Bisnis.com, JAKARTA — MNC Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki momentum untuk melanjutkan tren penguatan jangka pendeknya pada perdagangan besok, Senin (21/6/2026).
Tim analis MNC Sekuritas, dalam risetnya, menjelaskan bahwa indeks komposit tercatat menguat 0,08% ke level 6.177 pada penutupan akhir pekan lalu dengan akumulasi penguatan mencapai 2,82% dalam sepekan.
“Saat ini posisi IHSG diperkirakan berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 3 dari wave (C), sehingga masih berpeluang menguat untuk menguji rentang 6.328—6.545,” tulis riset MNC Sekuritas, Minggu (21/6/2026).
Kendati demikian, investor diminta tetap mencermati potensi area koreksi terdekat pada rentang 6.127—6.161 apabila pergerakan indeks besok mengalami tekanan profit mengambil momentum jangka pendek.
Secara teknikal, MNC Sekuritas menetapkan area garis pertahanan indeks komposit bakal berada pada level support di 5.784 dan 5.594.
Sementara itu, untuk target jangka pendek, area batas atas atau resistance kuat indeks diproyeksikan berada pada rentang level 6.286 dan 6.459.
Baca Juga
- IHSG Berpeluang Rebound, BRI Danareksa: Saatnya Koleksi Saham Harga Diskon
- Prospek Arah Normalisasi IHSG di Siklus 8 usai Hasil Review MSCI
- IHSG Menguat 2,82% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.788 Triliun
Untuk perdagangan besok, beberapa saham direkomendasikan seperti strategi buy on weakness pada PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA)
MNC Sekuritas juga menyebutkan saham produsen rokok PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) masuk dalam radar acuan pasar dengan rekomendasi trading buy setelah sebelumnya mencatatkan lonjakan volume pembelian.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia disebut mulai memperlihatkan sinyal pemulihan setelah didera gelombang aksi jual atau sell-off paling masif dalam 18 tahun terakhir sejak krisis keuangan global yang terjadi pada 2008.
Analis PT Indo Premier Sekuritas Axel Azriel mengungkapkan bahwa IHSG berhasil bangkit 16,4% dalam sepekan terakhir, setelah sebelumnya sempat rontok hingga 38,2% sepanjang tahun berjalan.
Kejatuhan indeks sebelum fase pemulihan ini telah melampaui kedalaman koreksi saat pandemi Covid-19 yang tercatat sebesar 37%, sekaligus menjadi salah satu tekanan pasar terdalam dalam hampir dua dekade.
Meski demikian, Indo Premier Sekuritas mengingatkan bahwa momentum kebangkitan jangka pendek ini belum menjadi obat mujarab karena pengelolaan anggaran nasional saat ini menghadapi tantangan yang sangat ketat.
“Ini sebuah napas buatan, tetapi bukan obat mujarab. Kami menilai target defisit fiskal saat ini yang sebesar 2,7% sama sekali tidak menyisakan ruang bagi adanya kesalahan,” ucap Axel dalam riset terbarunya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




