Pemerintah akan menelusuri sejumlah hambatan yang dinilai memengaruhi penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking. Pada 2026, posisi Indonesia tercatat turun menjadi peringkat 48 dari sebelumnya 40.
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, Tim Debottlenecking akan mengidentifikasi kendala yang memengaruhi daya saing internasional.
“Nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kita ada persiapan untuk tim bottlenecking. Jadi kita akan lihat saja dari sana,” ujar Airlangga di kantornya, Kamis 25/6/2026).
Menurut Airlangga, salah satu faktor yang menjadi perhatian investor saat ini adalah sektor energi, terutama terkait stabilitas pasokan listrik. Keandalan energi dinilai menjadi infrastruktur dasar yang menentukan iklim investasi suatu negara.
“Sebetulnya daya saing per hari ini yang menjadi concern para investor itu energi, mengenai stabilisasi suplai listrik,” katanya.
Ia menjelaskan, ketersediaan energi yang stabil menjadi kebutuhan utama bagi berbagai sektor, mulai dari manufaktur, transportasi hingga jasa. Karena itu, aspek tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian iklim usaha dan investasi.
Meski demikian, Airlangga menilai Indonesia masih memiliki daya tarik tersendiri di mata investor karena memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Potensi tersebut dinilai menjadi salah satu modal untuk memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global.
“Ya tentu negara dianggap iklimnya baik kalau energi sebagai infrastruktur utama untuk apapun. Apakah itu untuk manufaktur, apakah itu untuk sektor transportasi, jasa. Nah, itu stabil. Makanya ada kriteria level satu sampai level empat. Nah, kebetulan Indonesia sedang diminati karena kita punya renewable energy (energi terbarukan),” katanya.
Pemerintah juga telah memperoleh sejumlah masukan dalam berbagai forum internasional, termasuk pembahasan sektoral dengan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan sejumlah negara mitra.
Dari evaluasi tersebut, ditemukan sejumlah isu yang perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan daya saing nasional.
“Nah, tentu kita akan pick and choose saja kalau yang masalah ini. Toh ini juga kemarin dalam review termasuk juga dengan sektoral di OECD maupun dengan berbagai negara lain. Nah, kita mendapatkan lah beberapa isu yang muncul. Nah, isunya enggak terlalu beda seperti ini,” ujar Airlangga.
Pemerintah berencana menggunakan hasil identifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan langkah perbaikan guna meningkatkan daya saing dan memperkuat iklim investasi di Indonesia.(lea/bil/ham)




