RAND Corporation dan profesor di Carnegie Mellon University (CMU) yang memainkan peran signifikan dalam pengembangan Ilmu Komputer dan Psikologi Kognitif.

Allen Newell menciptakan Teori Arsitektur Kognitif Terpadu atau yang biasa menerima sebutan SOAR (Security Orchestration, Automation, and Response) untuk memodelkan bagaimana pikiran manusia memecahkan masalah dan belajar.

SOAR dengan dukungan AI merupakan teknologi keamanan siber yang mengintegrasikan data, mengotomatisasi respons ancaman (playbook), dan memanfaatkan AI untuk memprediksi berikut menghentikan serangan. Serta, mempercepat deteksi dan meminimalisasi intervensi manual tim keamanan.

Allen Newell sejak tahun 1974 memakai konsep “ablasi” untuk mendeskripsikan metode pengujian AI dengan cara membuang atau menonaktifkan komponen tertentu guna melakukan analisis terhadap kinerjanya.

Pada tahun 1975, bersama Herbert A. Simon menerima ACM Turing Award. Penghargaan paling bergengsi dalam Ilmu Komputer atas terobosan fundamental mereka dalam AI dan Psikologi Kognitif. Keduanya berjasa atas kontribusi dalam pemrosesan informasi dan kognisi manusia.

Sekali lagi, perlu mendapat penegasan. Bahwa dalam AI, ablasi merupakan metode evaluasi melalui cara menghapus atau memodifikasi komponen tertentu dari sistem untuk menganalisis dampaknya. Tujuannya, memahami seberapa besar kontribusi bagian tertentu terhadap performa secara totalitas model. Ada kemiripan yang menampak, dengan eksperimen bedah untuk melihat fungsi organ.

Adapun inti dari studi ablasi di ranah Kecerdasan Buatan, cara kerjanya dengan menjalankan model AI dengan seluruh fitur atau lapisan jaringan (layer) secara lengkap. Kemudian meningkatkan akurasinya secara terukur.

Dalam proses berikutnya terjadilah ablasi (penghapusan atau penghilangan) satu atau lebih fitur, parameter, atau lapisan dengan sengaja. Lalu model AI yang telah mengalami modifikasi pengubahan kinerjanya memperoleh pengujian kembali. Pihak peneliti melihat seberapa jauh langkah penurunan atau peningkatan kualitas yang telah berlangsung.

Seluruh proses tersebut bertujuan utama, yaitu menemukan elemen kritis, atau mengidentifikasi bagian, seperti pooling layer dan attention block, yang terkrusial guna memproduksi keputusan yang memenuhi aspek keakuratan.

Ablasi juga terkait erat dengan prinsip efisiensi model AI. Dalam hal ini turut mendorong penyingkiran fitur yang tidak mempunyai nilai manfaat alias mubazir. Dengan demikian, model AI dapat menjadi lebih cepat dan ringan (pruning).

Ablasi dalam teknologi Kecerdasan Buatan juga terealisasi melalui praktik untuk mengurangi kompleksitas. Hal ini guna mengusung bukti nyata dari hipotesis yang mempertanyakan, mengapa sebuah algoritma bekerja dengan cara tertentu.

Penerapan studi ablasi sangat umum dalam pengembangan model Deep Learning seperti Convolutional Neural Networks (CNN) untuk pengenalan gambar. Ataupun, Large Language Models (LLM) guna pemrosesan bahasa.

Linguistik

Terminologi “ablasi” dalam Linguistik Historis, merujuk pada salah satu dari dua fenomena evolusi bahasa. Bisa berupa ablasi vokal, perubahan vokal akar kata, misalnya dalam strong verbs. Atau, bisa pula berupa pengurangan atau penghilangan bunyi dan morfem (reduksi infleksi).

Contoh ablasi dalam transisi bahasa Inggris Kuno (Anglo-Saxon, kisaran tahun 450 - 1150) ke bahasa Inggris Modern, misalnya ablasi vokal (vowel ablaut pada verba). Bahasa Inggris Kuno mewarisi sistem verba kuat Jermanik (strong verbs) yang mengubah vokal akar untuk membentuk kala (tense). Dan, bahasa Inggris Modern banyak mempertahankan pola ini.

Misal untuk verba “minum”, dalam bahasa Inggris Kuno ada drincan (infinitive), menjadi dranc untuk kala past tense, dan menjadi druncen untuk kala past participle. Pada bahasa Inggris Modern mengalami ablasi menjadi drinkdrankdrunk. Misal lain untuk verba “menyanyi”, dalam bahasa Inggris Kuno terdapat: singansangsungen. Kemudian dalam bahasa Inggris Modern terjadi ablasi menjadi: singsangsung.

Ablasi lainnya yang terjadi, yaitu reduksi akhiran kata (infleksi). Bahasa Inggris Kuno merupakan bahasa yang sangat terinfleksi, mirip bahasa Latin atau Jerman. Nomina dan verba yang mempunyai sufiks khusus buat penanda kasus (cases) atau jamak. Dalam proses transisi menuju ke bahasa Inggris Modern, sufiks itu mengalami ablasi, bisa berupa reduksi bisa pula hilang. Digantikan oleh preposisi.

Kata “batu” dalam bahasa Inggris Kuno, mempunyai sufiks berbeda tergantung pada posisinya dalam kalimat. Ketika menduduki fungsi subjek, ia mengambil bentuk penulisan stān. Manakala berada di posisi objek tidak langsung tertulis stāne. Dan, tatkala merupakan bentuk plural, tulisannya adalah stānas. Bahasa Inggris Modern telah mengalami ablasi yang lebih simpel, yaitu stone (singular) dan stones (plural).

Ada lagi ablasi konsonan, berupa penghilangan bunyi. Bahasa Inggris Kuno mengucapkan konsonan yang sekarang (dalam bahasa Inggris Modern) menjadi huruf mati (silent) atau berubah bunyi. Misalnya kata “kesatria”, dalam bahasa Inggris Kuno adalah cniht dengan pelafalan mirip dengan /kniht/ atau /knyht/ (bunyi frikatif velar di awal dan akhir).

Sementara itu, dalam bahasa Inggris Modern menjadi knight yang pelafalan menurut ejaan fonetisnya /naɪt/. Huruf “k” di awal kata merupakan silent letter (huruf mati yang tidak terbaca). Demikian pula dengan kombinasi bunyi ‘gh” yang tidak terucapkan. Di sini terjadi ablasi konsonan.

Misal lain, kata “menulis” dalam bahasa Inggris Kuno adalah wrītan yang pengucapan bunyi “w” terdengar sangat jelas. Sementara itu, dalam bahasa Inggris Modern, menjadi write yang bunyi “w” telah hilang atau mengalami ablasi. Tepatnya ablasi konsonan.

Bahasa Indonesia

Penggunaan terminologi “ablasi” boleh terbilang secara struktural murni, jarang tersentuh dalam penggunaan sebagai pembentuk kata atau penanda gramatika dalam bahasa Indonesia Modern. Meskipun demikian, dalam konteks keilmuan, terminologi ini mengalami penyerapan.

Terbukti, kata “ablasi” secara resmi telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bahkan, hingga Edisi VI Dalam Jaringan pun masih tetap dapat ditemui sebagai salah satu lema. Akan tetapi, dalam tradisi linguistik, seperti Morfologi, yang mempelajari bahasa Indonesia, terminologi “pelesapan” lebih mendapatkan tempat pemakaian daripada “ablasi”.

Meskipun demikian ada kemiripan pengertian antara ablasi dan pelesapan. Keduanya relevan untuk menjelaskan fenomena penghilangan satu atau beberapa morfem secara sengaja untuk efisiensi pengucapan. Praktik berbahasa seperti ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi, terutama dalam ragam lisan yang lebih ringkas, praktis, dan luwes.

Ablasi atau pelesapan dalam bahasa Indonesia terdiri atas tiga kategori utama. Bisa berupa pelesapan fonem (bunyi), atau penghilangan satu atau lebih huruf dalam satu kata. Misalnya penyingkatan kata “bagaimana” menjadi “gimana”, kata “karena” menjadi “karna”. Penghilangan huruf awal (aferesia), seperti “upacara” diucapkan “pacara”. Atau, penghilangan huruf di tengah: kata “baru” disampaikan “bru” atau “dahulu” dituturkan “dulu".

Ablasi atau pelesapan morfem bisa pula berupa penghilangan afiks, terutama prefiks. Seperti kata “mengubah” menjadi “ubah”; kata “mengambil” menjadi “ambil”. Bisa juga ablasi atau pelesapan itu terdiri atas satu atau beberapa kata dalam satu kalimat dalam tuturan lisan yang situasional (delesi).

Misalnya seorang penumpang kendaraan angkutan umum meminta sopir atau kernet untuk berhenti pada satu tempat tujuan (ini kisah di zaman sebelum ada Bus Rapid Transit/BRT atau Feeder). Lalu begini sang penumpang itu berkata, “Kiri, Bang!”. Kendatipun ucapan itu singkat, dalam situasi percakapan ini, sopir atau kernet dapat menerima pemahaman seperti dalam kalimat utuh, “Tolong menepi ke kiri, Bang!”.

Ablasi atau pelesapan itu juga dapat berupa elipsis. Satu kalimat yang terdiri atas dua klausa, pada bagian terakhir (jika verbanya sama) dapat dihilangkan. Kalau yang ini ada contoh pengalimatan dalam ragam tertulis. Misalnya ada dua klausa (kalimat): “Guruh menulis cerita pendek” dan “Sinta menulis puisi”.

Bila kedua klausa (kalimat) itu digabungkan dengan konjungsi “sedangkan”, maka kalimat majemuk yang dibentuk “Guruh menulis cerita pendek, sedangkan Sinta puisi”. Pembaca dengan beracu pada klausa pendahulunya, tentu tidak akan bingung dengan klausa elipsis “.., sedangkan Sinta puisi”. Pastilah pembaca akan dengan sendirinya mengisi antara subjek Sinta dan objek puisi, walaupun tidak tertulis eksplisit, dengan predikat “menulis” juga.

Fenomena yang mempunyai kemiripan dengan ablasi, juga relatif banyak muncul dalam bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Hal ini merupakan bagian dari evolusi bahasa atau perubahan bunyi antardialek. Fenomena ablasi atau pelesapan bunyi morfem secara historis terwadahi dengan zeroisasi. Bisa aferesis di awal kata. Bisa juga sinkop di tengah kata. Bisa apokop di akhir kata. Proses ini pada lazimnya pun untuk tujuan mengefisienkan pengucapan.

Untuk aferesis, penghilangan bunyi di awal, seperti kata bahasa Jawa menika (ini) menjadi nika. Atau kata aja (jangan) menjadi ja. Lalu sinkop, penghilangan bunyi di tengah, seperti kata bahasa Sunda dahar (makan) menjadi da’ar (ablasi bunyi “h”). Juga, kata bahasa Melayu bahawa secara lisan kerap terdengar bahwa (ablasi bunyi “a”).

Selebihnya apokop, penghilangan bunyi di akhir kata. Dari bahasa Minangkabau terdapat kata pai yang bermakna pergi, sering terucapkan menjadi pa. Atau, kata dalam bahasa Sasak, Lombok side yang merujuk pronomina orang kedua tunggal “kamu”, acapkali terdengar dengan ucapan sid. ***


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Maling Kambuhan di Jakbar Beraksi Lagi, Kini Curi Motor buat Beli Narkoba
• 1 jam laludetik.com
thumb
Makassar Siap Sambut 28 Negara di Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026 dengan Pengamanan Maksimal
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Gus Ipul adukan media Suara Merdeka ke Dewan Pers
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Kemenag Perkuat Satgas Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren: Harus Ada Pendekatan Komprehensif
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Geliat Ekonomi di PRJ 2026, Dari UMKM hingga Jasa Titip Sama-sama Cari Untung
• 8 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.